
" Bagaimana keadaanmu Nak...? Maaf gara-gara Ibu kamu harus mengalami seperti ini..." ucap Ibu Anjani seraya memegang bahu Rara.
"Alhamdulilah sudah baikan Bu, sudah Ibu jangan menyalahkan diri sendiri sudah menjadi tanggung jawab kita untuk saling tolong menolong..." ucap Rara dengan suara pelannya.
" Oya Nak, dimana suami kamu biar Ibu kabari dia tentang kondisi kamu..." ucap Ibu Anjani lembut.
" Maaf Ibu, saya sudah bercerai dengan suami saya sebulan yang lalu.. Memangnya ada apa dengan kondisi saya Bu...?" tanya Rara penasaran.
" Maaf Ra.. Tadi kami dari ruang Dokter memberitahukan bahwa kamu sekarang dalam kondisi hamil... Apa kamu nggak ada maksud untuk memberitahukannya...?" tanya Argani pada Rara.
" Maaf Pak... Saya nggak ingin menganggu kehidupan barunya lagi... Mantan saya sudah menikah sebulan yang lalu... Saya mohon jangan pernah memberitahukan keadaan saya pada mantan suami saya... Saya mohon Pak, Bu..." ucap Rara memohon dengan suara lemahnya.
" Tapi maaf Nak... Anak yang kamu kandung butuh sosok Ayahnya...? Apa kamu nggak kasihan nantinya...?" ucap Ibu Anjani halus.
__ADS_1
" Biarkan seperti ini dulu Bu, saya akan menjalaninya dengan kemampuan saya sendiri... Saya sudah siap menanggung resiko apa yang akan nanti saya terima.. Yang penting anak ini bukan anak haram dari hubungan terlarang..." ucap Rara menitikkan air matanya.
" Sudah Nak.. Jangan kamu pikirkan lagi... Biar kami yang merawat kamu selama kamu dirawat disini... Sekarang istirahatlah..." ucap Ibu Anjani seraya menghapus air mata Rara.
" Terima kasih Bu, Pak... Dan maaf Pak Argani saya ijin tidak masuk bekerja dulu.. " ucap Rara takut.
" Kamu tenang saja... Kamu boleh masuk kerja setelah keadaan kamu pulih... Kalau begitu istirahatlah, saya dan Ibu akan keluar makan siang sebentar... Apa kamu butuh sesuatu...?" tanya Argani seraya menatap Rara.
Kini Argani dan Ibunya pergi ke kantin untuk mencari makan mengisi perutnya. Sesampainya dikantin mereka memesan menu yang mereka inginkan. Setelah makanan datang mereka makan dengan santai tanpa mengobrol. Selesai makan, mereka menikmati minumannya seraya mengobrol ringan.
" Nak... Kasihan nasib Rara ya...? Kelihatannya dia perempuan yang baik dan dewasa..." ucap Ibu Anjani pada anaknya.
" Iya Bu... Memang kalau dilihat dia wanita biasa tapi tangguh..." ucap Argani seraya meminum minumannya.
__ADS_1
" Iya Nak... Kalau Ibu diposisinya, kemungkinan Ibu tidak akan pernah sanggup..." ucap Ibu Anjani seraya membayangkannya.
" Sudah jangan dibayangkan Ibu... Semua manusia sudah mempunyai takdir kehidupannya masing-masing, mungkin takdir kehidupan Rara harus seperti itu... Tuhan tidak akan pernah memberikan cobaan diluar batas kemampuan umatnya... Iya kan...?" ucap Argani seraya tersenyum kepada Ibunya.
" Kamu benar Nak... Rara pasti bisa melewatinya... Apabila dia membutuhkan sesuatu tolong jangan sungkan untuk membantunya ya Nak..? Ibu mohon..." ucap Ibu Argani seraya mengenggam tangan anaknya.
" Iya Ibu... Argani akan bantu semampu Argan ya...?" ucap Argani seraya mengusap bahu Ibunya.
" Iya Nak... Oya apa Ayahmu sudah tahu tentang kejadian ini...?" tanya Ibu Anjani pada putranya.
" Sudah Ibu... Tadi Argan pamit untuk melihat kondisi Rara... Tapi detail kejadiannya Ayah belum tahu..." ucap Argani serius.
" Yasudah biar nanti Ibu yang cerita pada Ayahmu.. Oya sekarang kamu akan balik ke kantor lagi atau masih ingin disini Nak...?" ucap Ibu pada Argani.
__ADS_1