
Sedangkan di dalam rumah, Rara segera menuju ke kamarnya bersama Argan.
" Biar Mas yang berkemas sayang, kamu duduklah ". ucap Argan sambil memegang pundak Rara.
" Biar Rara saja Mas, karena hanya beberapa yang akan Rara bawa ke rumah Mas, karena sesekali Rara ingin menginap disini juga " . ucap Rara menatap Argan serius.
" Baiklah, Mas tunggu disitu ya ? ". ucap Argan menunjuk kesofa dikamar Rara.
" Oke Mas ". ucap Rara tersenyum.
Rara segera memasukkan beberapa pakaian dan perlengkapan yang lainnya. Setelah selesai Rara menghampiri Argan duduk disampingnya.
" Sudah selesai sayang ? kok hanya sedikit yang kamu bawa Dek ? ". tanya Argan binggung sambil melihat tas yang Rara bawa.
" Kan hanya pakaian Rara dan keperluan yang lain Mas, jadi cuma sedikit, kenapa Mas kelihatan binggung seperti itu ? ". tanya Rara heran menatap Argan.
__ADS_1
" Lha perlengkapan Baby apa belum ada Dek ?". tanya Argan hati-hati.
" Belum Mas, orang jaman dulu jika ingin beli perlengakapan Baby harus nunggu usia kandungan sampai tujuh bulan dulu, baru bisa beli Mas ". ucap Rara antusias.
" Oya ? maaf Dek, Mas nggak paham tentang itu, sekarang usia kandungan kamu sudah berapa Dek ? ". ucap Argan sambil mengelus perut Rara lembut.
" Alhamdulilah sudah 7 bulan lebih beberapa hari Mas ". ucap Rara sambil menyandarkan kepalanya pada sofa.
" Bagaimana jika besok kita ke Klinik untuk USG setelah itu lanjut belanja keperluan Baby kita, apa kamu setuju Dek ? ". tanya Argan memandang Rara.
" Baiklah, tapi kamu harus hati-hati sayang, ajaklah Ibu untuk nemenin kamu periksa ya ? Biar Mas tenang kerjanya ". ucap Argan serius.
" Ya ampun Mas, Adek cuma periksa ke Rumah Sakit dekat rumahnya Mas Argan, sendiri juga nggak akan kenapa-napa, Rara akan aman Mas, percayalah ". ucap Rara meyakinkan Argan sambil mengenggam tangan Argan.
" Baiklah, Mas percaya padamu Dek, tapi Mas ingin kamu memakai ini ". ucap Argan sambil mengeluarkan sebuah kalung dari saku celananya.
__ADS_1
" Pakai ini, jangan pernah kamu lepaskan Dek, agar Mas bisa memantau kamu saat kamu tidak bersama Mas, mengerti ?" . ucap Argan serius.
" Rara mengerti Mas, terima kasih Mas sampai seperti ini dalam melindungi dan memperhatikan Rara ". ucap Rara terharu sambil memeluk Argan dari samping.
" Sudah kewajiban Mas, melindungi kalian berdua, kabari Mas selalu sayang ". ucap Argan menatap Rara penuh permohonan.
" Iya Mas, pasti ". ucap Rara mantab dan tersenyum.
" Kalau seperti itu, sekarang kita pulang ke rumah, biar kamu bisa istirahat sayang, ayo, biar Mas yang bawakan tasnya ". ucap Argan dengan tangan yang satu merangkul pundak Rara dan yang satunya menenteng tas Rara.
Argan dan Rara segera keluar dari rumah dan menguncinya. Tanpa mereka sadari sedari tadi Yudi membuntuti dan mencuri dengar apa saja yang mereka bicarakan. Terbit senyuman dari bibir Yudi karena terlintas rencana. Yudi pun membuntuti mobil Argan dengan jarak aman. Sesampainya di rumah Argan. Yudi berhenti dan menelpon seseorang.
" Tolong kamu buntuti Rara kemanapun dia pergi, kabarkan langsung kepadaku jika ada kesempatan terbaik, dan siapkan semuanya, kamu sudah paham intruksiku kan ?! ". ucap Yudi penuh ketegasan.
" Siap bos, semuanya sudah siap sesuai rencana, semoga berhasil bos ". ucap suruhan Yudi.
__ADS_1
" Rara, Rara, aku sudah tidak sabar lagi menunggu saat itu, semoga aku berhasil, karena aku yakin anak yang kau kandung bukan anak pria brengsek itu, tunggu sebentar lagi kebenaran itu akan terungkap, dan kamu akan menjadi milikku lagi, karena aku ingin sekali merasakan tidur kembali bersamamu walau hanya sebentar.. Raraku, tunggu kedatanganku.." .gumam Yudi penuh hasrat dan semangat.