
" Nggak ada Ra... Saya cuma mau tanya, apakah kamu sudah enakan...? Soalnya tadi Hani bilang kamu sedang tidak enak badan..?" tanya Pak Damar seraya menautkan jemari-jemarinya.
" Alhamdulilah sudah enakan Pak... Maaf jika hari ini saya bekerja tidak maksimal Pak... Sebagai konsekuensinya Bapak boleh memotong gaji saya..." ucap Rara memahami kesalahannya.
" Kamu itu ngomong apa Ra...? Apa saya ini terkenal atasan yang kejam..? Heemm?" tanya Pak Damar seraya tersenyum menatap Rara.
" Maaf, Bapak adalah atasan yang baik, cuma saya merasa sudah melakukan kesalahan, makanya saya berani berbicara seperti itu, maafkan saya jika perkataan saya lancang dan menyinggung perasaan Bapak..." ucap Rara menunduk takut.
" Nggak papa sudah saya maafkan... Oya Ra, kenalkan yang di depan saya ini adalah anak saya yang akan mengantikan saya disini untuk beberapa hari... Dia namanya Argani Pramudya Baskara kamu bisa panggil Pak Argani... Jadi setiap pagi kamu tetap seperti biasa membuatkan kopi, karena anak saya juga gemar minum kopi... " ucap Pak Damar tersenyum mengenalkan putranya pada Rara.
" Baik Pak... akan saya laksanakan perintah dan permintaan Bapak.. Salam kenal dari karyawan anda Pak Argani.. Nama saya Ammara Altafunisa.. Anda bisa memanggil saya Rara..." ucap Rara memperkenalkan diri dengan menunduk hormat.
__ADS_1
" Baiklah... Salam kenal kembali.." ucap Pak Argani datar.
" Yasudah.. Kamu sekarang bisa kembali bekerja Ra... Terima kasih..." ucap Pak Damar tersenyum.
" Sama-sama Pak.. Saya permisi., Assalamualaikum..." ucap Rara menunduk seraya keluar dari ruangan Pak Damar.
" Waalaikumsalam.." ucap Damar dan Argani bersama.
Rara pun segera turun menuju pantrynya. Disana Hani sudah menunggu dengan rasa khawatir karena diruangan Pak Damar terlalu lama. Rara pun menceritakan semuanya pada Hani. Hani merasa lega karena Rara tidak kena marah. Kini mereka kembali bekerja.
" Ayah, kenapa kopi bikinan Rara rasanya beda ya...? Apa Ayah juga merasakannya...?" tanya Argani menatap Ayahnya.
__ADS_1
" Memang beda Ar.. Makanya Ayah selalu minta Rara yang membuatkan kopi untuk Ayah... Coba kamu rasakan sama kopi yang disebelahnya.. Itu bikinan Hani..." ucap Pak Damar menunjuk cangkir sebelahnya.
Dengan menurut, Argani segera mencicipinya.
" Iya Ayah... Enak bikinan Rara...Yang ini terasa kopi mentah ya...?" tanya Argani menatap Ayahnya.
" Iya Nak.. Ternyata lidahmu seperti lidah Ayah.. Sama-sama pecinta kopi... Yasudah ini berkas yang harus kamu pelajari dan kerjakan... Ayah mau mengerjakan yang lain.." ucap Pak Damar pada putranya.
" Baik Yah..."
Tak terasa jam pulang pun sudah tiba. Rara segera bergegas menuju kendaraannya dan segera melajukan menuju rumahnya. Sesampainya dirumah, Rara segera membuka pintunya. Tanpa sengaja matanya melihat amplop coklat dilantai dalam. Rara segera mengambilnya seraya menutup pintunya.
__ADS_1
Rara berjalan menuju ruang tamu untuk duduk dan membuka amplopnya. Setelah amplop di buka terlihat nyata itu adalah surat resmi perceraiannya dengan suaminya dulu. Rara menghela nafasnya lalu menyimpannya di laci meja televisi.
Rara kini menuju kamarnya untuk mandi dan berganti pakaian. Selesai berpakaian, Rara berjalan menuju dapurnya guna memasak menu yang ada. Selesai berkutat di dapur, Rara segera menikmati makan malamnya dengan santai. Selesai makan Rara segera menunaikan sholat magrib dan isya. Setelah itu Rara langsung merebahkan tubuhnya di ranjang kecilnya, langsung terlelap dalam mimpinya.