Cinta Ammara

Cinta Ammara
Bab 7


__ADS_3

Hari berganti hari, minggu berganti minggu. Hingga kini genap satu bulan usia perceraian Rara dengan mantan suaminya.


Pagi ini Rara bangun dengan keadaan ceria. Dirinya segera mandi dan berpakaian rapi untuk bersiap berangkat bekerja. Tak lupa dirinya meluangkan waktu untuk sarapan. Selesai sarapan, Rara segera melajukan kendaraannya menuju tempat kerjanya.


Sesampainya di kantor, Rara segera absensi dan melakukan pekerjaannya seperti biasa. Rara kini menuju ruangan atasannya untuk mengantarkan minumannya. Rara pun mengetuk pintunya, setelah mendapat jawaban dari dalam Rara segera masuk.


" Assalamualaikum, selamat pagi Pak Argani... Ini kopinya, silahkan dinikmati..." ucap Rara ramah.


" Waalaikumsalam Ra, terima kasih..." ucap Argani datar.


" Sama-sama Pak.. Kalau begitu saya permisi untuk kembali bekerja..." ucap Rara menunduk hormat.


" Silahkan..." ucap Argani tegas.

__ADS_1


Rara segera kembali bekerja hingga jam istirahat datang. Rara dan Hani segera sholat di mushola kantor. Selesai sholat mereka sepakat makan siang diluar kantornya. Karena Rara ingin makan yang berkuah.


Sesampainya di warung Rara dan Hani segera memesan makanannya. Setelah pesanan datang, mereka dengan lahap memakannya. Selesai makan mereka mengobrol hingga pandangan Rara tertuju diseberang jalan. Ada seorang Ibu yang ditarik tas nya oleh preman. Spontan Rara menarik Hani.


" Kamu ada apa sich Ra...? Kamu asal tarik aja... Kita belum bayar Ra...?" ucap Hani heran.


" Kita tolong Ibu itu yang akan dijambret sama preman.. Kasihan..." ucap Rara setengah berlari.


" Kamu saja Ra yang kesana.. Aku takut.. Biar aku yang cari bantuan..." ucap Hani pada Rara.


" Kalian kalau berani jangan memangsa Ibu-ibu yang tak berdaya, jelas kamu yang akan menang.. Sini kalau memang kalian berani..." ucap Rara seraya memasang kuda-kuda.


" Kamu hanya cewek, nggak ada tandingannya sama kita... Iya nggak bro...?" ucap pemuda yang bertato.

__ADS_1


" Mending kamu jadi pacar kita saja... Kita akan menjamin kehidupanmu tercukupi Nona manis..." ucap pria yang bertubuh tegap dan bertindik.


" Dengan uang haram seperti ini...? Sorry aku nggak mau, aku lebih baik kelaparan dari pada mendapatkan nafkah dari kalian..." ucap Rara seraya menatap tajam.


" Sini sayang.. kemarilah..." ucap pria itu mendekat kearah Rara dan menjawil dagunya.


" Kurang ajar... Rasakan ini dasar pria kurang ajar tak berperikemanusiaan..." ucap Rara seraya melayangkan pukulannya.


Preman yang lainnya pun tak tinggal diam, langsung menghajar balik Rara, mereka terkapar kena tendangan Rara, tinggal ketua preman itu yang kini melawan Rara. Karena Rara sudah lelah akhirnya Rara lengah pisau pun menusuk ke lengan Rara. Hingga Rara terjatuh tak sadarkan diri. Barulah pertolongan datang. Dengan cepat warga mengamankan preman tersebut. Sedangkan Hani menghampiri Rara yang tak sadarkan diri.


" Rara.. bangun Ra... Jangan bikin aku khawatir seperti ini.. Kamu terlalu berani Ra hingga kamu terluka seperti ini.. Tolong..." teriak Heni histeris.


" Ayo kita bawa ke Rumah Sakit Nak... Ibu bawa mobil.. Pak tolong bantu angkat ya...?" pinta Ibu itu pada orang sekitar.

__ADS_1


Kini Ibu itu melajukan kendaraannya menuju Rumah Sakit Kasih Bunda, sesampainya disana Rara langsung dibawa ke ruang IGD karena celana Rara mengeluarkan darah. Sedangkan Hani meminta Ibu itu untuk menunggunya karena dirinya harus kembali ke kantor untuk meminta ijin langsung pada atasan mereka tentang keadaan Rara.


__ADS_2