Cinta Ammara

Cinta Ammara
Bab 41


__ADS_3

Sesampainya di balkon, Rara berjalan lebih dulu dan memandang gedung yang ada dibawah sana dengan takjub.


" Apa kamu senang sayang..?" ucap Argan seraya memeluk Rara dari belakang.


" Eenggghh... " lengguh Rara kaget.


" Kenapa sayang..?" tanya Argan penasaran mendengar lengguhan Rara yang membuatnya panas dingin.


" Enggak papa Mas, Rara hanya kaget karena Mas meluk Rara dari belakang..." ucap Rara malu.


" Apa kamu suka dan nyaman...?" tanya Argan meletakkan dagunya dipundak Rara sambil mengelus perut Rara.


" Iya Mas..." ucap Rara tersenyum malu.


" Mas juga sangat nyaman dengan posisi yang seperti ini.. membuat Mas nggak sabar ingin segera menikahimu... cepatlah lahir nak, papa menantimu..." ucap Argan tulus.


" Eemmm... Mas Argan kita keluar yuk...? takut Ayah curiga dengan kita yang tutup pintu terlalu lama... dikiranya ngapa-ngapain.." ucap Rara gugup.


" Maksudnya ngapa-ngapain gimana sayang...?" ucap Argan tersenyum jail.

__ADS_1


" Enggak jadi Mas..." ucap Rara malu.


" Kamu kalau malu seperti itu rasanya Mas ingin mencium pipimu yang merah merona dan cubby itu sayang..." ucap Argan gemas.


" Mas sich sukanya selalu menggoda Rara..." ucap Rara cemberut.


" Tapi kamu suka digoda Mas kan...? hayo ngaku...?" ucap Argan mengedipkan sebelah matanya.


" Mas Argan sok tahu banget sich..." ucap Rara sambil mencubit pinggang Argan.


" Aauuuww sakit sayang..." ucap Argan meringgis pura-pura sakit.


" Bantu Mas membereskan berkas ini ya sayang...? Kamu duduklah dulu, Mas buka pintunya biar Ayah dan yang lainnya nggak curiga..." ucap Argan menuntun Rara di sofa.


" Eemmm baiklah, terimakasih Mas..." ucap Rara tersenyum.


Kini Argan membuka pintunya dan menenggok kearah ruangan Ayahnya. Dirasa aman, Argan kembali masuk ke ruangannya tanpa menutup pintunya.


Argan pun berjalan dan duduk didepan Rara. Arganpun segera mengerjakan pekerjaannya sambil melihat kearah Rara.

__ADS_1


Satu jam berlalu kini pekerjaan Rara telah usai, sedangkan Argan masih berkutat dengan laptopnya serius. Rara pun berjalan bermaksud untuk menepuk bahu Argan, tapi tak disangka Argan menariknya hingga terduduk dipangkuannya. Rara yang kaget reflek mengalungkan tangannya dileher Argan hingga membuat jaraknya begitu dekat. Sedangkan Argan merasakan sesak diatas dan bawahnya karena memandang Rara dengan begitu dekat, hingga kurang sedikit saja bibir Rara sudah menempel ke bibirnya.


Rara yang sadar akan posisinya ingin langsung berdiri tapi sayangnya ditahan oleh Argan, dengan merengkuh pinggang Rara posesif.


" Mas Argan lepasin Rara dunk, malu ntar kalau ada yang lihat..." ucap Rara menunduk malu.


" Sebentar saja sayang, Mas baru menikmatinya..." ucap Argan tersenyum lembut.


" Tapi nggak enak juga Mas kalau ada yang tahu dan lihat, ini terlalu intim..." ucap Rara gugup.


" Biarin, sini rasakan detak jantung Mas sayang..." ucap Argan sambil menempelkan kepala Rara di dada bidangnya.


" Mas Argan sakit ya...? kenapa detak jantungnya kencang banget... Kayak nggak normal gitu Mas..." ucap Rara khawatir sambil menatap Argan intens.


" Mas nggak sakit apapun Dek, Mas nahan sesuatu jika sedang berduaan denganmu seperti ini... Apa kamu merasakan sesuatu yang bereaksi dibawah sana...?" ucap Argan serak sambil melirik ke bawah.


Sedangkan Rara yang penasaran mengikuti arah pandang Argan. Setelah Rara tahu maksudnya, dirinya langsung berteriak.


" Ihh... Mas Argan mesum...." ucap Rara sambil memukul dada Argan.

__ADS_1


__ADS_2