Cinta Ammara

Cinta Ammara
Bab 25


__ADS_3

Pagi harinya Rara bangun lebih awal untuk melakukan aktifitasnya seperti biasanya. Selesai dengan aktifitasnya, Rara segera bersiap untuk berangkat bekerja seperti biasanya.


Kini Rara mulai mengeluarkan motornya ke halaman rumahnya, lalu dirinya mengunci pintu rumahnya. Ketika Rara ingin mengendarai motornya, Yudi datang dengan mengendarai mobilnya dan terparkir didepan motor Rara. Mau tidak mau Rara memperhatikan siapa yang datang dengan masih duduk di motornya.


Kini muncullah Yudi dengan setelan baju kantor dan berjas. Rara hanya memperhatikan saja seraya waspada.


" Pagi Ra... Kamu mau kemana...?" tanya Yudi seraya berjalan mendekati Rara.


" Saya mau berangkat bekerja, kenapa pagi-pagi datang kemari...? Apa ada yang penting...?" tanya Rara tegas.


" Aku hanya ingin mengantar kamu berangkat bekerja Ra.. Apa nggak boleh...?" tanya Yudi dengan wajah memelas.


" Maaf Mas, saya bisa berangkat sendiri, dan lebih baik Mas segera pergi dari sini.. Karena saya nggak mau ada tetangga yang melihat kita dan akan menimbulkan fitnah.. Apalagi kita sudah bukan siapa-siapa lagi.. Jadi aku mohon jagalah jarak..." ucap Rara seraya menatap tajam Yudi.

__ADS_1


" Kenapa setelah kita berpisah, kamu menjadi pribadi yang tegas Ra...? Aku hanya ingin mengantar kamu bekerja, aku tidak tega melihat kamu menyetir sendiri dalam keadaan hamil seperti itu... Apa aku salah jika perhatian padamu Ra..?" ucap Yudi dalam nada melemah.


" Jelas sangat sangat salah Mas... Ingat kamu sudah beristri dan kita sudah bercerai.. Jika kamu ingin mencurahkan perhatianmu itu, tolong kamu curahkan ke istrimu Mas.. Karena aku nggak mau dianggap pelakor atau merusak rumah tangga orang... Berhentilah mengangguku Mas.. Aku sudah mempunyai kdhidupan sendiri..." ucap Rara seraya menahan air matanya.


" Andaikan aku tidak keburu menceraikanmu waktu itu.. Pasti aku akan jadi lelaki yang beruntung bisa menemanimu disaat kamu hamil seperti ini Ra.." ucap Yudi menunduk sendu.


" Sudahlah Mas yang lalu biarlah berlalu, ibarat nasi sudah menjadi bubur.. Tidak perlu disesali.. Aku permisi berangkat bekerja dulu Mas.. Mohon kamu minggirlah.." ucap Rara berusaha tenang.


" Baiklah.. Aku tunggu kejujuranmu tentang bayi yang sedang kamu kandung itu Ra... Karena aku merasa sangat yakin jika itu darah dagingku.." ucap Yudi mantab.


" Assalammualaikum Pak.. " ucap Rara dibalik pintu.


" Waalaikumsalam, langsung masuk saja Ra..." ucap Argan dari dalam.

__ADS_1


" Ini Pak kopinya, silahkan diminum... Lhoh Pak Damar disini juga...? Bapak ingin dibuatkan minum apa...?" tanya Rara seraya meletakkan minuman dimeja Argan.


" Kayak Argan saja Nak, tapi minta pakai gelas jumbo ya...? Karena seharian ini saya akan ada disini..." ucap Pak Damar tersenyum.


" Baiklah Pak, tunggu sebentar, akan Rara buatkan... permisi..." ucap Rara seraya menunduk hormat.


Kini Rara segera turun menuju pantry. Sesampainya di pantry Rara segera membuat minumannya. Sedangkan Hani yang sedang disana menengur Rara.


" Kok buat kopi lagi untuk siapa Ra...?" tanya Hani penasaran.


" Buat Pak Damar Han, beliau ada disini..." ucap Rara tersenyum.


" Owgitu... Tapi sebentar Ra, kok wajahmu terlihat pucat...? Kamu sedang sakit ya...?" tanya Hani seraya memperhatikan wajah Rara.

__ADS_1


" Nggak Han, aku nggak papa, aku merasa nggak sakit apa-apa... mungkin karena aku nggak pakai make up jadi terlihat pucat gitu..." ucap Rara seraya bersikap biasa.


__ADS_2