
" Kenapa harus binggung Nak..? Ayah tidak akan pernah menyinggungmu tentang kehamilanmu ini.. Ayah akan menerimanya sebagai cucu Ayah... Kalau memang kamu nyaman dan menerima Argan... Setelah kelahirannya Ayah akan mengurus pernikahan kalian, ya walaupun hanya sederhana..." ucap Pak Damar tersenyum.
" Tuch Dek, Ayah sudah menerima dan memberi lampu hijau pada kita.. Mas mohon janganlah ragu lagi... Sekarang kita jalani dulu ya...?" ucap Argan seraya mengenggam tangan Rara dan menatapnya dalam.
" Iya Mas, tapi gimana dengan Ibu...?" tanya Rara sambil melihat ke arah Argan.
" Biar Mas yang bicara sama Ibu nanti... Percayalah semua akan baik-baik saja..." ucap Argan menatap Rara dalam dan tersenyum.
" Baiklah Mas, terimakasih ..." ucap Rara tersenyum.
" Berarti intinya sekarang kalian sudah menjadi pasangan kekasih begitu...? Oohh.. kenapa Ayah merasa seperti obat nyamuk buat kalian...? Tega sekali..." cebik Pak Damar pura-pura jengkel.
" Maaf bukan seperi itu Pak..." ucap Rara cepat.
" Nggak masalah Nak, Ayah cuma bercanda... Sekarang Ayah meminta kepada kalian berpacaranlah yang sehat jangan sampai melebihi batas.. Terutama kamu Ar.. Paham...?" ucap Pak Damar menatap Argan serius.
" Pasti Ayah... Argan akan selalu memenuhi nasehat Ayah... terimakasih Yah..." ucap Argan mengangguk dan tersenyum.
__ADS_1
"Oke... " ucap Pak Damar singkat.
" Maaf Yah, Mas kalau begitu Rara permisi kembali bekerja, takut pada dicariin..." ucap Rara berdiri sambil menunduk.
" Baiklah Nak, kembalilah bekerja tapi tetap jaga kondisimu jangan dipaksakan... " ucap Pak Damar tersenyum.
" Baik Yah... Rara kembali bekerja lagi ya Mas... Assalamualaikum..." pamit Rara pada Argan.
" Jangan capek-capek sayang... Waalaikumsalam..." ucap Argan tersenyum mengacak rambut Rara gemas.
Rara pun tersenyum dan berlalu menuju pantry. Disana Hani sudah menunggu, khawatir jika terjadi apa-apa lagi pada Rara. Karena Rara perginya begitu lama. Sesampainya dipantry.
" Aku nggak papa Han, kamu santai saja dan terimakasih kamu sudah mengkhawatirkan keadaanku... Sini aku bantuin packingnya..." ucap Rara tersenyum dan menghampiri Hani.
" Sudahlah Ra, kamu mending istirahat saja, aku nggak tega ngelihatnya.. kamu kesusahan gitu duduknya..." ucap Hani Iba.
" Nggak papa Han, bumil memang harus banyak aktifitasnya biar babynya sehat dan persalinannya lancar..." ucap Rara sambil bekerja.
__ADS_1
" Tapi juga jangan terlalu aktifitasnya Ra... Oya ngomong-ngomong ini sudah berapa bulan Ra.. kelihatan udah besar banget..." ucap Hani sambil mengelus perut Rara.
" Iya-iya bawel banget kamu Han... Ini kandunganku dah jalan 7 bulan Han, nggak terasa ya...? padahal kayaknya baru kemarin aku pisahnya... ini sudah jalan 7 bulan..." ucap Rara sambil melamun.
" Sudah nggak usah diinget... Ra aku tinggal ambil minum dulu ya...? Kamu mau sekalian diambilim nggak...?" tanya Hani menoleh kearah Rara.
" Sekalian ya Han... udah mager males bangun... hehe..." ucap Rara cengengesan.
Hani pun segera mengambil air minum untuknya dan untuk Rara dimeja. Tak sengaja handphone Rara bunyi, Hani pun berteriak memanggil Rara.
" Ra... Handphonemu bunyi.. kayaknya ada yang telp, mau kamu angkat nggak...?" ucap Hani sambil teriak.
" Ambilkan sekalian ya Han..." ucap Rara setengah berteriak.
" Nie Ra handphone dan minumannya... " ucap Hani seraya memberikannya pada Rara.
" Makasih Han..." ucap Rara seraya membuka handphonenya.
__ADS_1
" Sama-sama... Memangnya siapa yang telp Ra...?" tanya Hani penasaran.
" Nggak tahu Han... Nomor baru ini... mungkin orang iseng jadi biarin saja lah..." ucap Rara cuek.