
Di sebuah apartemen mewah seorang wanita muda nan cantik, tengah mengemasi semua barang-barang mewahnya.
"Apa kau yakin ingin pulang sekarang Bi?" tanya Carla, yang duduk di tempat tidur.
"Ya, aku yakin," jawab Bintang dengan terus mengemasi semua barang-barangnya.
Bintang Erlangga berusia 20 tahun, anak dari pengusaha kaya-raya di Indonesia. Kemarin baru saja Bintang menyelesaikan pendidikan S2-nya di Paris dan hari ini ia akan kembali ke Indonesia, karena dirinya ingin bertemu dengan Vano teman masa kecilnya yang tinggal di daerah kakeknya.
Bintang selalu bermimpi untuk mendapatkan cinta Vano, teman masa kecilnya yang namanya selalu abadi di dalam hatinya. Meskipun ia sudah 12 tahun tidak bertemu dengannya.
"Apa kamu ingin pulan ke indonesia, karena pria yang ada di masa kecilmu itu?" tanya Carla dengan curiga.
"Ya, hanya dialah tujuan hidupku!" jawab Bintang, dengan serius.
"Segitu cintakah kau dengannya? Sehingga kamu mengabaikan semua pria yang ingin mendekatimu?"
"Ya, kau benar! Aku memang sangat mencintainya dan aku berharap dia belum mempunyai seorang kekasih."
"Jika dia sudah mempunyai kekasih, apa yang akan kamu lakukan?" tanya Carla dengan memicingkan matanya.
"Aku tidak tau, tapi yang jelas, aku tidak akan menyerah untuk meraih keinginanku meski itu sulit," jawab Bintang, dengan menatap Carla.
Mendengar jawaban Bintang, Carla hanya diam, tidak lagi mengatakan apapun.
'Semoga kamu benar-benar mencintainya dan bukan sebuah obsesi untuk bisa memilikinya,' batin Carla.
"Carla, kapan kamu akan kembali ke Belanda?" tanya Bintang dengan menatap Carla.
"Aku malas kembali ke negaraku," jawab Carla dengan tidak bersemangat saat membicarakan negara asalnya.
"Kenapa kamu malas kembali ke negaramu? Apa kau tidak merindukan keluargamu?" tanya Bintang dengan heran.
"Tentu saja aku merindukan mereka, tapi aku tidak ingin dijodohkan oleh Daddy dan Mommy," lirih Carla.
"Ini bukan jamannya Siti Nurbaya, Carla," ucap Bintang dengan terkekeh.
"Ya … begitulah orang tuaku," jawab Carla tidak bersemangat.
"Sabar, Ca," ucap Bintang dengan menepuk pundak Carla.
"Ah, sudahlah, tidak perlu membahas itu. Sekarang bagaimana kalau kita jalan-jalan dulu sebelum kamu pulang ke Indonesia?" ajak Carla.
"Boleh juga!" jawab Bintang tersenyum.
"Oke, aku mandi dulu!" ucap Carla kemudian turun dari tempat tidur.
"Ya, mandilah nanti gantian," jawab Bintang sambil menutup kopernya.
Carla berjalan menuju kamar mandi dan masuk ke dalam, membersihkan tubuhnya.
Hanya butuh waktu lima belas menit untuk Carla dapat menyelesaikan mandinya, setelah itu ia keluar hanya dengan menggunakan jubah mandi.
__ADS_1
"Mandilah Bi, aku sudah selesai!" perintah Carla sambil mengambil pakaian di dalam lemari.
"Iya," jawab Bintang dengan singkat.
Bintang masuk dalam kamar mandi dan berendam dalam bak mandi sambil membayangkan tanpanya wajah Vano yang telah lama tidak ia temui.
Setelah tiga puluh menit, Bintang baru keluar dari kamar mandi dan segera mengganti pakaiannya dengan baju casual.
"Apa kau sudah siap?" tanya Carla, setelah ia melihat Bintang sudah rapi.
"Sudah, ayo kita berangkat," ajak Bintang dengan menggandeng tangan Carla.
"Ya, ayo."
Mereka berdua keluar dari apartemen berjalan menuju taman kota yang ada di Paris.
"Ca, lihatlah itu. Kita beli es krim, yuk," ajak Bintang sambil menunjuk kedai es krim.
"Boleh," jawab Carla dengan menganggukkan kepalanya.
Bintang dan Carla melangkah menuju kedai es krim yang tidak jauh dari taman kota. Ia memesan dua gelas es krim.
Setelah memesan es krim, Bintang dan Carla di bangku yang ada es krimnya. Tidak lama kemudian, es krim yang dipesan Bintang telah disajikan.
Mereka berdua menikmati es krim sambil bercanda ria penuh tawa.
"Huh, aku kenyang!" ucap Carla dengan mendarat punggungnya di kursi.
"Ya sudah, ayo kita pulang," ajak Bintang.
Setelah membayar es krim, mereka berdua kembali ke apartemen.
Sesampainya di apartemen, Bintang melihat Bayu, asisten pribadi ayahnya sudah duduk di ruang tamu.
"Loh, Om Bayu kok sudah ada di sini? Katanya nanti malam?" tanya Bintang dengan mengerutkan keningnya.
"Om, memang sengaja datang siang supaya besok pagi kita sudah sampai di Indonesia, karena Om akan keluar kota," jelas Bayu.
"Baiklah, Om! Tunggu sebentar, aku akan mengambil koper dulu!"
"Ya," jawab Bayu singkat sambil menganggukkan kepalanya.
Bintang masuk ke dalam kamar mengambil kopernya, sedangkan Carla masih diruang tamu bersama Bayu.
"Apa, Om mau minum kopi dulu?" tanya Carla menawarkan kopi pada Bayu.
"Tiduk!"
Bintang keluar menghampiri Bayu dengan membawa dua koper besar.
"Om, ayo kita berangkat!" ajak Bintang.
__ADS_1
"Sini, biar Om yang akan membawakan kopernya," pinta Bayu berdiri dari duduknya.
"Terima kasih, Om!" ucap Bintang tersenyum.
"Sama-sama!"
"Carla, aku pulang dulu," pamit Bintang kemudian ia memeluk sahabatnya itu.
"Iya Bintang, aku pasti akan merindukanmu," lirih Carla.
"Kamu jangan sedih, Carla! Kalau nanti kamu merindukan aku, bermainlah ke Indonesia," ucap Bintang mengusap-usap punggung Carla.
"Ya."
Bintang melepaskan pelukannya, kemudian ia pergi meninggalkan Carla seorang diri di apartemen.
Kini Bintang dan Bayu sudah ada di pesawat pribadi milik keluarganya yang baru saja dibeli satu tahun lalu.
Sekarang pesawat pun mulai lepas landas menuju kota Jakarta.
"Om, aku akan buatkan kopi untukmu sebentar!" ucap Bintang berdiri dari duduknya.
"Tidak usah Bi, lebih baik kamu istirahat saja. Perjalanan kita masih jauh."
"Baiklah, Om!" jawab Bintang mengangguk.
Bintang berdiri dari duduknya, kemudian ia masuk ke dalam kamar yang ada di dalam pesawat tersebut. Sesampainya di dalam, ia merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur kemudian ia memejamkan matanya membayangkan bagaimana tampannya Vano.
Sudah satu jam lamanya Bintang memejamkan matanya, namun ia sama sekali tidak tidur, karena otaknya selalu tertuju pada pria yang bernama Vano.
Bintang membuka matanya bangun dan bersandar di tempat tidur. Kemudian ia meraih ponselnya dan mengotak-atik ponselnya.
"Ah, aku ingin melihatnya melalui sosial media, tapi aku tidak tau apa nama Vano dalam sosial media," gumam Bintang dengan mencebikkan bibirnya, kemudian ia meletakkan ponselnya begitu saja di sembarang tempat.
Cukup lama Bintang terdiam hingga ia merasakan perutnya mulai keroncongan minta diisi.
Bintang turun dari tempat tidur. Melangkah keluar menghampiri Bayu yang memejamkan matanya di tempat duduknya sambil bersedekap dada.
"Om …," panggil Bintang menepuk-nepuk lengan Bayu.
"Ya Bintang! Ada apa?" tanya Bayu dengan membuka matanya, kemudian ia memandang Bintang.
"Aku lapar, Om. Kita makan yuk," ajak Bintang.
"Oke, ayo kita makan!" Bayu berdiri dari duduknya.
Mereka berdua menuju meja makan yang tidak jauh dari tempat duduk Bayu tadi.
Setelah pramugari menyajikan makanan Bintang dan Bayu mulai memakan makanannya dengan dengan diam.
Usai makan, Bintang bersantai sambil menonton acara TV, sedangkan Bayu sibuk mengerjakan pekerjaannya melalui ponsel pintarnya.
__ADS_1
_____
Bersambung…