Cinta Bintang

Cinta Bintang
pernikahan yang Dibatalkan


__ADS_3

"Ini tidak bisa dibiarkan saja, Van! Aku harus bicara dengan kedua orang tua Havivah!" 


"Ayah, bagaimana kalau orang tua Havivah tidak mengetahui jika putrinya   melakukan hal yang tidak pantas itu di depan umum?" tanya Salma pada Harun.


"Maka dari itulah, kita bicarakan ini di rumah Havivah."


"Ya sudah, Ayah ganti baju lah dulu, aku akan membersihkan serpihan kaca ini dulu!" 


"Ya!" jawab Harun menganggukkan kepalanya.


"Van, kamu istirahatlah dulu tenangkan hati dan pikiranmu," tutur Salma dengan mengusap lembut punggung Vano.


Vano mengangguk, berdiri dari duduknya berjalan naik ke atas tempat tidur dan menyandarkan tubuhnya di sana.


Setelah Vano duduk di tempat tidur, Salma segera membereskan serpihan kaca. Usai itu semua ia keluar dari kamar putranya dengan membawa serpihan kaca dan membuangnya di tempat sampah.


Kini Salma menghampiri Harun yang masih berada di kamar.


"Apa Ayah sudah siap?" tanya Salma sambil mengambil pakaian ganti.


"Sudah dan cepatlah berganti pakaian!" jawab harun sambil mengambil ponselnya.


"Ya!" 


Salma segera masuk ke dalam kamar mandi dan mengganti pakaiannya dengan cepat. Tak selang lama, ia kembali keluar dengan pakaian yang sudah rapi. Setelah itu ia sedikit merias wajahnya juga merapikan rambutnya.


"Cepatlah sedikit, Bu! Nanti keburu sore!" 


"Aku sudah siap, Ayah!" 


"Ayo kita berangkat!" ajak Harun.


Salma mengangguk, kemudian ia memegang lengan Harun. Mereka berdua keluar dari kamar.


"Ayah!" panggil Vano dari belakang, setelah mereka berdua sampai di ruang tamu.


"Iya Vano! Ada apa?" tanya Harun, menoleh ke belakang.


"Aku ikut!" 


"Oke! Kamu boleh ikut, tapi harus bisa jaga emosi!" 


"Ayah tenang saja, aku tidak akan membuat keluarga kita malu!" 


"Sekarang ayo kita berangkat!" ajak Harun.


Mereka bertiga berangkat menuju rumah Havivah dengan mengendarai motor.


Sesampainya di rumah Havivah, Harun segera mengetuk pintunya. 

__ADS_1


Cklek


Pintu terbuka dan tampaklah Maya dari balik pintu.


"Eh, Pak Harun dan Bu Salma, ayo masuk," ajak Maya dengan begitu ramah.


"Terima kasih, Bu Maya. Apa pak Hamit-nya ada di rumah?" tanya Harun pada Maya.


"Ada Pak, duduklah dulu, saya akan memanggilnya!" 


"Baik, Bu!" jawab Salma dan Harun secara bersamaan, sedangkan Vano hanya diam mendengarkan mereka berbicara.


Setelah mereka bertiga duduk, barulah Maya meninggalkan mereka memanggil Hamit yang ada di kamar.


Maya membuka pintu kamarnya dan menghampir Hamit yang tengah duduk bersandar di tempat tidur.


"Mas, diluar ada Vano dan keluarganya yang ingin bertemu denganmu." 


"Ya, ayo kita temui mereka," ajak Hamit, sambil turun dari tempat tidur.


Mereka berdua keluar dari kamar melangkah menuju ruang tamu menemui Vano dan keluarganya.


"Pak Harun, tumben kesini tidak memberitahu kami?" ucap Hamit tersenyum, setelah ia sampai di ruang tamu.


"Maaf, jika kami datang kemari tidak memberi tahu pada Bapak terlebih dahulu, karena ini sangat mendadak!"


"Memangnya ada apa?" tanya Hamit sambil duduk sedangkan Maya pergi ke dapur membuatkan minuman untuk mereka.


"Maksud Pak Harun apa?" 


"Tadi Vano melihat Havivah bermesraan dengan Sam dan meminta putus dari Vano, jika Bapak tidak percaya silahkan tanya pada Havivah," ucap Harun dengan begitu serius.


Pembicaraan mereka terputus saat Maya membawakan minuman untuk mereka.


"Silahkan diminum Pak, Bu, Nak Vano."


"Terima kasih, Bu Maya!" jawab Harun dan Salma secara bersamaan, sedangkan Vano hanya mengangguk.


"Bu, panggil Havivah kemari!" perintah Hamit.


"Baik, Mas!" 


Maya kembali masuk ke dalam memanggil Havivah dan tak lama kemudian, ia keluar bersama dengan putrinya.


"Apa Ayah memanggilku?" 


"Ya, duduklah!" perintah Hamit.


"Baik, Ayah!" jawab Havivah sambil duduk di samping Maya.

__ADS_1


"Hav, apa benar kamu tadi bermesraan dengan, Sam?" 


Havivah tidak menjawabnya dan hanya menganggukkan kepalanya.


"Kenapa kamu melakukan itu?" tanya Hamit.


"Aku sudah tidak mencintai Mas Vano lagi dan sekarang aku mencintai Sam!"


"Kenapa kemarin kamu menerima ajakan Vano untuk menikah jika kau tidak lagi mencintainya?" ucap Harun dengan gusar.


"Maaf, Om!" 


"Kamu pikir hanya dengan permintaan maaf semua akan selesai?" kesal Harun.


"Sudahlah, Pak Harun, jika memang putriku ini sudah tidak lagi mencintai putramu, ya sudah kita batalkan saja pernikahan ini!" 


"Beberapa hari lagi mereka akan menikah dan semuanya sudah siap, bahkan undangan pun sudah disebar! Sekarang Bapak seenaknya sendiri membatalkan semuanya! Mau ditaruh mana muka ini jika pernikahannya batal?" Harun begitu emosi mendengar perkataan Hamit.


"Bapak pikir saya tidak malu? Saya juga malu Pak, tapi pernikahan tidak bisa dipaksakan, karena jika dipaksakan semua akan hancur dan rumah tangga mereka akan berantakan! Bapak tenang saja saya akan Mengganti semua biaya yang sudah dikeluarkan," ucap Hamit dengan entengnya.


"Jangan mentang-mentang jadi kepala desa lalu bapak seenaknya saja melakukan ini pada kami! Saya tidak akan meminta ganti rugi atas biaya pernikahan yang sudah kami keluarkan!" 


Kali ini Harun benar-benar dibuat emosi dan merasa dipermalukan oleh orang tua Havivah.


"Ayah, lebih baik kita pulang saja percuma kita bicara dengan mereka, jika dia sudah tidak ingin lagi melanjutkan pernikahan ini!" 


Hati Vano begitu sakit mendengar keputusan orang tua Havivah. Mereka tidak menasehati anaknya malah justru mendukungnya untuk membatalkan pernikahan ini. Ia begitu marah saat orang tuanya di perlakukan seperti ini oleh keluarga Havivah.


"Ya, percuma saja kita bicara jika mereka tidak menginginkan pernikahan ini terjadi!" 


Harun berdiri dari duduknya dan melangkah keluar tanpa berpamitan pada Hamit, karena sangking marah dan kecewanya dengan keluarga mereka.


Sesampainya di rumah Vano segera masuk ke kamar dengan perasaan dan hati yang kecewa. Kini dalam sekejap semuanya telah hancur. Mimpi untuk menjalankan rumah tangga yang bahagia bersama orang yang dicintai musnah sudah.


Salma yang merasa khawatir dengan valno langsung menghampirinya di kamar. Ia takut putranya itu akan kembali mengamuk setelah semua rencana pernikahan yang sudah di depan mata hancur begitu saja. 


"Sudah Van, jangan bersedih. Masih banyak wanita lain yang lebih baik dari Havivah. Kamu harus bisa melupakannya!" ucap Salma dengan membelai lembut kepala Vano.


"Maafkan aku yang sudah membuat keluarga kita dipermalukan seperti ini!" ucap Vano dengan memeluk Salma.


"Kamu tidak perlu meminta maaf, kami sama sekali tidak menyalahkanmu dan sekarang yang sudah terjadi biarkanlah terjadi."


"Tapi keluarga kita pasti akan malu, karena tiba-tiba pernikahan ini batal, Bu!" 


"Sudah, jangan dipikirkan itu biar menjadi urusan kami." Salma tahu putranya itu kini tengah terluka dan patah hati, karena dicampakkan oleh orang yang dicintai begitu saja.


Vano terdiam namun di dalam hatinya ia begitu membenci Havivah dan keluarganya yang sudah melukai hatinya dan kedua orang tuanya.


___

__ADS_1


"Bersambung...


__ADS_2