
"Iya, Kek," jawab Bintang tersenyum mengambil paper bag yang ada di meja.
Bintang keluar dari rumah berjalan menuju rumah Vano. Kali ini ia akan lebih keras lagi untuk bisa meraih cinta Vano.
Sesampainya di depan rumah Vano, Bintang segera mengetuk pintu.
Tok, tok, tok.
Cklek.
Pintu terbuka dan nampak lah Harun dengan tersenyum.
"Sore, Pak," sapa Bintang juga tersenyum.
"Sore juga! Ayo masuklah, Bi!" ajak Harun.
"Terima kasih Pak, saya kemari hanya untuk mengantar kue ini." Bintang memberikan paper bag pada Harun.
"Wah, terima kasih, Nak."
Harun segera menerima paper bag yang diberi oleh Bintang.
"Sama-sama, Pak, tapi kemana Kak Vano? Kok tidak kelihatan?" tanya Bintang yang tidak melihat keberadaan Vano di sekitar teras.
"Tuh, dia lagi ngelamun!" jawab Harun dengan menunjuk Vano yang duduk di ayunan bawah pohon mangga sambil melamun.
"Baiklah Pak, kalau begitu Bintang akan menyapanya setelah itu baru pulang."
"Ya, sapalah dia!"
Bintang mengangguk meninggalkan Harun. Ia berjalan menghampiri Vano.
"Sore, Kak Vano," sapa Bintang yang sudah ada di samping Vano.
"Kau sudah pulang, Hav?" Vano menoleh ke arah Bintang.
"Siapa Hav itu?" tanya Bintang dengan mengerutkan keningnya.
"Oh, kamu Bi, maaf, aku salah sebut," jawab Vano tersenyum tipis.
"Kakak pasti lagi mikirin nama yang barusan disebut tadi! Memangnya siapa sih, dia?" tanya Bintang dengan penuh rasa penasaran.
"Dia Havivah!"
Ada sedikit cemburu dihati Bintang, saat Vano menyebutkan nama Havivah.
"Apa Kak Vano dekat dengannya? Lalu dimana dia sekarang? Kok aku tidak pernah melihatnya?" tanya Bintang dengan penuh selidik.
"Bukan hanya dekat dengannya, tapi dia itu tunangan ku dan sekarang dia sedang mengenyam pendidikan di Kairo. Seminggu lalu dia bilang akan segera pulang dalam minggu-minggu ini, tapi sampai sekarang belum juga datang dan aku sudah sangat merindukannya," jelas Vano dengan sedih.
Deg
Jantung Bintang terasa mau copot, saat mendengar Vano sudah memiliki tunangan yang tengah menuntut ilmu di negeri orang.
__ADS_1
Bintang meremas dress yang digunakan merasakan sakit dan sesak dalam dada, bahkan ia tidak lagi mampu mengatakan apapun pada Vano.
"Bi, kamu kenapa?" tanya Vano yang melihat Bintang hanya diam mematung dan tidak lagi mengatakan apapun.
"Tidak apa-apa Kak. Maaf, aku harus pulang!" ucap Bintang, dengan susah payah menahan air matanya agar tidak jatuh di depan Vano.
Setelah berkata demikian Bintang segera melangkah pergi dengan cepat agar Vano tidak melihat matanya yang sudah mulai berkaca-kaca dan hanya dengan satu kali kedipan saja maka air matanya itu akan jatuh.
Vano yang melihat Bintang pergi hanya menggelengkan kepalanya heran, karena tidak biasanya sahabatnya itu begitu.
Sesampainya di rumah, Bintang bergegas masuk ke dalam kamarnya dan mengunci rapat-rapat.
Bintang naik ke atas tempat tidur dan berbaring tengkurap menumpahkan air matanya disana.
Pupus sudah harapan dan impian Bintang, untuk mendapatkan cinta dari Vano, karena kenyataannya orang yang selama ini ia cintai sudah menjadi milik orang lain.
Sakit rasanya hati Bintang mengetahui semua kenyataan ini, tapi ia tidak bisa berbuat apa-apa, karena memang hubungannya dengan Vano hanya sebatas sahabat dan tidak lebih dari itu. Kini Bintang harus bisa menerima semua itu meski sulit.
'Ya Tuhan, kenapa rasanya sesakit ini, mengetahui dia sudah menjadi milik orang lain!' batin Bintang menangis pilu dengan air mata yang masih mengucur deras di pipinya.
***
Pagi ini Bintang bersama dengan Ami dan Ahmad sedang sarapan bersama, namun kali ini ia hanya memainkan makanannya tanpa memakannya dan dengan pandangan kosong.
"Bi, apa kamu sakit?" tanya Ahmad yang melihat Bintang tidak seceria biasanya.
"Tidak!" jawab Bintang tanpa memandang Ahmad.
"Kenapa sarapanya tidak dimakan?" tanya Ami.
"Kamu kenyang dari mana? Makan saja belum!" heran Ami yang melihat bintang begitu aneh semenjak pulang dari rumah Vano kemarin.
"Apa kamu punya masalah, Bi? Jika iya, coba lah cerita dengan Kakek atau Nenek, siapa tau kami bisa membantumu!" ucap Ahmad dengan menatap Bintang.
"Tidak ada, Kek!"
"Ya sudah sekarang makanlah sarapanmu!" perintah Ahmad.
"Iya," jawab Bintang singkat.
Bintang memakan sarapannya dengan malas.
"Aku sudah selesai!" Bintang berdiri dari duduknya.
"Apa kamu mau berangkat mengajar, Bi?" tanya Ami yang khawatir, karena hari ini Bintang terlihat berbeda dari biasanya.
"Iya!"
"Sepertinya kamu tidak baik-baik saja, lebih baik kamu hari ini izin tidak mengajar saja," saran Ami.
"Hari ini kelas lima ada ulangan dan aku harus berangkat."
"Ya sudah, ayo berangkat," ajak Ahmad.
__ADS_1
"Ya."
"Ibu tidak usah khawatir, ada aku yang akan menjaganya," gumam Ahmad tersenyum mengusap lengan Ami.
Ami tersenyum menganggukkan kepalanya.
Diluar rumah, Ahmad mengambil motornya dan segera menyuruh Bintang naik. Setelah cucunya itu duduk dengan benar di belakangnya, ia segera menjalankan motornya dengan pelan menuju sekolah.
Sesampainya di sekolah Ahmad duduk di kursi kerjanya, begitu pula dengan Bintang.
Tak selang lama Vano datang dan segera menaruh tasnya di meja kerjanya.
"Pagi, Bi," sapa Vano pada Bintang sambil duduk di kursi kerjanya.
"Pagi juga, Kak!" jawab Bintang yang berusaha bersikap biasa-biasa saja.
Bintang berdiri dari duduknya kemudian ia mengambil buku pelajaran.
"Aku duluan, Kak," ucap Bintang berlalu begitu saja tanpa menunggu jawaban dari Vano.
Vano hanya bisa menarik nafasnya melihat sikap Bintang yang tidak seperti biasanya. Kemudian ia segera keluar dari ruangan untuk mengajar.
Dalam kelas, Bintang membagikan soal ulangan, setelah itu ia duduk melamun dan tidak melihat anak muridnya mengerjakan tugasnya.
Jam istirahat pun telah tiba. Bintang bergegas ke kantin, namun kali ini ia tidak menunggu Vano.
Di kantin Bintang duduk sendiri menunggu pesanannya disajikan.
"Hay, Bi," sapa Aldo yang datang dengan seorang guru wanita sebaya dengan Bintang.
"Duduklah!" perintah Bintang tanpa menjawab sapaan Aldo.
"Tumben kamu hari ini, nggak bareng Vano? Biasanya kemana-mana bareng!" ujar wanita tersebut.
"Kak Vano masih ngajar, Win!"
"Winda, duduklah, jangan berdiri terus!" perintah Aldo, yang sudah dari tadi duduk.
"Oh, iya, aku lupa!" Winda tersenyum kemudian ia duduk di samping Aldo.
"Kamu ada masalah ya? Cerita dong sama kita!" ucap Aldo dengan mengamati wajah Bintang yang terlihat murung.
"Aku patah hati," lirih Bintang.
"Apa? Patah hati? Sama siapa?" tanya Winda dengan memajukan wajahnya menatap Bintang. Namun ia sudah bisa menebak jika Bintang pata hati karena Vano, sebab tidak biasanya Bintang lepas dari Vano.
Bintang diam, ia ragu untuk mengatakan siapa yang membuatnya patah hati.
"Ayo Bi, katakan saja pada kita. Jangan memendam kesedihan sendirian!" desak Aldo.
"Iya, Bi. Curhat lah dengan kita supaya perasaan kamu bisa plong," ucap Winda dengan menggenggam tangan Bintang.
"Hatiku dipatahkan olehnya," lirih Bintang.
__ADS_1
___
Bersambung...