
"Aku mau sate ayam aja deh, Kak!"
Vano mengangguk, kemudian ia memesan sate ayam dan sate kambing kesukaannya.
Setelah memesan sate Vano mengajak Bintang duduk di tempat yang sudah disediakan sambil menikmati suasana malam yang penuh bintang dan ramai.
Tidak butuh waktu lama, sate yang Vano pesan pun sudah disajikan.
"Kak, apa itu Enak?" tanya Bintang, yang melihat Vano makan satenya dengan begitu lahap.
"Enak dong … apa kamu mau coba?" Vano tersenyum menatap Bintang.
"Boleh." Bintang tersenyum mengangguk.
"Ini makanlah!" Vano memberikan satu tusuk sate kambing pada Bintang.
Bintang segera memakan sate yang diberi oleh Vano.
"Ini enak banget Kak, dari pada sate ayam!" kata Bintang, dengan mulut yang penuh dengan makanan.
"Apa kamu mau lagi?"
"Tidak!" tolak Bintang dengan menggelengkan kepalanya.
"Kenapa tidak mau?" tanya Vano, mengerutkan keningnya menatap Bintang.
"Nanti kalau itu aku makan, bagaimana dengan Kakak?"
"Kita bisa tukeran, lagian aku juga suka dengan sate ayam."
"Beneran, nih?" tanya Bintang dengan mata yang berbinar.
"Iya dong," jawab Vano, tersenyum.
"Baiklah!"
Keduanya kini saling bertukar sate, kemudian memakannya dengan lahap. Usai makan sate dan membayarnya Vano membawa Bintang berkeliling sebentar.
Bintang memeluk lengan Vano berjalan bersama dengan santai.
"Bi, apa kamu sering kesini?" tanya Vano dengan pandangan lurus ke depan.
"Tidak, aku hanya beberapa kali saja kesini!"
"Apa kamu tidak suka liburan ke Bali?"
"Bukannya aku tidak suka, tapi sejak SMA aku sudah tinggal di Paris dan sibuk belajar!"
"Pantas saja kamu lulus dengan gelar cumlaude!"
"Kayak kakak nggak aja!" Bintang tersenyum memandang Vano.
"Ah, sudahlah jangan bahas gelar! Semarang boleh aku bertanya?"
"Kakak mau tanya apa?"
__ADS_1
"Kalau kamu liburan kesini apa yang kamu lakukan?"
"Paling jalan-jalan di sekitar hotel dan meninjau perkembangan seluruh hotel yang ada di sini!"
"Itu namanya bukan liburan, tapi bekerja!"
"Sebenarnya dari SMA aku memang sudah memegang seluruh hotel milik Ayah karena beliau keteteran mengurus perusahaan pusat dan perusahaan cabang yang tersebar di beberapa negara."
"Kamu hebat Bi! meski kamu punya segalanya, tapi kamu masih mau hidup sederhana di desa dan menjadi guru di sana!" puji Vano.
'Jika aku hidup di desa, itu hanya karena menginginkanmu, Kak. Tidak ada alasan lain selain kamu!' gumam Bintang dalam hati.
"Jangan memujiku, Kakak juga orang yang hebat!"
"Tapi tidak sehebat kamu! Oh ya, kalau kamu mengurus semua hotel ini, kenapa sampai kamu tidak punya uang waktu itu?"
"Semua penghasilanku juga penghasilan Sena dikendalikan oleh Ayah, selagi kami masih bersekolah. Tapi karena aku anak pertama dan Rafa masih berusia 15 tahun untuk sementara aku yang menggantikan, tapi aku menolak hal itu dan lebih memilih tinggal di desa, lagian usaha Ayah bergerak di bidang kosmetik dan aku tidak mengerti hal itu! Mangkanya Ayah menghukumku dengan membekukan semua fasilitas yang diberikan padaku," jelas Bintang.
"Berarti selama di desa kamu tidak lagi mengurus hotel?"
"Tidak!"
"Pantas saja kamu lupa kalau kita nginap di hotel milik sendiri! Huh, aku tak menyangka jika aku menikahi Anak Sultan," ucap Vano dengan terkekeh.
"Biar aku Anak Sultan, tapi aku lebih suka tinggal di desa dan hidup sederhana bersamamu, Kak!" ujar Bintang dengan tersenyum.
"Tapi kamu jangan mengeluh ya, kalau nanti aku tidak punya uang untuk beli ayam goreng," canda Vano dengan tersenyum.
"Kakak tenang saja, aku tidak akan mengeluh, karena nanti aku bisa minta sama Sena ayam goreng krispi di restorannya," jawab Bintang dengan terkekeh.
"Astaga, istriku kenapa seperti ini!" ucap Vano dengan gemas, kemudian ia mengacak rambut Bintang.
Kini mereka sudah berada di kamar hotel dan Bintang tengah berbaring di tempat tidur sedangkan Vano berada di kamar mandi menggosok giginya.
Vano langsung merebahkan tubuhnya di samping Bintang setelah ia keluar dari kamar mandi.
"Bi, besok kamu mau jalan-jalan kemana?" tanya Vano, dengan memeluk Bintang.
"Aku tidak tau Kak, mau kemana? Karena biasanya Sena lah yang akan mengajakku menjelajahi Bali!"
"Apa Sena tau tempat-tempat wisata yang bagus disini?"
"Iya Kak, karena Sena seminggu sekali kesini mengurus resort dan restorannya."
"Apa dia kesini sendirian?"
"Biasanya dia diantar Om Raka!"
"Apa dia kekasih Sena?"
"Bukan, dia ayah angkatnya Sena!"
"Oh, kirain dia kekasih Sena," ucap Vano dengan tergelak tawa.
"Ih, masak iya Sena pacaran sama om-om, tapi Om Raka masih ganteng sih walaupun udah seumuran sama Ayah."
__ADS_1
"Jangan memuji pria lain didepan suamimu!" Vano mencubit hidung Bintang dengan cemberut.
"Jangan cemburu cintaku hanya untukmu saja tidak untuk yang lain," ucap Bintang mengusap lembut pipi Vano.
"Aku percaya itu, bagaimana kalau besok kita bermain di pantai?"
"Boleh juga!"
"Oke, sekarang ayo kita tidur," ajak Vano.
"Apa tidak ada ucapan selamat malam?" tanya Bintang tersenyum menatap wajah Vano.
"Aku akan memberinya setelah kamu memejamkan mata!"
"Kenapa harus memejamkan mata?" tanya Bintang dengan mengerutkan keningnya.
"Pokoknya pejamkan matamu," perintah Vano.
"Baiklah aku akan memejamkan mata!"
Setelah Bintang memejamkan matanya Vano mulai menempelkan bibirnya ke bibir Bintang yang dari tadi sebenarnya sudah ia inginkan.
Kini keduanya menyatukan bibir hingga Bintang kesulitan bernapas dan Vano pun akhirnya melepaskannya.
"Sudah, besok lagi!" ucap Vano dengan mengusap bibir Bintang yang basah karena ulahnya.
"Ya," jawab Bintang tersenyum, kemudian ia menyembunyikan wajahnya di dada bidang Vano sambil memeluk erat sang suami tercinta.
Bintang tidak menyangka kalau ia akan mendapatkan itu dari Vano.
"Bi, diamlah dan cepat tidur jangan bergerak!" perintah Vano.
Bintang terdiam dan merasakan sesuatu yang mengganjal dibawah sana.
"Kakak lagi pengen anu ya? Kok rasanya menganjal keras gitu?" tanya Bintang dengan polosnya.
"Iya Bi, aku nggak tau setiap kali bersentuhan denganmu dia dengan cepat bangun dan bereaksi," jawab Vano dengan jujur.
"Kalau Kakak mau lakukanlah!"
"Terima kasih, sudah mengertikanku."
"Sama-sama, Kek!" jawab Bintang tersenyum.
Malam ini mereka kembali melakukan penyatuan tubuh untuk yang kedua kalinya.
Beberapa jam kemudian, Bintang terkulai lemas setelah beberapa kali permainan.
"Tidurlah, terima kasih untuk malam ini!" bisik Vano dengan mengecup kening Bintang kemudian ia memeluknya.
"Sama-sama, Kak! Aku senang jika Kakak senang," jawab Bintang kemudian ia memejamkan matanya.
Vano mengusap-usap kepala Bintang hingga tertidur pulas.
Setelah dirasa Bintang sudah terlelap ia melepaskan pelukannya, bangun dari tidurnya dan membenarkan selimutnya untuk menutup tubuh sang istri yang masih polos. Setelah itu ia turun dari tempat tidur, masuk ke dalam kamar mandi.
__ADS_1
___
Bersambung….