Cinta Bintang

Cinta Bintang
Kenapa Kakak Mandi Lagi?


__ADS_3

"Aku tidak enak jika menolak hadiah dari Oma, jadi aku terima saja agar beliau tidak kecewa," jawab Vano dengan memandang langit-langit kamarnya.


"Apa besok kita jadi berangkat? Atau kita simpan saja tiketnya?" tanya Bintang memandang Vano.


"Kita akan tetap berangkat agar Oma tidak tersinggung, anggap saja ini jalan-jalan."


"Baiklah, lagipula aku sudah lama tidak kembali!" 


"Sekarang tidurlah! Katanya ngantuk," ucap Vano memandang Bintang.


"Ya, aku memang mengantuk, tapi bolehkah aku memeluk, Kakak?" tanya Bintang dengan lirih.


"Ya, Kemarilah!" perintah Vano.


"Terima kasih!" 


Bintang segera merebahkan tubuhnya dan memeluk Vano, kini pelukan sang suami merupakan candu baginya.


'Meskipun hanya bisa memeluknya seperti ini, tapi aku sudah merasa bahagia. Terima kasih Tuhan engkau telah mengabulkan doaku, untuk bisa hidup dengannya meskipun dia tidak mencintaiku,' batin Bintang, sambil memejamkan mata menikmati wanginya aroma tubuh Vano.


'Ya Tuhan … kenapa jantungku terasa berdebar tidak karuan seperti ini? Ada apa denganku? Kenapa aku merasakan debaran yang sama seperti saat Havivah memelukku?' batin Vano, yang merasa bingung dengan apa yang telah dirasakannya sekarang.


"Kak!" panggil Bintang masih dengan memeluk Vano.


"Hemmm…" 


"Nanti kalau sudah jam tiga, bangunkan aku!" 


"Kamu mau kemana?" 


aku mau bantu Ibu menyiapkan makan malam."


"Ya, tidurlah, nanti aku akan bangunkan mu!" 


Bintang mengeratkan pelukannya berusaha untuk tidur.


Setelah Bintang tertidur Vano juga ikut tertidur, karena merasa nyaman saat berpelukan dengan Bintang.


Mereka berdua tertidur pulas hingga pukul empat sore bintang baru membuka matanya dan melepaskan dekapan Vano.


"Ya Tuhan … sudah jam empat!" 


Betapa terkejutnya Bintang saat melihat jam sudah menunjukkan pukul empat sore. Dengan cepat ia turun dari tempat tidur masuk ke dalam kamar mandi. Disana ia mencuci wajahnya agar terlihat segar.


Kini Bintang sudah keluar dari kamarnya dan melangkah menuju dapur, disana sudah ada Salma yang sibuk memasak untuk makan malam.


"Sore, Ibu," sapa Bintang dengan tersenyum.


"Sore juga, Nak," jawab Salma juga tersenyum.


"Maaf, aku bangun terlambat."

__ADS_1


"Tidak apa-apa, Nak! Ibu mengerti kalau kamu pasti masih lelah karena pesta kemari!" 


"Iya Bu, tidak pernah pesta seharian penuh hingga malam!" 


"Begitulah tradisi pesta pernikahan di desa ini, Nak! Sekarang kamu duduk saja disini temani Ibu memasuk, biar ada yang bisa diajak ngobrol," pinta Salma.


"Aku akan menemani dan membantu Ibu memasak, karena aku juga ingin belajar memasak supa Kak Vano senang," jawab Bintang dengan semangat.


"Baiklah, Ibu akan mengajarimu memasak makanan kesukaan Vano."


"Terima kasih Ibu," ucap Bintang dengan begitu bahagia.


"Sama-sama, Nak, Ibu senang memiliki menantu yang baik sepertimu!" ucap Salma sambil memotong-motong kacang panjang.


"Doakan aku supaya Kak Vano bisa mencintaiku, Bu!" pinta Bintang.


"Itu pasti, Nak!" jawab Salma tersenyum.


"Sekarang apa yang harus aku lakukan?" 


"Kamu kupas bawang merah sama bawang putih saja dulu, setelah itu potong tipis-tipis."


"Baik, Bu!" 


Kini Salma sibuk mengajari Bintang memasak makanan yang disukai Vano sambil bercanda.


Hingga dua jam lamanya mereka berdua berada di dapur dan akhirnya apa yang dimasak siap disajikan.


"Baik, Bu!" jawab Bintang mengangguk.


Bintang keluar dari dapur melangkah menuju kamarnya. 


Sesampainya di kamar, Bintang tidak menemukan Vano, namun ia mendengar suara gemericik air di dalam kamar mandi. 


"Kak Vano pasti sedang mandi," gumam Bintang.


Bintang bergegas menyiapkan baju ganti untuk Vano dan menaruhnya di atas tempat tidur, setelah itu ia duduk di sofa sambil memainkan ponselnya menunggu Vano selesai mandi.


Vano keluar dari kamar mandi dan menghampiri Bintang yang asyik dengan ponselnya.


"Mandilah, Bi!" perintah Vano.


"Iya Kak," jawab Bintang mendongakkan kepalanya menatap wajah Vano.


Bintang berdiri dari duduknya, bergegas masuk ke dalam kamar mandi sedangkan Vano memakai pakaian yang sudah disiapkan.


Setelah cukup rapi Vano duduk bersandar di atas tempat tidur dengan menyelonjorkan kakinya.


Dalam kamar mandi, Bintang merasa bingung, karena ia lupa tidak membawa pakaian ganti dan didalam kamar mandi hanya ada handuk.


"Ah, aku lupa membawa baju ganti! Masa iya aku pake handuk seperti ini? Bagaimana jika nanti Kak Vano mengira kalau aku menggodanya? Tapikan dia tidak mencintaiku dan pasti biasa-biasa saja, tidak akan terpengaruh apapun! Lagipula aku kan istrinya tidak  apa-apa juga kalau dia melakukan itu padaku!" gumam Bintang. 

__ADS_1


Bintang membuka pintu kamar mandi dan berjalan pelan menuju lemari pakaian.


Vano menelan salivanya, melihat kemolekan tubuh Bintang yang hanya dibalut oleh handuk sebatas dada hingga pahanya yang mulus itu terlihat jelas.


'Aduh, adik kecilku kenapa langsung bangun melihatnya berpenampilan seperti itu? Ya Tuhan … ini benar-benar menggodaku! Ini tidak boleh terjadi, aku harus bisa menahannya! Aku tidak ingin terluka lagi. Cukup sekali saja aku terluka dan tidak akan aku biarkan orang lain melukaiku lagi!' batin Vano.


Dengan segera Vano melompat dari tempat tidur, berlari masuk ke dalam kamar mandi, karena sudah tidak dapat menahan nafsunya untuk menjamah tubuh Bintang.


"Kenapa Kak Vano tergesa-gesa masuk kedalam kamar mandi? Apa iya, dia kebelet BAB? gumam Bintang sambil menggunakan pakaiannya.


Dalam kamar mandi Vano langsung mengguyur tubuhnya dan mencoba menidurkan adik kecilnya yang terlanjur bangun.


Satu jam lebih Vano bermain sendiri didalam kamar mandi hingga akhirnya adik kecintaannya itu tertidur lagi.


"Kak, kenapa lama sekali di kamar mandi?" tanya Bintang, menghampiri Vano yang mengambil pakaian dari dalam lemari.


"Aku susah BAB!" bohong Vano.


"Tapi kenapa kakak mandi lagi?" tanya Bintang dengan curiga.


"Tadi aku terpeleset dan jatuh tengkurap waktu mau cuci tangan."


Vano mencoba mencari alasan, karena ia tidak mungkin mengatakan yang sejujurnya pada Bintang. 


"Kakak yakin, kepleset?" tanya Bintang tersenyum menggoda dengan tangan membelai dada bidang Vano.


"Ya sekarang berbalik badanlah aku akan memakai pakaian dulu!" perintah Vano memegang tangan Bintang yang ada di dadanya.


"Oke, aku akan berbalik badan berpakaianlah dan jangan sampai masuk ke dalam kamar mandi lagi!" ucap Bintang dengan terkekeh, ia tahu jika penjelasan Vano itu hanya sebuah alasan. 


Setelah Bintang membalikkan badannya barulah Vano memakai pakaiannya.


'Untung saja aku waktu kuliah mempelajari tentang membaca ekspresi manusia, jadi aku tau kalau sebenarnya kak Vano berbohong! tapi kenapa dia mandi lagi? Oh, Tuhan … apa mungkin dia menginginkanku, saat melihatku hanya memakai handuk saja?' batin Bintang tersenyum senang sambil menutup mulutnya dengan kedua tangannya.


"Aku sudah selesai," ucap Vano, setelah ia menggunakan pakaiannya.


Bintang, kembali menghadap Vano dengan tersenyum.


Kita ngobrol-ngobrol ditempat tidur saja yuk, Kak, sambil menunggu waktu makan malam!" ajak Bintang menggandeng tangan Vano.


___


Bersambung...


Halo kak sambil menunggu bab selanjutnya kalian bisa baca novel teman kami dulu ya


judul : ELMA (wanita yang ku Nodai)


by : nur seri bulan


__ADS_1


__ADS_2