Cinta Bintang

Cinta Bintang
Mendadak Melamar


__ADS_3

"Ya, sekarang ayo kita pulang!" ajak Vano.


"Oke," jawab Bintang, berdiri dari duduknya.


Vano mengambil motornya setelah itu barulah Bintang naik, kemudian ia menjalankan motornya dengan pelan.


Sesampainya di rumah, Bintang segera turun dari motor dan menawari Vano untuk mampir. Namun ia menolaknya dengan alasan harus cepat kembali, karena Salma tengah sakit dan Harun pasti masih bekerja.


Bintang masuk ke dalam rumah dan langsung menuju kamarnya. 


Dalam kamar, Bintang segera merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur dengan hati yang bahagia, karena Vano memberitahu kalau ia akan dijodohkan dengannya. Selain itu ada hal yang lebih membuatnya bahagia, sebab Vano juga memberinya kesempatan untuk meraih cintanya.


Disaat, Bintang tengah senyum-senyum sendiri tiba-tiba saja ia mendengar pintu kamarnya diketuk dari luar.


"Masuk!" teriak Bintang, masih berbaring di tempat tidur.


Cklek.


Pintu terbuka dan muncullah Kenzo dari luar, menghampirinya.


"Apa kau lelah?" tanya Kenzo duduk di samping Bintang.


"Ya, tapi ada apa Ayah kemari?" tanya Bintang, menatap Kenzo.


"Ayah ingin bicara denganmu!" jawab Kenzo, membelai lembut kepala Bintang.


"Bicara apa?" tanya Bintang, kemudian ia bangun dari tidurnya dan menyandarkan tubuhnya di tempat tidur.


"Ayah sudah merencanakan perjodohan dengan orang tua Vano!" 


"Siapa yang mau dijodohkan?" tanya Bintang, pura-pura tidak tahu.


"Ya kamulah, masak Sena!" jawab Kenzo, mengacak-acak rambut Bintang.


"Kenapa harus dijodohkan? Kayak nggak laku aja!" ucap Bintang, pura-pura tidak suka, tapi dalam hati ia bersorak ria.


"Ayah tau kamu mencintai Vano, bahkan alasanmu tinggal disini pun karena dia! Iya, kan?" 


"Ayah ini tau aja apa yang aku inginkan!" ucap Bintang tersenyum lebar.


"Kau ini putriku, tentu saja aku tau!" 


"Terima kasih, Ayah! Aku bahagia mendengar semua ini, tapi sayang, Ayah telat memberitahu aku, karena tadi kak Vano sudah memberitahu duluan!" ucap Bintang dengan terkekeh, kemudian ia memeluk Kenzo.


"Huh, keduluan deh!" 


"Mangkanya, Ayah kalau mau kasih kabar jangan suka telat!" ucap Bintang mendongakkan kepalanya menatap wajah Kenzo.


"Iya deh, Ayah salah!" 


"Jangan ngambek, sekarang Ayah keluarlah, aku mau tidur siang!" Bintang melepaskan pelukannya.


"Ngusir Ayah nih, ceritanya!" 

__ADS_1


"Bukan begitu, tapi aku sudah mengantuk dan ingin tidur siang!" 


"Baiklah, Ayah keluar!" 


"Ya, tapi jangan lupa ganti pakaianmu!" 


"Sip!" Bintang tersenyum mengacungkan jempol tangannya.


Kenzo berdiri dari duduknya, melangkah keluar dari kamar.


Bintang kembali berbaring setelah kepergian Kenzo sambil memainkan ponselnya tanpa mengganti pakaian.


***


Malam harinya keluarga Vano datang ke rumah Ahmad dengan tujuan untuk melamar Bintang dan membicarakan pernikahan mereka. 


Saat ini Bintang tengah duduk di depan meja rias dengan penampilan yang sudah terlihat rapi. 


Pintu kamar Bintang terbuka dan masuklah Tea dari luar.


"Bi, ayo keluarlah, sebentar lagi mereka akan datang!" ajak Tea.


"Iya, Bun. Tapi apa penampilanku sudah rapi?" tanya Bintang, menghadap ke arah Tea.


"Malam ini kamu tidak hanya sekedar rapi, tapi juga cantik dan menarik," ucap Tea dengan tersenyum.


"Benarkah itu, Bun?" 


"Baiklah, sekarang ayo kita keluar," ajak Bintang dengan memeluk lengan Tea.


Mereka berdua keluar dari kamar menuju ruang tamu dan baru saja Tea juga Bintang duduk, Vano bersama keluarganya sudah datang.


"Assalamualaikum," ucap Harun yang berdiri di depan pintu sedangkan Vano dan Salma ada di belakangnya.


"Waalaikumsalam," jawab Kenzo dan yang lainnya, kemudian ia berdiri dari duduknya menyambut kedatangan Harun dan keluarganya.


"Ayo, Pak, Bu, Nak Vano, masuklah," ajak Kenzo setelah ia menyalami mereka.


"Terima kasih, Pak!" jawab Harun dengan tersenyum.


"Sama-sama, pak. Ayo mari duduk." Kenzo mengajak mereka bertiga untuk duduk bersama.


"Terima kasih, Pak!" 


Mereka semua kini duduk bersama dan berbincang-bincang sebentar sebelum menyampaikan niatnya datang kemari.


Tea berdiri dari duduknya dan berpamitan pada mereka untuk kebelakang.


Tak selang lama, Tea datang kembali membawa minuman dan kue dinampan, kemudian ia menyajikannya untuk mereka semua.


"Silahkan diminum dan dicicipi, Bu, Pak. Maaf kami tidak membuat apa-apa," ucap Tea, Setelah ia menyajikan minuman dan kue yang ia bawa.


"Tidak perlu repot-repot, Bu! Ini saja sudah lebih dari cukup," jawab Salma, tersenyum.

__ADS_1


"Begini Pak Kenzo, saya dan keluarga kemari bermaksud untuk meminang putri bapak untuk menjadi istri anak kami Vano." Harun mulai menyampaikan niatnya pada Kenzo.


"Saya tidak bisa memutuskan sendiri, pak. Semua ini saya serahkan pada Bintang saja, apakah dia mau menjadi istri Vano atau tidak!" 


"Baiklah, pak. Sekarang apakah Nak Bintang, mau menikah dengan Vano?" tanya Harun pada Bintang.


"Iya, Pak saya mau!" jawab Bintang, menganggukkan kepalanya.


"Alhamdulillah," ucap semuanya.


"Ayo Vano pakaikan cincinnya pada Bintang!" perintah Harun.


"Baik, Ayah!" jawab Vano mengangguk.


Vano mengambil cincin dari saku celananya, kemudian ia melangkah menghampiri Bintang yang duduk di samping Tea.


Tea berdiri dari duduknya, memberi ruang untuk Vano agar ia bisa duduk di samping Bintang, kemudian ia duduk di samping Kenzo.


Dengan cepat Vano meraih tangan Bintang dan menyematkan cincin di jari manisnya.


Bintang tersenyum bahagia menatap cincin yang sudah melingkar cantik di jarinya. 


"Jadi apakah sekarang kita juga akan menentukan tanggal pernikahannya?" tanya Ahmad yang dari tadi hanya diam saja.


"Maaf, Pak. Jika tidak keberatan kami ingin Bintang dan Vano menikah dalam dua hari lagi!" 


"Jadi cucuku, kau jadikan pengganti untuk pernikahan putramu yang gagal itu?" tanya Ahmad yang sedikit tidak suka dengan rencana itu.


"Maaf Pak, jika semua ini terkesan mendadak. Bukan maksud saya seperti itu, tapi alangkah baiknya jika apa yang sudah siap kita gunakan saja," jawab Harun, kemudian ia menunduk malu karena memang ia melamar bintang secara dadakan untuk menutupi pesta pernikahan Vano yang gagal.


Bintang mendekati Ahmad dan duduk di sampingnya.


"Kakek, aku mencintainya, tidak masalah kalau aku harus menikah dengannya dua hari lagi. Aku mohon restuilah aku untuk hidup dengannya," tutur Bintang dengan lembut sambil menggenggam tangan Ahmad.


"Huh, baiklah, aku akan merestuimu dan semoga kamu selalu bahagia dengannya," ucap Ahmad membelai lembut kepala Bintang dengan penuh kasih sayang.


"Terima kasih, Kek! Kakek memang yang terbaik!" Bintang tersenyum kemudian ia memeluk Ahmad.


"Jadi bagaimana keputusannya?" tanya Harun memandang Ahmad dan Kenzo secara bergantian.


"Lebih baik gunakan saja apa yang sudah ada, lagipula undangankan sudah disebar jadi tinggal terusin saja, nanti masalah pendaftaran di KUA biar saya yang mengurus untuk mengganti nama Havivah menjadi nama Bintang!" jawab Kenzo.


"Terima kasih atas pengertiannya, Pak!" 


"Sama-sama, Pak! Ini semua saya lakukan untuk kebahagiaan anak saya." 


"Baiklah jika semuanya sudah dil bagaimana kalau kita lanjutkan makan malam?" ucap Tea Setelah semuanya selesai dibicarakan.


"Ya, lebih baik kita makan dulu, karena saya sudah menyiapkan semuanya," sambung Ami.


___


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2