Cinta Bintang

Cinta Bintang
Malam Pertama


__ADS_3

"Hari ini kamu boleh berbahagia dengannya, tapi nanti, setelah aku mendapatkan semuanya, maka aku akan mengambil kembali apa yang seharusnya menjadi milikku!" gumam wanita tersebut, kemudian ia pergi dari tempat itu.


Pesta terus berlanjut dan masih banyak para warga yang berdatangan dan meminta foto bareng kedua mempelai.


Sena dan yang lainya naik ke atas pelaminan berfoto-foto penuh dengan rasa bahagia.


"Bisakah Kakak memfoto aku dengan Rafa?" tanya Hafif dengan memberikan ponselnya pada Carla.


"Boleh," jawab Carla tersenyum mengambil ponsel Hafif.


"Ayo, Raf, kita foto," ajak Hafif merangkul pundak Rafa.


"Oke!" jawab Rafa.


Rafa berdiri di samping Vano sedangkan Hafif berdiri di sisi Bintang. Mereka berfoto-foto dengan berbagai gaya.


"Udah banyak nih! Sekarang siapa lagi?" 


"Kita berempat saja," usul Sena.


"Boleh, tapi siapa yang akan memfoto kita?" tanya Carla, memandan Sena.


"Biar Aldo saja yang menjadi kameramennya," jawab Vano.


"Boleh!" jawab Carla.


Vano melambaikan tangannya memanggil Aldo yang tidak jauh dari pelaminan.


Aldo segera naik ke pelaminan menghampiri Vano.


"Ada apa, Van?" 


"Mereka ingin foto-foto dengan kami jadi, kamu yang bertugas menjadi kameramennya."


"Baiklah, mana kameranya?" 


"Ini, Kak!" Sena memberikan kameranya pada Aldo.


"Oke, sekarang kalian bersiaplah," perintah Aldo.


Sena berada di samping Vano bersama dengan Rafa sedangkan Carla berdiri di samping Bintang bersama dengan Hafif.


Mereka berfoto-foto dengan bermacam-macam gaya. Setelah puas mereka turun dan bergantian dengan para tamu undangan yang ingin memberikan ucapan selamat.


"Kak, berapa banyak sih orang yang diundang? Kok dari tadi masih aja berdatangan begini padahal inikan sudah sore?" bisik Bintang pada Vano.


"Ayah hanya mengundang satu desa saja dan ada beberapa orang dari desa lainnya," jelas Vano.


"Banyak banget?" 


"Ini masih sedikit, biasanya mereka kalau punya pesta tidak hanya mengundang satu desa tapi juga desa tetangga juga semuanya diundang.*


"Ya Tuhan … banyak banget, lalu sampai kapan pestanya selesai?" 


"Sampai nanti malam!" jawab Vano tersenyum.


"Ha ... sampai nanti malam?" ucap Bintang dengan begitu terkejut.

__ADS_1


"Iya, sekarang apa kamu sudah capek?" 


"Ya, Kak," jawab Bintang menganggukkan kepalanya.


"Ya sudah, ayo kita duduk!" ajak Vano.


"Tapi mereka masih ada yang naik pelaminan, Kak!"


"Tidak papa."


"Baiklah," jawab Bintang, akhirnya menyetujui apa yang dikatakan oleh Vano.


Mereka duduk di kursi pelaminan dengan santai sambil melihat para tamu undangan yang hadir.


Waktu terus berjalan kini sore telah menjadi malam dan tamu undangan sudah mulai pulang. 


"Van, ajaklah istrimu istirahat, dia sudah terlihat lelah tuh!" perintah Salma pada Vano yang tengah ngobrol dengan kerabatnya di ruang tamu.


"Baik, Bu!" jawab Vano tersenyum.


Vano menggandeng tangan Bintang, melangkah meninggalkan mereka menuju kamarnya.


Cklek


Vano membuka pintu kamarnya, disana Bintang melihat kamar Vano sudah dihias sebagai kamar pengantin yang penuh dengan taburan kelopak bunga mawar merah.


"Bi, kamu mandilah dulu, aku akan bersihkan bunga-bunga di atas tempat tidur itu dulu." 


"Apa Kakak tidak suka tidur di atas taburan kelopak bunga mawar itu?" tanya Bintang dengan memandang Vano.


"Aku geli kalau tidur di atas tempat tidur yang ada bunganya," jawab Vano jujur.


"Huh, kamu ini, disuruh mandi duluan malah menyuruh bali!" 


"Kan aku nggak enak, masak suami beres-beres istri malah enak-enakan mandi!" 


"Jangan merasa tidak enak, coba lihat gaun yang kamu gunakan itu ribet banget, emang bisa membersihkan ini semua dengan menggunakan gaunmu itu?" tanya  Vano dengan terkekeh.


"Hah, iya juga, ya? Kalau gitu biar aku lepas dulu gaunnya!" 


"Begini saja kamu mandi dulu aku akan tunggu disini." 


"Tapi Kakak tidak akan membersihkan ini semua kan?" tanya Bintang memastikan.


"Tidak."


"Oke, tapi dimana koperku yang dibawa sama Rafa tadi?" 


"Semua pakaian dan barang-barang kamu sudah disusun di lemari." Vano menunjuk lemari yang ada di kamarnya.


"Baik, Kak!" 


Bintang melangkah, menuju lemari dan mengambil piyamanya, kemudian ia masuk ke dalam kamar mandi. Sedangkan Vano duduk di sofa yang ada di kamarnya.


Lima belas menit kemudian, Bintang keluar dari kamar mandi dengan menggunakan piyamanya.


"Aku sudah selesai sekarang mandilah, Kak!" perintah Bintang yang sudah ada di samping Vano.

__ADS_1


Ya," jawab Vano, berdiri dari duduknya.


Setelah Vano masuk ke dalam kamar mandi, barulah Bintang mengambil sapu dan membersihkan taburan kelopak bunga mawar di lantai maupun di atas tempat tidur.


Kini bersih sudah kamar Vano dari taburan bunga mawar. Setelah membersihkan semuanya, Bintang duduk bersandar di atas tempat tidur.


Bintang tak berkedip saat melihat Vano keluar dari kamar mandi dengan menggunakan handuk yang dililitkan di pinggangnya.


'Ya Tuhan … betapa sempurnanya makhluk ciptaanmu ini,' batin Bintang, yang melihat Vano nampak begitu gagah, apalagi perutnya yang seperti roti sobek itu, membuatnya meneguk ludahnya dengan susah payah.


Vano mengambil piyamanya dan menggunakannya di depan Bintang dengan posisi membelakangi istrinya itu.


Bintang yang melihat Vano memakai pakaiannya langsung menutup wajahnya.


'OMG, aku tidak kuat jika harus melihatnya berpakaian di depan ku seperti ini!' keluh Bintang dalam hati.


Setelah berpakaian Vano menghampiri Bintang yang masih menutup wajahnya dengan kedua tangannya.


"Aku sudah selesai berpakaian!" ucap Vano sambil duduk di samping Bintang.


Bintang membuka tangannya yang menutupi wajahnya dan menatap Vano.


"Maaf, jika membuatmu risih, aku tidak terbiasa mengenakan pakaian di kamar mandi dan mulai sekarang biasakan dirimu untuk melihat hal seperti itu."


"Ya, tadi aku hanya kaget saja melihat Kakak yang tiba-tiba berpakaian di depan ku." 


"Ya sudah, sekarang ayo kita tidur," ajak Vano.


"Apa kita akan tidur sekarang?" 


"Aku tau ini malam pertama kita, tapi maaf, aku belum bisa melakukan hal itu padamu. Jujur aku masih kecewa dan terluka atas penghianatan yang dilakukannya, bagiku tidak mudah untuk melupakan semua ini begitu saja. Namun kamu jangan sedih, aku akan menjalankan tanggung jawabku sebagai seorang suami. Aku harap kau bersabar aku akan coba membuka hatiku untukmu."


"Aku mengerti apa yang telah Kakak rasakan, aku akan selalu sabar menunggumu dan akan berusaha membuatmu mencintaiku!" 


Meski hati Bintang sakit dan kecewa atas penolakan Vano, tapi ia berusaha tersenyum tak patah semangat, untuk mendapatkan cinta Vano.


"Terima kasih atas pengertianmu!" ucap Vano, memeluk Bintang.


"Kakak tidak perlu berterima kasih! Sekarang bagaimana Kalau kita buka kado dari mereka saja?" ajak Bintang, sambil melepaskan pelukannya.


"Apa kamu tidak capek dan mengantuk?" 


"Aku memang sedikit lelah, tapi aku belum mengantuk."


"Oke, kita buka kado dari mereka!" 


Bintang dan Vano turun dari tempat tidur dan melangkah menuju meja yang sudah ada tumpukan kado begitu banyak.


"Kak, bagaimana kalau semua kado ini kita turunkan di lantai saja, biar enak bukanya?" 


___


Bersambung...


Sabil menunggu bab selanjutnya boleh mampir juga di karya terbaru aku dengan judul menjadi yang kedua demi uang. by bunga teratai.


__ADS_1


 


__ADS_2