Cinta Bintang

Cinta Bintang
Aku Pengen Sate


__ADS_3

Vano menyuapi Bintang dengan hingga habis tidak tersisa.


"Aku mau minum," ucap Bintang dengan menelan makanannya.


"Sebentar aku ambilkan!" 


Vano mengambil air dalam gelas yang ada di atas nakas, kemudian ia memberikannya pada Bintang.


Bintang menerima gelas dengan tangan kirinya dan meminumnya hingga habis tak tersisa.


"Ini, Kak!" Bintang kembali memberikan gelas kosong pada Vano.


"Kamu tunggu disini aku akan menaruh piring kotor ini di dapur." 


"Iya, Kak! Jangan lupa makan siang sekalian!" 


"Iya," jawab Vano tersenyum.


Vano kembali keluar dan menaruh piring kotor sekalian ia makan siang, karena perutnya juga sudah terasa lapar.


Setelah makan Vano kembali ke kamar dan melihat Bintang sudah terlelap dalam tidurnya.


Vano duduk disamping Bintang kemudian ia mengusap-usap kepala sang istri dengan begitu lembut.


Setelah puas memandangi Bintang Vano melangkah kemeja kerja untuk mengoreksi tugas anak didiknya.


 ***


Sudah dua minggu ini Bintang merasa tidak enak badan dan malas untuk makan. Meski demikian ia tetap berangkat mengajar.


Bintang baru saja mengakhiri pelajarannya dan menyuruh anak-anak beristirahat, setelah itu baru dirinya keluar kelas menuju ruang guru.


"Kakak udah selesai mengajarnya?" tanya Bintang yang melihat Vano sudah duduk di kursi kerjanya.


"Sudah, sekarang ayo kita ke kantin," ajak Vano, berdiri dari duduknya.


Bintang tersenyum mengangguk kemudian ia bersama menuju kantin sekolah.


Sesampainya di kantin, Bintang mepmesan bakso sedangkan Vano memesan nasi beserta lalapan dan ikannya. Setelah itu barulah mereka bergabu dengan Aldo dan Winda yang sudah ada disana.


"Kalian cepet banget udah ada disini!" ucap Vano, sambil duduk di samping Aldo, sedangkan Bintang duduk didekat Winda.


"Kamu kalau ngajar suka ngaret!" ucap Aldo dengan tersenyum lebar.


"Dikit aja gk papa lah!" 


"Bi, wajahmu pucat apa kamu sakit?" tanya Winda yang baru menyadari jika wajah Bintang sedikit pucat.


"Aku hanya tidak enak badan saja, Win," jawab Bintang tersenyum.


"Kenapa kamu nggak bawa Bintang kepuskesmas saja sih, Van?" tanya Aldo.


"Bukannya aku tidak mau membawanya kesana, tapi dianya yang nggak mau, padahal udah satu minggu lebih dia nggak napsu makan dan badannya lemas," jelas Vano dengan apa adanya.


"Mendingan kamu periksa aja Bi, penyakit jangan dipelihara," tutur Winda.


"Aku tidak mau, nanti juga sembuh, kan cuma nggak enak badan saja!" 


Disaat mereka berbincang-bincang pelayan kantin menyajikan makanan yang mereka pesan.

__ADS_1


"Wih, tumben nggak Medan ayam goreng," ucap Winda dengan terkekeh, karena bintang selalu memesan ayam goreng saat dikantin begitu pula ketika ia membawa begal pasti tidak akan ketinggalan dengan namanya ayam goreng.


"Aku lagi peken bakso aja Win," jawab Bintang mulai memakan baksonya.


Vano merasa mual setelah ia memakan satu suapan makanannya.


"Kamu kenapa, Van?" tanya Aldo yang melihat Vano mau muntah.


"Aku nggak tau tiba-tiba mual," jawab Vano berdiri dari duduknya dan segera berlari menuju toilet.


"Aneh!" gumam Winda dengan memandang Vano yang sudah menjauh.


"Sebentar aku susul kak Vano sebentar!" 


"Susunlah!" jawab Aldo.


Bintang membawa botol air putih, kemudian dengan cepat ia melangkah menuju toilet.


Sesampainya di toilet Bintang hanya menunggu di depan, tak lama kemudian Vano keluar.


"Apa Kakak baik-baik saja?" tanya Bintang dengan memberikan botol minum untuk Vano.


"Ya, aku baik-baik saja dan hanya mual," jawab Vano setelah ia minum.


"Ya udah, ayo kita kembali," ajak Bintang.


"Bi, sepertinya aku mau makan Bakso sepertimu saja deh. Itu makananya tadi nggak enak banget!"


"Oke, aku akan pesankan!" ucap Bintang tersenyum.


Vano kembali bergabung dengan Aldo dan Winda sedangkan Bintang memesankan bakso untuk Vano.


Sekarang ini semuanya sudah selesai makan dan kembali mengajar.


"Bi, kamu nggak ganti dulu?" tanya Vano sambil melepaskan pakaiannya.


"Nanti saja, Kak! Aku lelah dan lemas," jawab Bintang dengan memejamkan matanya.


"Kamu minum vitamin aja, supaya tidak lemas," saran Vano sambil mengenakan pakaian santainya.


"Sudah tadi pagi," jawab Bintang.


"Yaudah, sekarang kamu tidurlah, aku keluar."


"Kakak mau kemana?" tanya Bintang membuka matanya.


"Mau ngopi sama Ayah!" 


"Ya, pergilah!" 


Vano keluar dari kamar, sedangkan Bintang kembali memejamkan matanya.


Satu jam sudah Bintang tertidur, sekarang ini ia sudah terbangun dan segera mandi.


Disaat Bintang tengah duduk di depan meja rias Vano membuka pintu dan masuk ke dalam.


"Mandilah Kak, ini sudah sore!" perintah Bintang dengan memandang Vano.


"Iya," jawab Vano tersenyum.

__ADS_1


Vano masuk ke dalam kamar mandi membersihkan badannya.


Setelah menyiapkan pakaian ganti Bintang duduk di sofa dan Tiba-tiba saja ia ingin memakan sate.


"Kak!" panggil Bintang saat Vano baru saja keluar dari kamar mandi.


"Ada apa, Bi?" tanya Vano memandang Bintang.


"Aku pengen makan sate!" 


"Sepertinya tukang sate sudah lewat dari tadi deh!" 


"Tapi aku pengen sate," lirih Bintang dengan mencebikkan bibirnya.


"Baiklah, kita akan mencari sate, tapi kamu harus janji untuk menghabiskannya!" 


"Iya, aku janji."


Vano terpaksa menuruti keinginan Bintang agar istrinya itu bisa makan dengan banyak seperti biasanya.


"Aku pakai dulu bajunya, setelah itu kita cari sate!" 


"Ya." Bintang begitu senang, karena Vano menuruti keinginannya.


Usai memakai baju dan menyisir rambutnya, Vano segera mengajak Bintang mencari sate sebelum gelap.


Kini Bintang sudah ada di atas motor dengan tangan yang melingkar di pinggang Vano.


Vano menjalankan motornya menikmati suasana sore mencari penjual sate yang biasanya berkeliling.


"Kayaknya sudah nggak ada deh, penjual satenya, Bi," ucap Vano dengan terus menjalankan motornya.


"Huh, padahal aku pengen banget namakan sate!" ucap Bintang dengan sedih.


"Bagaimana kalau kita cari pinggir jalan raya saja!" usul Vano.


"Iya kak, aku mau."


Vano mengarahkan motornya menuju jalan raya yang jaraknya lumayan jauh dari tempatnya.


Sesampainya di jalan raya, Vano dan Bintang menyusuri jalan tersebut. Tak lama kemudian, mereka menemukan pedagang kaki lima yang menjual sate.


Dengan segera Vano menghentikan motornya. Bintang turun dari motor, sedangkan Vano memarkirkan motornya.


"Kak, aku mau sate kambing!" pinta Bintang.


"Oke, boss!" jawab Vano tersenyum mengacak rambut Bintang.


Vano memesan dua porsi sate kambing dan menunggunya ditempat duduk sambil berbincang-bincang.


"Kak, nanti kalau liburan sekolah kita main ke Jakarta yuk! Sekalian melihat rumah yang dikasih minimalis yang yang dikasih oleh Om Raka."


"Iya, nanti kita kesana sampai liburan selesai."


"Terima kasih sudah mau menuruti keinginanku," ucap Bintang dengan begitu bahagia.


"Jangan berterima kasih, aku senang kalau kamu senang," jawab Vano tersenyum.


"Aku mencintaimu," kata Bintang dengan tersenyum lebar.

__ADS_1


___


Bersambung...


__ADS_2