Cinta Bintang

Cinta Bintang
Aku Tidak Melakukan Itu


__ADS_3

Setelah minum Bintang bergegas masuk dalam kamar. Disana sudah tidak ada Vano, entah kemana dia berada.


Bintang mengambil pakaiannya, kemudian berjalan masuk ke dalam kamar mandi dan mengeluarkan.


Dalam kamar mandi Bintang membersihkan badannya dengan melamun memikirkan Vano yang tiba-tiba marah dan membentaknya.


Setelah cukup lama Bintang pun menyudahi mandinya dan keluar dari kamar mandi.


Kini Bintang berbaring kembali memejamkan mata mencoba untuk menghilangkan kegundahan hatinya, memikirkan Vano yang tiba-tiba marah tak jelas padanya. Namun semua percuma, karena kemarahan sang suami masih terngiang-ngiang dalam ingatannya.


Hingga malam tiba Bintang tidak melihat Vano masuk ke dalam kamar.


Cklek


Salma membuka pintu kamar Bintang dan menghampirinya yang tengah duduk bersandar di tempat tidur.


"Bi, ayo kita makan malam dulu," ajak Salma dengan penuh perhatian.


"Baik, Bu, tapi apa Kak Vano sudah ada diruang makan?" tanya Bintang sambil turun dari tempat tidur.


"Sudah," jawab Salma tersenyum membelai rambut Bintang.


Salma dan Bintang keluar menuju ruang makan. 


Sesampainya di sana, Bintang menyapa Vano dan Harun.


"Malam, Ayah, malam Kak Vano," sapa Bintang tersenyum memandang Harun dan Vano. 


"Malam juga, Bi," jawab Harun tersenyum.


"Duduk!" perintah Vano dengan datar.


"Iya, Kak," jawab Bintang dengan pelan.


Mereka mulai makan bersama dengan diam.


Setelah selesai makan Bintang segera berpamitan pada semuanya untuk beristirahat di kamar.


Tidak lama setelah Bintang pergi Vano juga ikut meninggalkan ruang makan.


Sesampainya di kamar Vano melihat Bintang tidur meringkuk tanpa menggunakan selimutnya.


Vano naik ke atas tempat tidur merebahkan tubuhnya dan miring menghadap Bintang yang membelakanginya.


Satu jam lamanya Vano terdiam, memikirkan bagaimana memulai bicara dengan Bintang. 


Bintang yang dari tadi meringkuk diam-diam meneteskan air mata memikirkan apa kesalahannya.


"Bi, apa kamu sudah tidur?" tanya Vano dengan memegang bahunya.

__ADS_1


"Belum, Kak!" jawab Bintang kemudia ia membalikkan badannya menghadap Vano.


"Maaf, tadi aku telah mendorongmu," ucap Vano memulai pembicaraannya.


"Tidak apa-apa, Kak, tapi apa yang membuat Kakak tiba-tiba marah denganku? Jika memang aku melakukan kesalahan katakanlah, Kak, agar aku bisa memperbaiki kesalahanku!" ucap Bintang dengan memandang Vano penuh kesedihan.


"Tadi aku bertemu dengan Havivah …." 


Vano menghentikan perkataannya dan memandang Bintang yang terlihat sedih.


"Kenapa Kakak menemuinya?" tanya Bintang dengan cemburu.


"Tadi dia mengajakku untuk ketemu, karena ada yang ingin dia bicarakan!" ucap Vano dengan memandang wajah Bintang yang terlihat jelas sangat kecewa dan sedih.


"Jadi ini yang membuat Kakak marah denganku?" 


"Itu salah satunya!" 


"Apa Kakak menyesal telah menikah denganku?" tanya Bintang yang menahan air matanya.


"Aku tidak pernah menyesal menikah denganmu!" 


"Lalu kenapa tiba-tiba Kakak marah denganku?" 


"Aku kecewa denganmu!" ucap Vano dengan datar.


"Tadi Havivah mengatakan kalau kamu dan Ayah Kenzo lah yang menggagalkan pernikahanku dengannya! Awalnya aku tidak percaya, tapi dia telah menunjukkan bukti jika kamu dan Ayah Kenzo yang melakukan itu …." 


Vano mengatakan semua pertemuannya dengan Havivah pada Bintang.


"Jujur aku terkejut mendengar semua ini, karena aku tidak pernah melakukan itu pada Havivah, apalagi meminta Ayah untuk mengancamnya. Itu tidak pernah aku lakukan. sekarang semua terserah pada Kakak, mau percaya atau tidak!" ucap Bintang dengan sangat sedih.


"Beri aku waktu untuk aku memikirkan semua ini agar aku bisa memikirkan  semua dan menerima kenyataan yang sangat menyakitkan ini!" 


"Ya!" jawa Bintang singkat.


Setelah tak ada pembicaraan lagi, Bintang kembali membelakangi Vano dan menumpahkan air matanya yang sudah dari tadi ia tahan.


'Baru saja aku ingin menyampaikan kabar bahagia karena aku hamil, tapi kenapa ada kabar yang membuat aku dan Kak Vano menjadi berjarak seperti ini? Apa sekarang jika aku katakan kalau aku hamil, apa mungkin Kak Vano bisa menerima anak yang aku kandungan meski ini anaknya? Aku takut Kak Vano tidak menerimanya, karena dia marah dan kecewa padaku!' batin Bintang dengan semata yang berlinang.


Pukul dua dini hari Bintang baru terlelap dalam tidurnya, karena telah memikirkan semua permasalahan ini.


Vano yang dari tadi tidak dapat tertidur akhirnya membalikan badan Bintang  agar menghadap ke arahnya. Ia menatap wajah cantik Bintang dengan perasaan yang sedih.


"Setelah mengetahui semuanya tetap saja aku tidak bisa membencimu. Apa lagi setelah mendengar jika kamu tidak pernah melakukan itu, aku menjadi bingung dan  tidak tau harus melakukan apa, tapi melihatmu bersedih akupun merasakan kesedihan yang sama sepertimu, hatiku juga terasa sakit melihat air matamu ini," gumam Vano dengan menghapus sisa air mata Bintang yang masih ada di sudut mata.


Vano terus memandang Bintang tanpa merasakan kantuk meski ini sudah hampir pagi dan ia sama sekali belum tertidur.


Pukul lima pagi Vano turun dari tempat tidur dan segera masuk ke dalam kamar mandi.

__ADS_1


Setelah mandi dan rapi Vano langsung berangkat mengajar tanpa menunggu Bintang bangun dan sarapan.


Bintang yang terbangun dari tidurnya memandang seluruh kamar namun ia tidak menemukan Vano.


"Kak Vano pasti marah denganku," gumam Bintang dengan sedih.


Bintang turun dari tempat tidur dengan begitu tak bersemangat.


Kini di ruang makan pun Bintang tidak menemukan Vano dan itu berarti suaminya sudah berangkat mengajar dan tidak menunggunya.


"Bi, mana Vano?" tanya Harun pada Bintang yang sudah duduk di samping Salma.


"Kak Vano berangkat duluan, Yah." 


"Anak itu emang bener-bener menyebalkan," geram Harun.


"Ya sudah, kamu sarapan saja dulu, jangan banyak pikiran, karena jika kamu terlalu banyak pikiran itu akan mempengaruhi kandunganku." ucap Salma tersenyum mengusap lengan Bintang.


"Iya, Ibu," jawab Bintang mengangguk.


Setelah menyelesaikan sarapanya dan susu hamilnya Bintang segera berpamitan pada Salma dan Harun.


"Ayah, Ibu, aku berangkat dulu!" pamit Bintang.


"Tunggulah sebentar, Ayah akan mengantarmu." 


"Tidak usah Ayah," tolak Bintang yang merasa tidak enak dengan Harun.


"Kenapa kamu tidak mau diantar?" tanya Harun dengan mengernyitkan keningnya.


"Aku hanya tidak ingin merepotkan Ayah."


"Jangan merasa tidak enak, aku tidak ingin terjadi apa-apa denganmu dan kandunganmu," ucap Harun berdiri dari duduknya.


"Baiklah aku mau diantar, Ayah."


"Tunggu sebentar aku akan mengambil kunci motor dulu." Harun berdiri dari duduknya dan keluar dari ruang makan untuk mengambil kunci motor di dalam kamar.


Setelah mengambil kunci motor, Harun segera mengajak Bintang berangkat.


Sesampainya di sekolah Bintang langsung masuk ke dalam ruang guru sedangkan Harun segera kembali ke rumah.


"Pagi, Kak," sapa Bintang pada Vano, sambil duduk di kursi kerjanya.


"Pagi!" jawab Vano dengan singkat.


Aldo juga Winda yang melihat sikap Vano dan Bintang aneh hanya saling memandang tanpa mengatakan apapun.


Bersambung….

__ADS_1


__ADS_2