
"Oke, kita turunin semua kadonya."
Bintang menurunkan semua kado yang ada di atas meja ke lantai. Kemudian mereka berdua duduk bersama di lantai.
'Kata orang-orang malam pertama itu sangat indah, nyatanya tidak! Justru malam pertamaku malah membuka kado dari mereka! Huh, begini banget rasanya mencintai orang yang tidak mencintai kita! Sekarang aku hanya bisa berharap semoga suatu hari nanti Kak Vano bisa mencintaiku!' batin Bintang.
Vano mengerutkan keningnya melihat Bintang yang diam melamun, kemudian ia memegang pundaknya.
"Bi, apa kamu baik-baik saja?"
"Oh, ya, aku baik-baik saja!" jawab Bintang dengan gelagapan.
"Kulihat kamu melamun, apa ada sesuatu yang kamu pikirkan?" tanya Vano, menatap wajah Bintang.
"Tidak! Aku cuma memikirkan apa isi kado dari Winda, soalnya tadi kan, dia bilang disuruh cepat buka kado darinya." Bintang mencoba mencari alasan untuk menutupi rasa kecewanya.
"Oh, bentar aku carikan kado dari Winda."
Bintang mengangguk, kemudian Vano mencoba mencari kado dari Winda diantara kado-kado yang ada di hadapan mereka.
"Nah, ini kado dari Winda!" Vano memberikan kado Winda pada Bintang.
"Apa ya? Kira-kira isinya ini? Kok enteng banget!"
"Entahlah, coba buka, aku juga penasaran!" perintah Vano.
Bintang membuka kado dari Winda dengan pelan. Matanya membulat sempurna saat melihat apa isi kado tersebut. Dengan cepat ia kembali menutupnya agar Vano tidak melihatnya.
"Bi, kenapa menutup kembali? Sini aku juga mau lihat!" pinta Vano.
"Jangan Kak! Ini nggak bagus!" Bintang menyembunyikan kado dari Winda di belakang punggungnya.
"Tidak papa, sini aku lihat!" pinta Vano sekali lagi.
Bintang menggelengkan kepalanya, dengan cepat Vano memeluk Bintang dan mengambil kado yang disembunyikan.
"Aduh, Kak, itu sangat memalukan!" ucap Bintang dengan wajah yang memerah.
"Tidak papa aku cuma ingin melihatnya saja," kata Vano dengan santainya.
Vano kembali membuka kado dari Winda dan melihat isinya. Ia sangat terkejut saat melihat lingerie dan boxer terbungkus rapi dan ada kartu ucapannya.
"Astaga, kenapa dia memberikan ini!" Vano mengambil lingerie transparan dan membolak-balikkannya.
"Kakak, jangan digituin! Ini sangat memalukan!" Bintang menyahut lingerie itu dari tangan Vano.
"Tapi kayaknya itu bagus deh kalau kamu pakai apalagi itu warnanya pink, sesuai dengan warna kesukaanmu!" canda Vano dengan terkekeh.
"Kakak yakin ingin melihatku memakai seperti ini?" tanya Bintang, tersenyum.
"Tidak! Aku tidak mau kamu memakai lingerie seperti itu, jika perlu buang saja!" tegas Vano.
"Aku juga tidak mau pakai seperti ini!"
"Ini ada suratnya juga."
"Baca, Kak!" perintah Bintang.
"Oke!" Vano membuka surat yang ada di kado Winda.
__ADS_1
JANGAN LUPA DIPAKAI SAAT MALAM PERTAMA NANTI YA, BIAR CEPAT JADI!
"Huh, dasar Winda gila!" umpat Bintang dengan kesal setelah mendengarkan Vano membaca surat tersebut.
"Pasti ini bukan cuma ide Winda, tapi Aldo juga terlibat!" ucap Vano menerka-nerka.
"Ah, sudahlah kak singkirkan barang-barang itu, sekarang aku mau buka kado dari Sena dan Carla."
"Bukalah, kado dari sahabat bulemu itu!"
"Ya."
Bintang mengambil kado dari kado dari Carla dan Sena.
"Nih, Kakak saja yang buka!" Bintang memberikan kado Karla pada Vano.
"Kenapa harus aku?"
"Aku takut isinya seperti tadi!"
"Baiklah, aku akan membukanya."
Vano segera membukanya dan melihat apa isinya dan ternyata isinya hanya sebuah lingerie, namun yang ini tidak transparan, tapi sangat pendek dan jika dipakai pasti akan terlihat milik Bintang.
"Coba lihat ini!" Vano mengambil lingerie dari kotak kado dan memberikannya pada Bintang.
"Astaga, lingerie lagi?"
"Ya," jawab Vano tersenyum.
"Sudah buang saja itu, aku akan buka kado Sena saja. Kuharap ini bukan lingerie!"
Bintang membuka kado milik Sena dan lagi-lagi isinya lingerie.
"Ih, kenapa sih semua kado isinya benda laknat semua," kesal Bintang dengan membanting kadonya, sambil mencebikkan bibirnya.
"Sabar, jangan marah," ucap Vano mengusap punggung Bintang.
"Habis mereka ini ngeselin semua!" lirih Bintang.
"Sekarang bukalah yang lain!" perintah Vano.
"Aku, tidak mau lagi buka kadonya! Aku mau tidur saja!" Jawab Bintang, berdiri dari duduknya.
"Oke, kita tidur, tapi mukanya jangan ditekuk gitu," ucap Vano mengusap lembut kepala Bintang.
Bintang hanya terdiam, melangkah naik ke atas tempat tidur. Disana ia segera berbaring dan menyelimuti tubuhnya.
Vano yang melihat Bintang kesal hanya bisa menarik nafasnya, kemudian ia ikut naik ke atas tempat tidur dan berbaring di samping sang istri.
Setelah sekian lama saling terdiam, Bintang menghadap Vano yang berbaring di sampingnya.
"Maafkan aku yang sudah marah-marah," lirih Bintang.
"Tidak papa, sini aku peluk!" ucap Vano tersenyum.
"Apa boleh aku memelukmu?"
"Ya," jawab Vano, tersenyum.
__ADS_1
Bintang tersenyum senang karena bisa memeluk orang yang dicintai ketika hendak tertidur. Dengan cepat Bintang memeluk Vano dan menyembunyikan wajahnya di dada bidang sang suami.
Vano membelai lembut kepala Bintang dengan memejamkan matanya.
'Maafkan aku Bi, aku belum bisa melakukannya sekarang,' batin Vano.
Ketika Bintang sudah mulai tertidur pulas Vano melepaskan pelukannya.
Tidak butuh waktu lama Vano juga ikut terlelap dalam tidurnya.
***
Pagi harinya, Bintang membuka matanya terbangun dari tidurnya. Ia tersenyum melihat wajah tampan Vano.
"Selamat pagi, Kak! Aku mencintaimu!" gumam Bintang dengan membelai lembut pipi Vano.
Bintang bangun dari tidurnya kemudian ia mengecup kening Vano, setelah itu barulah ia turun dari tempat tidur dan bergegas mengambil pakaian ganti. Usai mengambil pakaian ia masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan badannya.
Lima belas menit kemudian, ia keluar dari kamar mandi, dilihatnya Vano masih terlelap dalam tidurnya.
Setelah merapikan diri barulah Bintang membangunkan Vano dengan pelan.
"Kak, bangun, ini sudah pagi." Bintang mengusap lembut pipi Vano.
"Sebentar Hav, aku masih mengantuk," jawab Vano, masih dengan memejamkan matanya.
Hati Bintang terasa nyeri mendengar Vano menyebut nama Havivah dalam tidurnya. Namun ia berusaha kuat dan terus berharap Vano melupakan Havivah. Meski itu hanya harapan semu.
"Ini aku, Bintang, bukan Havivah," bisik Bintang ditelinga Vano.
Vano membuka matanya dan memandang Bintang. "Apa aku menyebut namanya?" tanyanya.
"Ya," jawab Bintang, mengangguk.
"Maaf," ucap Vano bangun dari tidurnya, kemudian ia memeluk Bintang.
"Tidak papa, Kak! Sekarang mandilah!" perintah Bintang, melepaskan pelukannya.
"Ya, aku akan mandi."
Vano turun dari tempat tidur dan bergegas masuk ke dalam kamar mandi. Sedangkan Bintang menyiapkan pakaian Vano.
Tidak lama kemudian, Vano keluar dari kamar mandi dan segera mengenakan pakaiannya.
"Ayo kita keluar," ajak Vano, setelah ia merapikan diri.
"Ayo," jawab Bintang, tersenyum berdiri dari duduknya.
Mereka berdua keluar dari kamar menuju ruang makan. Disana Vano dan bintang melihat Harun dan Salma sudah menunggu.
"Ah, pengantin baru akhirnya datang juga," ucap Harun tersenyum meledek memandang Vano.
___
Bersambung…
Halo aku bawa cerita baru nih sambil menunggu bab selanjutnya yuk mampir ke novel aku yang baru saja tayang, yang ini masih tetap disini ya, noveltoon 🤗🤗
__ADS_1