
Dua minggu sudah, Bintang dirawat di rumah sakit dan hari ini ia sudah diperbolehkan pulang oleh dokter.
"Bun, kapan kita pulang?" tanya Bintang pada Tea, sambil mengunyah makanannya, karena saat ini ia tengah sarapan disuapin oleh Tea.
"Sabar Sayang, kata dokter kamu baru boleh pulang nanti siang," jawab Tea, tersenyum membelai rambut Bintang dengan sayang.
"Lalu Ayah kemana? Dari tadi kok tidak kelihatan?" tanya Bintang memandang Tea.
"Katanya mau jogging sebentar, tau deh, dia kemana!" jawab Tea sambil menyiapkan makanan ke mulut Bintang.
"Sudah, Bun!" tolak Bintang dengan merapatkan mulutnya.
"Ini masih banyak Sayang, ayo makan lagi," bujuk Tea, agar Bintang makan dengan banyak.
"Aku sudah kenyang, Bun!" tolak Bintang.
"Oke, sekarang minum obatnya dulu." Tea meletakkan piringnya di atas nakas, kemudian ia mengambil gelas air putih dan juga obat Bintang.
Bintang meminum obatnya setelah itu ia kembali merebahkan tubuhnya. Setiap kali ia terdiam pasti akan teringat Vano dan akan membuatnya kembali bersedih.
Tea yang melihat Bintang kembali melamun langsung mengajaknya berbicara.
"Sayang, apa kamu mau makan buah?" Tea mencoba menawarkan buah pada Bintang untuk mengalihkan pikirannya agar tidak tertuju pada Vano yang bahkan membuat putrinya itu terluka dan sakit.
"Tidak, Bun!" jawab Bintang, memandang Tea dengan sayu.
"Kenapa tidak mau? Bukankah kamu suka dengan buah apel atau anggur?" tanya Tea dengan mengerutkan keningnya.
"Aku lagi malas saja."
Tea tidak habis akal dan terus saja mengajak Bintang berbicara. Disaat mereka saling berbincang-bincang, tiba-tiba saja pintu dibuka dari luar.
Cklek.
Mendengar pintu terbuka Bintang dan Tea menolah. Ia melihat Kenzo lah yang membuka pintunya.
"Bi, ini aku bawakan, ayam goreng krispi dan es krim kesukaan kamu." Kenzo menunjukkan kantong plastik yang ia bawa pada Bintang.
"Aku sudah Kenyang, Yah!"
"Mas, pagi-pagi kenapa beli es krim, sih! Aneh banget!" ketus Tea.
"Aku tidak membelikan untukmu!"
"Ya sudah! Aku juga tidak meminta!" kesal Tea dengan memalingkan wajahnya.
"Sana pindah ke sofa, aku akan menyuapi bintang," usir Kenzo.
Tea tidak menanggapi perkataan Kenzo dan langsung beranjak pergi ke sofa.
Bintang yang mendengar perdebatan kedua orang tuanya hanya diam saja sambil memandang mereka berdua.
"Sayang, kamu makan ya? Kasihan dong, Ayah kan sudah beli ini untuk Bintang!" ucap Kenzo dengan memelas. Ia tau kalau Bintang pasti akan makan sedikit dadi ia membelikan apa yang sangat disukainya.
"Ya, tapi ayam goreng saja tidak pakai nasi."
__ADS_1
Bintang akhirnya mau memakannya karena kasihan pada Kenzo.
"Oke," jawab Kenzo tersenyum, kemudian ia membuka kotak ayam goreng krispi.
Dengan semangat Kenzo menyuapi Bintang dengan sangat telaten.
"Ayah sudah aku mau minum."
"Oke."
Kenzo menggunakan gelas air minum dan memberikannya pada Bintang.
Setelah minum Bintang kembali memberikan gelasnya kembali pada Kenzo. Setelah itu ia kembali merebahkan tubuhnya.
"Kamu istirahat dulu, Ayah akan mengurus kepulanganmu," ucap Kenzo membelai lembut kepala Bintang.
"Iya, Ayah."
Kenzo berdiri dari duduknya, kemudian ia keluar meninggalkan Bintan dan Tea menuju kasir untuk menyelesaikan administrasi.
Tiga puluh menit kemudian Kenzo kembali ke ruang perawatan dan menghampiri Tea.
"Apa kau sudah selesai bersiap-siap, Sayang?" tanya Kenzo pada Bintang.
"Sudah, Mas!"
"Ya sudah, sekarang ayo kita pulang," ajak Kenzo.
"Katanya nanti siang, kenapa sekarang? Inikan baru pukul sepuluh!"
"Baiklah."
Tea menghampi Bintang dan membangukanya karena saat ini putrinya itu tengah tertidur pulas.
"Sayang, bangun. Ayo kita pulang."
Tea mengusap lembut pipi Bintang agar terbangun dari tidurnya.
Dengan perlahan Bintang membuka matanya dan melihat Tea.
"Ada apa, Bun?"
Kita pulang, sekarang gantilah pakaianmu!"
"Baik, Bun."
Bintang bangun dan turun dari tempat tidur dan mengambil pakaian ganti yang sudah dari tadi Tea siapkan. Ia melangkah dengan malas masuk ke dalam kamar mandi kemudian ia mengganti pakaiannya di sana.
"Aku sudah siap, Bun!" ucap Bintang setelah ia keluar dari kamar mandi.
"Oke, kita pulang!" ajak Kenzo.
Bintang dan Tea keluar dari kamar perawatan diikuti oleh Kenzo dengan membawa koper.
Sesampainya di lobby, mobil yang akan membawa mereka pulang ke rumah Ahmad sudah siap.
__ADS_1
Bintang masuk ke mobil bersama dengan Tea, sedangkan Kenzo duduk di samping sopir.
Kini mereka sudah ada di depan pintu rumah Ahmad dan Kenzo segera mengetuknya.
Tok, tok, tok.
Tidak perlu menunggu lama, pintu pun terbuka dan nampak lah Ami juga Ahmad yang dari tadi sudah menunggu kedatangan Bintang.
"Sayang, akhirnya kamu pulang juga," ucap Ami, memeluk bintang dengan menitikkan air mata.
Bintang membalas pelukan Ami setelah itu ia melepaskannya.
"Jangan menangis, Nek. Aku baik-baik saja." Bintang menghapus air mata Ami dengan ibu jarinya.
"Kenapa harus ditengah pintu seperti ini, ayo masuk," ajak Ahmad.
Mereka semua masuk dan duduk di ruang tamu sambil berbincang-bincang.
"Tea, ajaklah Bintang istirahat di kamar," perintah Ami.
"Iya, Bu."
Tea segera mengajak Bintang masuk ke dalam kamar untuk beristirahat.
Sesampainya di kamar, Bintang naik keatas tempat tidur dan duduk bersandar di sana.
"Sayang, Bunda ke toilet dulu ya?" ucap Tea tersenyum.
"Iya, Bun," jawab Bintang menganggukkan kepalanya.
Setelah kepergian Tea Bintang melamun dengan pandangan menerawang jauh ke depan, memikirkan Vano.
Tea yang keluar dari kamar mandi langsung memeluk Bintang, saat ia melihat Bintang melamun dengan pandangan kosong.
"Jangan bersedih, Sayang," ucap Tea dengan mengusap-usap punggung Bintang.
Bintang terdiam tanpa berbicara apapun, karena saat ini pikirannya hanya tertuju pada Vano. Ia melepaskan pelukannya dan berbaring, kemudian ia memejamkan matanya.
"Jika kau ingin istirahatlah, Bunda akan keluar," ucap Tea, kemudian ia mengecup kening Bintang.
Tanpa menunggu jawaban dari Bintang, ia bergegas keluar dari kamar.
Setelah Tea pergi Bintang kembali membuka matanya ia menangis saat mengingat kemesraan Vano bersama Havivah.
Ingin rasanya Bintang melupakan dan menghapus nama Vano dari hatinya namun ia tidak sanggup untuk melupakan maupun menghapusnya.
'Ya Tuhan … tolong bantu aku untuk menghapus namanya dalam hatiku dan berikan seorang yang terbaik yang lebih dari kak Vano. Aku tidak mau seperti ini terus, Tuhan. Akupun ingin hidup bahagia meskipun itu bukan dengan kak Vano,' batin Bintang dengan berderai air mata meratapi apa yang terjadi pada kisah cintanya yang tidak dapat ia miliki.
Begitu kerasnya Bintang mencoba melupakan Vano, Hingga membuat kepalanya terasa sakit.
Bintang bergegas mengambil obat pereda rasa sakit dan meminumnya. Setelah itu ia kembali lagi berbaring dan memejamkan matanya.
Dengan perlahan Bintang mulai tertidur pulas dan membuatnya melupakan Vano sejenak.
Bersambung….
__ADS_1