
Vano, meraih tangan Bintang dan membimbingnya untuk memegang adik kecilnya.
"Ini adik kecilku dan gara-gara kamu dia tidak bisa tidur, aku sudah menahannya, tapi aku tidak kuat lagi," ucap Vano dengan memandang Bintang penuh damba.
"Astaga, jadi ini yang dari tadi menonjol?" tanya Bintang dengan polosnya.
"Ya dan aku mohon izinkan aku menyentuhmu," pinta Vano penuh harap.
"Aku ini kekasih halalmu Kak, jadi kau tidak perlu minta izin untuk bisa menyentuhku. Lakukanlah jika Kakak mau!" jawab Bintang tersenyum.
Vano, tidak lagi mau mengulur waktu lama dan ia segera menyatukan bibirnya dengan bibir Bintang dengan begitu lembut. Setelah puas dengan menyatukan bibir kini ia menyusuri leher bintang sedangkan tangannya sudah mengabsen setiap inci tubuh Bintang.
Sekarang mereka berdua sudah polos tanpa sehelai benangpun dan akhirnya keduanya pun mulai melakukan penyatuan tubuh.
"Enakkan, Bi?" tanya Vano dengan mendesah nikmat.
"Iya Kak, tapi sakit!" jawab Bintang, mencengkram kuat pinggang Vano.
"Aku akan bermain lembut, kamu harus tenang."
Vano menyatukan kembali bibirnya agar Bintang tenang dan tidak merasakan sakit.
Kini Bintang benar-benar dibuat melayang oleh permainan Vano dan ini merupakan kenikmatan yang tidak pernah dirasakan sebelumnya.
Mereka mengakhiri permainannya, setelah keduanya melakukan pelepasan.
"Terima kasih, Bi!" ucap Vano dengan mengecup kening Bintang.
"Sama-sama, Kak!" jawab Bintang dengan mengatur nafasnya yang tidak teratur.
Setelah nafasnya sedikit lega, Bintang memeluk Vano yang masih bercucuran keringat sama sepertinya.
"Bi, adik kecilku belum mau tidur," bisik Vano yang sebenarnya belum puas.
"Jika kakak mau lagi lakukanlah." jawab Bintang tersenyum membelai pipi Vano.
"Tapi apa kamu tidak capek?"
"Tidak!"
"Baiklah, sekarang gantian kamu yang diatas!"
"Tapi aku tidak mengerti harus bagaimana?"
"Sebenarnya aku juga tidak mengerti dan belum pernah melakukannya, tapi aku menggunakan filing saja!"
"Oke, aku akan melakukannya seperti apa yang Kakak tadi lakukan!"
"Ya mulailah," jawab Vano, mengecup bibir Bintang.
Mereka berdua pun kembali melakukan permainannya diiringi dengan derasnya hujan diluar sana, menghilangkan suasana yang tadinya dingin menjadi panas.
Bintang bergoyang diatas tubuh Vano, membuat Vano mengerang keenakan.
__ADS_1
"Ayo Bi, lebih cepat sedikit!" perintah Vano dengan mendesah.
"Iya, Kak," jawab Bintang, kemudian ia mempercepat goyangannya.
Dua jam kemudian mereka berdua mengakhiri permainannya dan Bintang langsung ambruk tak berdaya dalam pelukan Vano.
"Terima kasih, sekarang tidurlah," ucap Vano, mengecup kening Bintang dengan lembut kemudian ia mendekapnya.
"Ya," jawab Bintang sudah tak berdaya lagi.
Bintang memejamkan matanya dan tidak butuh waktu lama ia sudah tertidur pulas, begitu pula dengan Vano.
Sekarang keduanya sudah berada dalam alam mimpi dengan tubuh yang hanya dibalut selimut.
***
Pagi pun telah tiba, dengan perlahan Vano membuka matanya. Sedangkan Bintang masih terlelap dalam pelukan hangatnya.
Vano tersenyum menatap wajah cantik Bintang, ia tidak menyangka jika semalam akan melakukan hal itu bersamanya.
"Aku memang menikahimu tanpa cinta, tapi aku akan selalu mempertahankanmu agar tetap menjadi istriku, karena aku bukan tipe pria yang suka mempermainkan sebuah pernikahan. Tetaplah menjadi istriku yang baik seperti sekarang ini," gumam Vano, membelai lembut kepala Bintang.
Dengan pelan Vano melepaskan pelukannya, turun dari tempat tidurnya melangkah masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan badannya.
Hanya butuh waktu sepuluh menit untuk Vano bisa membersihkan tubuhnya dan sekarang ini ia sudah keluar dari kamar mandi.
Setelah menggunakan pakaian Vano menyisir rambutnya di depan cermin.
'Hari ini aku benar-benar bahagia, karena sekarang aku sudah menjadi istri Kak Vano yang seutuhnya. Meski aku tau Kak Vano belum mencintaiku, tapi aku sudah bahagia bisa bersama dengannya seperti sekarang ini. Aku harap Tuhan tetap menjaga kebahagiaan ku dari semua rintangan yang menghadang kehidupan rumah tangga aku bersamanya,' batin Bintang.
"Pagi-pagi jangan melamun," bisik Vano yang sudah ada di samping Bintang.
Seketika itu lamunan Bintang buyar, saat ia mendengar bisikan Vano.
"Ih, Kak Vano ini ngagetin aja!" Bintang mengerucutkan bibirnya memandang Vano.
"Mangkanya jangan suka melamun," ucap Vano terkekeh mengacak rambut Bintang.
"Aku melamun karena aku bahagi," jawab Bintang tersenyum.
"Aneh sekali, masak melamun karena bahagia? Tapi ngomong-ngomong apa yang membuatmu bahagia?" tanya Vano memicingkan matanya.
"Aku bahagi menjadi istrimu, aku bahagia memilikimu, aku bahagia mencintaimu sekalipun kau tidak mencintaiku!"
Bintang mengungkapkan kebahagiaan yang ia rasakan pada Vano, setelah itu ia memeluknya dengan erat.
"Terima kasih, sudah mencintaiku dengan begitu besar. Aku janji akan selalu mempertahankanmu menjadi istriku dan tidak akan pernah melepaskanmu."
"Terima kasih juga telah menerima ku," ucap Bintang tersenyum bahagia.
"Ya, sekarang mandilah!" perintah Vano melepaskan pelukan Bintang.
"Siap, Pak Bos!" canda Bintang dengan terkekeh geli.
__ADS_1
Bintang melilitkan selimutnya kemudian ia turun dari tempat tidur. Ketika ia baru berjalan beberapa langkah menuju kamar mandi, ia merasakan bagian bawahnya terasa sakit, selain itu kakinya juga terasa lemas dan gemetaran.
"Kenapa berhenti, Bi?" tanya Vano, yang melihat Bintang menghentikan langkahnya.
"Kakiku gemetar dan lemas, ini aku juga sakit," lirih Bintang dengan menunjuk miliknya.
Vano tersenyum berdiri dari duduknya menghampiri Bintang.
"Aku akan menggendongmu sampai ke kamar mandi."
"Tapi aku belum mengambil baju ganti."
"Kamu duduklah lagi Bi, aku akan mengambilkan pakaianmu," perintah Vano.
"Baik, kak," jawab Bintang menganguk kembali duduk.
Vano mengambilkan pakaian Bintang, setelah itu ia mengangkatnya masuk ke dalam kamar mandi.
"Terima kasih sudah mengantarkanku kekamar mandi," ucap Bintang, tersenyum bahagia.
"Sama-sama, Bi. Kamu seperti inikan juga gara-gara ulah ku! Sekarang kamu mandilah aku akan keluar, nanti kalau ada apa-apa kamu panggil aku saja," pesan Vano.
"Baik, Kak!"
"Oh ya Bi, jangan lupa berendam dengan air hangat, supaya badan kamu enakan dan itumu tidak lagi sakit."
"Oke, Kak."
Vano keluar dari kamar mandi dan tidak lupa ia menutup kembali pintunya.
Setelah Vano keluar barulah Bintang mengisi bak mandi dengan air hangat dan menuangkan aromaterapi.
Bintang berendam dengan terus menampilkan senyum manisnya, karena pagi ini ia benar-benar bahagia.
Tiga puluh menit sudah Bintang berendam dan sekarang ia mulai membersihkan badannya setelah dirasa badannya sedikit rilek.
Usai mandi Bintang segera mengenakan pakaiannya dan keluar dari kamar mandi.
Vano yang duduk di sofa tersenyum melihat Bintang berjalan dengan ngakang.
"Kenapa Kakak tersenyum memandangi aku?" tanya Bintang, yang berdiri di hadapan Vano.
"Cara jalanmu lucu kayak pinguin," jawab Vano dengan terkekeh.
"Huh, ini semua juga gara-gara Kakak!" ucap Bintang dengan mencebikkan bibirnya.
"Tapi kamu senang kan?" ledek Vano, masih dengan terkekeh.
___
Bersambung...
__ADS_1