Cinta Bintang

Cinta Bintang
Menjenguk Bintang


__ADS_3

"Lupakanlah dia Sayang, masih banyak pria lain diluar sana yang jauh lebih baik dari dia."


Bintang hanya terdiam tak menanggapi apa yang dikatakan oleh Tea.


Kenzo yang mendengar percakapan mereka dibalik pintu merasa sedih, setelah mereka saling diam barulah ia masuk ke dalam.


"Mas, kamu sudah datang?" tanya Tea Tanpa melihat Kenzo dan masih memeluk Bintang.


"Iya, sekarang ajaklah Bintang makan!" 


"Bi, ayo makan malam," ajak Tea, sambil melepaskan pelukannya dan menghapus air mata putrinya itu.


"Aku masih kenyang, Bun!" 


"Kamu harus makan, Sayang. Biar cepat sembuh," bujuk Tea.


Bintang hanya menggelengkan kepalanya kemudian ia berbaring miring membelakangi Tea.


Tea menghembuskan nafasnya kasar, kemudian ia menatap kenzo. 


Kenzo yang mengerti akan arti tatapan Tea pun naik ke atas tempat tidur, duduk selonjor dengan membelai lembut kepala Bintang penuh kasih sayang.


"Sayang, jangan seperti ini dong! Apa kau mau Ayah yang suapi?" 


Bintang terdiam tanpa merespon apa yang dikatakan oleh Kenzo dan masih tetap membelakanginya.


"Baiklah, kalau tidak mau makan Ayah dan Bunda juga tidak ingin makan! Biar saja kita bertiga sakit! Paling juga adikmu yang di Jakarta sana pada mengungsi ketempat Tante Arum!" 


Bintang membalikkan badannya. "Aku akan makan."


"Oke, Ayah akan suapi kamu, sekarang bangunlah!" perintah Kenzo.


Bintang bangun dari tidurnya dan duduk bersandar di tempat tidur dengan pandangan kosong.


Tea segera memberikan piring yang berisi makanan pada Kenzo agar suaminya itu segera menyuapi Bintang.


Kenzo menyuapkan makanan dengan telaten, ia begitu sedih dengan keadaan bintang yang mulai kurus dan wajahnya pucat.


"Sudah," tolak Bintang setelah beberapa kali suapan.


"Habiskanlah, ini masih banyak!" perintah Kenzo dengan membelai lembut kepala Bintang.


"Aku sudah kenyang," lirih Bintang, kemudian ia kembali berbaring dan membelakangi Kenzo.


'Jika terus begini, Bintang tidak akan pulih aku harus melakukan sesuatu. Aku tidak mau Bintang terluka karena cinta,' batin Kenzo.


Kenzo turun dari tempat tidur dan duduk di sofa kemudian mengotak-atik ponselnya dengan begitu serius.


"Mas, lihat apa sih, serius banget lihat ponselnya?" tanya Tea sambil duduk di samping Kenzo.


"Ada sedikit kerjaan dan aku harus segera menyelesaikannya!" ucap Kenzo masih dengan memandang ponselnya dengan jaringan-jaringan yang terampil mengetik pesan untuk seseorang.


"Kan ada Bayu, kenapa harus kamu sih yang ngurus?" tanya Tea dengan mengerutkan keningnya.


"Tidak semua pekerjaan dilimpahkan pada Bayu, Sayang!" 

__ADS_1


"Terserah kamu sajalah, aku tidak mengerti!" ucap Tea, kemudian ia berdiri dari duduknya dan kembali menghampiri Bintang.


Tea mengusap lembut kepala Bintang penuh kasih sayang. Ia berharap Bintang bisa segera sembuh dan kembali ceria seperti sebelumnya.


***


Sudah satu minggu Bintang tidak mengajar dan hari ini Vano berniat akan menjenguknya di rumah sakit bersama Havivah dan tadi Aldo juga Winda ingin ikut, sehingga sekarang ini mereka berempat berangkat bersama-sama.


Sesampainya di rumah sakit mereka bergegas menuju ruang perawatan VVIP tempat Bintang dirawat.


Tok, tok, tok.


Vano mengetuk pintu ruang perawatan dan tidak lama pintu dibuka dari dalam.


"Siang, Tante," sapa mereka berempat secara bersamaan.


"Siang, Nak! Ayo masuk!" ajak Tea tersenyum ramah.


"Terima kasih, Tante," jawab Vano.


"Maaf Tante, kami cuma bawa ini untuk Bintang." Winda memberikan buah-buahan pada Tea.


"Terima kasih, Nak. Seharusnya kalian tidak perlu repot-repot membawa bingkisan untuk Bintang, karena dengan kehadiran kalian saja, Bintang pasti sudah senang."


"Sama-sama, Tante. Kami tidak merasa direpotkan kok," ucap Winda tersenyum.


"Oke, sekarang masuklah!" 


Havivah memeluk lengan Vano masuk ke dalam diikuti oleh Aldo dan Winda.


Mereka berempat mendekati tempat tidur Bintang dan melihatnya tengah tertidur.


"Sayang, bangun, Nak. Ini ada teman-teman kamu menjenguk." Tea berusaha membangunkan Bintang dengan pelan.


Dengan perlahan Bintang membuka matanya dan memandang sayu mereka semua.


"Bi, aku sedih melihat kamu sakit seperti ini," ucap Vano dengan menatap sedih Bintang.


"Jangan sedih, Kak! Aku baik-baik saja!" 


"Kamu harus cepat sembuh, Bi. Anak-anak di sekolah masih membutuhkanmu!" 


"Ya, aku mengerti, tapi siapa dia?" tanya Bintang, meski ia sudah bisa menebak. Jika gadis itu adalah tunangan Vano yang ada di Kairo.


"Oh, iya, aku lupa! Dia ini Havivah, tunangan aku!" ucap Vano dengan tersenyum.


"Hay, aku Havivah, semoga kita bisa bersahabat dengan baik," ucap Havivah tersenyum.


"Aku Bintang, senang bertemu denganmu!" ucap Bintang dengan sedikit tersenyum. 


Saat ini bintang merasa hatinya hancur melihat kemesraan Vano dan Havivah. Namun di depan mereka semua, ia harus terlihat baik-baik saja.


Mereka berlima berbincang-bincang membicarakan apa saja yang bisa membuat Bintang terhibur, tapi Bintang hanya terdiam mendengar percakapan mereka.


Kenzo dan Tea hanya duduk diam di sofa tanpa ikut mengobrol dengan mereka.

__ADS_1


'Jadi dia tunangan Vano, yang membuat bintang patah hati sampai depresi seperti ini?' batin Kenzo memandang Havivah.


Hingga sore tiba, mereka berempat baru berpamitan pulang pada Bintang dan keluarganya.


"Bi, kami pulang dulu ya?" pamit Aldo.


"Iya, terima kasih sudah menjengukku disini," jawab Bintang, memandang mereka satu-persatu.


"Sama-sama, Bi. Semoga kamu cepat pulih," ucap Aldi dengan tersenyum.


"Tante, Om, kami pulang dulu," pamit Vano pada Tea dan Kenzo.


"Iya, Nak! Terima kasih sudah datang dan menghibur Bintang.


"Sama-sama, Tante."


Setelah kepergian Aldo, Vano, Wina dan Havivah, Bintang tidur miring membelakangi kedua orang tuanya, menumpahkan tangisannya yang dari tadi ia tahan.


Sakit, hati Bintang melihat kemesraan Vano dan Havivah. Hingga ia merasakan sesak dalam dadanya.


Tea yang mendengar sayup-sayup Isak tangis Bintang segera menghampiri dan merebahkan tubuhnya memeluk Bintang.


"Jangan bersedih Sayang." 


Bintang yang mendengar perkataan Tea membalikkan badannya.


"Dadaku rasanya sakit, Bunda. Melihat dia begitu mesra," ucap Bintang dengan terisak.


"Apa kau mau pulang ke Jakarta, agar tidak melihatnya?"  tanya Tea, dengan mengusap lembut kepala Bintang.


"Tidak, Bunda!" 


"Baiklah kalau tidak mau kau harus kuat dan tidak boleh terpuruk seperti ini."


"Tapi rasanya sakit, Bun! Bertahun-tahun aku memendam perasaan ini. Namun sekarang aku tidak memiliki kesempatan untuk bisa bersamanya! Seakan-akan Tuhan tidak adil padaku!" 


"Jangan menyalahkan Tuhan, Sayang. Mungkin memang Vano bukan jodohmu. Jadi meskipun kamu mengejarnya sampai kemanapun kalian tidak akan bersatu, tapi jika dia adalah jodohmu bagaimanapun caranya dan apapun rintangannya maka kalian berdua akan tetap bersatu," tutur Tea, panjang lebar.


Bintang terdiam merenungkan apa yang dikatakan Tea. Ia tahu tidak seharusnya menyalahkan sang pencipta, saat ia tidak bisa meraih apa yang diinginkannya. 


Mungkin benar kata kedua orang tuanya jika ia harus melupakan Vano meski itu sangat sulit dan butuh waktu yang panjang.


___


Bersambung….


halo


sambil nunggu cerita cinta bintang up lagi baca juga novel teman aku ini ya


judul : kisah cinta Renara


napen : un Kurniasih.


__ADS_1


__ADS_2