Cinta Bintang

Cinta Bintang
Tidak Sadarkan Diri


__ADS_3

"Ayah juga Merindukanmu, Nak!" 


Cukup lama mereka berpelukan dan akhirnya Havivah melepaskan pelukannya. Kini mereka semua masuk dan duduk di ruang tamu saling berbincang-bincang dengan begitu bahagia.


Sekarang ini rumah Havivah sudah dipenuhi oleh para kerabatnya bahkan Wati adik ipar Hamit juga ada di rumah mereka.


"Bibi, kemana ponakanku yang menggemaskan itu?" tanya Havivah pada Wati yang duduk bersama suaminya.


"Dia lagi kerja kelompok bersama teman-temannya, Hav," jelas Wati.


"Oh, begitu ya? Padahal aku sangat merindukannya!" ucap Havivah dengan menghembuskan nafasnya pelan.


Setelah cukup lama Vano berada di rumah Havivah, ia pun berpamitan pada kedua orang tua Havivah untuk pulang, karena ini sudah hampir gelap.


Vano keluar dari rumah Havivah berjalan santai menuju rumahnya. Dengan hati yang bahagia, karena mulai hari ini, ia akan selalu melihat dan bertemu pujaan hatinya setiap hari.


Sesampainya di rumah Vano bergegas masuk, hendak menuju kamarnya.


"Ciee … calon menantu Pak Kepala Desa, sudah pulang ngapel nih," ledek Harun. Ia senang meledek putranya itu. 


"Astaga, Ayah ini bikin aku kaget saja!" ucap Vano sambil menghampiri Harun yang tengah duduk di ruang keluarga sambil menonton TV.


"Duduklah!" perintah Harun dengan tersenyum.


"Aku mau mandi dulu, Yah! Oh, ya. Ini untuk Ayah dan Ibu." Vano memberikan dua paper bag pada Harun.


"Dari siapa, nih?" tanya Harun sambil menerima paper bag.


"Havivah yang memberi tadi, oleh-oleh dari Kairo katanya!" jawab Vano, tersenyum memandang wajah Harun yang terlihat senang menerima pemberian calon menantunya itu.


"Waw, kira-kira apa ya?" tanya Harun membolak-balikkan paper bag-nya.


"Aku tidak tau, bukalah bersama dengan Ibu, Yah. Biar sedikit romantis," jawab Vano dengan terkekeh.


"Huh, kamu ini! Tiap hari kami romantis, kamu saja yang nggak lihat!" sinis Harun kemudian ia meninggalkan Vano dan masuk ke dalam kamar.


Vano tersenyum menggelengkan kepalanya, menatap kepergian Harun. Setelah itu barulah ia ke kamarnya.


***. 


Silaunya matahari pagi yang menembus jendela kaca yang ada di kamar Bintang, membuatnya membuka mata.


Bintang dengan malas bangun dari tidurnya dan melihat jam dinding yang ada di kamarnya sudah pukul enam lewat tiga puluh menit. Namun, ketika ia hendak turun dari tempat tidur, ia merasakan kepalanya pusing.


Dengan pelan Bintang memaksakan diri untuk mandi, karena hari ini ia harus mengawasi anak-anak kelas enam ujian praktek.


Dalam kamar mandi Bintang hanya mencuci mukanya dan menggosok giginya, karena badannya menggigil saat terkena air.


Setelah Bintang mersiap, ia keluar dari kamar, menuju meja makan.


"Bi, apa kamu sakit?" tanya Ami yang melihat wajah Bintang pucat.


"Tidak, Nek! Aku hanya sedikit pusing saja." 


"Apa kamu sudah minum obat?" tanya Ahmad dengan memandang  Bintang.

__ADS_1


"Sudah, Kek," jawab Bintang dengan bohong. Ia tidak ingin membuat Ami dan Ahmad cemas.


"Ya sudah, ayo kita sarapan," ajak Ahmad.


Mereka memulai sarapan dengan diam dan baru beberapa suapan Bintang sudah tidak memakan sarapannya.


"Bi, ayo habiskan makananmu!" perintah Ahmad.


"Aku sudah kenyang, Kek!" 


Akhir-akhir ini Ahmad melihat Bintang tidak makan dengan benar dan sering melamun. Seolah-olah senyuman dan keceriaannya hilang.


Setelah Ahmad menyelesaikan makanya, ia segera mengajak Bintang berangkat ke sekolah.


Sesampainya di sekolah, Bintang langsung duduk di kursi kerjanya dan tidak menyapa Vano yang duduk di sampingnya seperti biasanya. Sedangkan Ahmad bergegas membunyikan lonceng, agar anak-anak segera masuk ke dalam kelas masing-masing.


Melihat Bintang diam, Vano menoleh ke arah Bintang dan melihat wajah Bintang yang pucat.


"Bi, apa kamu baik-baik saja?" tanya Vano pada Bintang.


"Iya, kakak. Aku baik-baik saja."


Bintang berdiri dari duduknya dan melangkah hendak keluar untuk mengawasi anak-anak yang sedang praktek. 


Bruk.


Tiba-tiba saja Bintang terjatuh ke lantai tidak sadarkan diri. 


Vano, yang melihat Bintang tidak sadarkan diri, langsung menghampiri Bintang. Begitu juga dengan Ahmad dan guru yang lainya.


Winda segera mengambil minyak kayu putih untuk membangunkan Bintang. Ia sedikit mengoleskannya di hidung. Berharap Bintang segera bangun.


Satu jam sudah, Bintang belum juga bangun dari pingsannya dan itu membuat Ahmad cemas.


"Bagaimana kalau Bintang dibawa ke rumah sakit saja, Pak Ahmad?" ucap pak kepala sekolah.


"Iya, Pak. Saya rasa itu lebih baik."


"Kalau begitu biar saya saja yang membawanya ke rumah sakit." Vano mencoba menawarkan diri untuk membawa Bintang ke rumah sakit. Ia tidak tega jika harus Ahmad yang menggendong Bintang sampai ke jalan raya.


"Ya, sekarang ayo bantu aku mengangkatnya," pinta Ahmad.


"Biar aku aja, Kek," jawab Vano.


"Van, lebih baik kamu  mengawasi anak-anak praktek. Biar aku saja yang membawanya ke rumah sakit!" ujar Aldo.


"Ya, itu lebih baik, karena hari ini yang menjadi pengawas kamu dan Bu Bintang, juga Bu Ima, jadi biar Pak Aldo dan Pak Ahmad saja yang mengantar!" ucap pak kepala sekolah.


"Baik, Pak!" jawab Vano tersenyum pada pak kepala sekolah dengan menganggukkan kepalanya.


Aldo segera membopong tubuh Bintang berjalan keluar dari ruang guru menuju jalan raya untuk mencari taksi diikuti oleh Ahmad.


Kini mereka sudah berada di dalam taksi. Ahmad mengambil ponselnya dan menghubungi Ami agar menyusulnya ke rumah sakit karena Bintang sakit.


Sesampainya di rumah sakit, bintang segera dimasukan ke ruang IGD.

__ADS_1


Tidak berselang lama, Ami datang dan langsung menghampiri Ahmad dan Aldo yang tengah duduk di bangku tunggu depan ruang IGD.


"Ayah, bagaimana keadaan Bintang?" tanya Ami setelah ia ada di depan Ahmad.


"Aku belum tau, Bu! Dari tadi dokter belum ada yang keluar!" 


"Semoga Bintang baik-baik saja!" harap Ami.


"Aamiin." jawab Ahmad dan Aldo secara bersamaan.


"Nenek, duduklah!" Aldo berdiri dari duduknya agar Ami duduk bersama dengan Ahmad.


"Terima kasih, Nak Aldo," ucap Ami sambil duduk di samping Ahmad.


"Sama-sama, Nek."


Aldo kembali duduk di kursi yang lain. Kini mereka semua hanya terdiam memikirkan Bintang yang ada di dalam ruang IGD.


Ahmad menggenggam tangan Ami agar istrinya itu tidak terlalu cemas dan sedih.


Cklek. 


Pintu ruang IGD dibuka dan muncullah dokter yang menangani Bintang.


"Apa Anda keluarga pasien yang bernama Bintang Erlangga?" tanya dokter setelah ia berada di depan Ahmad.


"Iya, benar, Dok!" jawab Ahmad berdiri dari duduknya.


"Bisa kita bicara sebentar?" 


"Bisa, Dok." 


"Mari ikut dengan saya! Kita bicara di ruang kerja saya!" 


Baik, Dok." 


"Ayah, aku ikut," pinta Ami.


"Tidak usah! Kamu di sini saja dengan, Nak Aldo!" larang Ahmad.


"Iya."


Ahmad berjalan mengikuti dokter dari belakang. 


Sesampainya di ruang kerja, dokter laki-laki tersebut duduk di kursi kerjanya.


"Silahkan duduk, Tuan."


___


Bersambung...


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2