
"Sudahlah, aku capek bertengkar terus denganmu, aku mau tidur dan kau tidak usah mendekati aku!" ketus Maya, kemudian ia naik keatas tempat tidur.
Hamit hanya menghela nafasnya, menghadapi istrinya yang selalu saja tak sejalan dengannya itu, kemudian ia duduk di sofa panjang yang ada di kamarnya tersebut.
***
Malam yang gelap Havivah tengah duduk dalam kamarnya seorang diri dengan memandang sebuah foto orang yang selama ini ia cintai dan orang yang sangat ia benci.
"Cukup satu bulan saja kau bahagia dengannya dan aku akan mengambil apa yang seharusnya menjadi milikku! Aku mencintainya dan aku tidak ingin dia menjadi milikmu selamanya! Angap saja selama ini kau menyewa dia dariku dan sekarang waktumu sudah habis!" gumam Havivah dengan mengepalkan tangannya, menatap tajam foto orang yang ia benci. Ia melamun mengingat kedatangan orang tua Bintang.
Saat itu Kenzo datang ke rumahnya, lima hari sebelum pernikahan Vano dan dirinya digelar.
"Selamat siang, Tuan Hamit. Apa kabar?" tanya Kenzo dengan membuka kacamata hitamnya.
"Kabar baik Tuan, silahkan duduk."
"Terima kasih, Tuan!" Kenzo segera duduk berhadapan dengan Hamit.
"Ini benar-benar suatu kehormatan bagi saya, karena kedatangan orang yang sangat terhormat seperti Anda!" ucap Hamit dengan begitu ramah.
"Ah, tidak perlu memuji saya, Tuan! Anda juga orang hebat, karena terbukti Anda dan keluarga Anda menjadi kepala desa disini secara turun temurun tanpa ada yang bisa menggantikannya!"
"Itu hanya kebetulan saja, Tuan! Jika saya boleh tau ada urusan apa yang membuat Anda mau bersusah-payah datang kemari?" Hamit mencoba mencari tahu kenapa Kenzo datang kerumahnya.
"Apa saya boleh berbicara dengan putri Anda?"
"Tentu boleh, saya akan memanggilnya sebentar!"
"Silahkan!"
Hamit memanggil Havivah dan tak lama kemudian ia keluar bersama putrinya dengan membawa nampan yang berisi kopi.
"Silahkan diminum, Tuan!" ucap Havivah, setelah ia menyajikan kopi di depan Kenzo.
"Terima kasih!"
"Kata Ayah, Anda ingin berbicara dengan saya! Apa itu benar, Tuan?"
"Iya, saya ingin memberikan sebuah tawaran yang pasti itu sangat menguntungkan mu dan juga keluarmu ini!"
"Tawaran apa itu, Tuan?" tanya Havivah dengan mengerutkan keningmu.
"Saya akan memberikan 50 milyar dan juga rumah beserta isinya lengkap dengan mobilnya. Asal kamu mau meninggalkan Vano, tapi kalau kamu menolak tidak apa-apa dan silahkan lanjutkan pernikahanmu dengannya. Semoga kamu bahagia."
"Boleh kami berpikir sebentar!" tanya Havivah yang sudah mulai tergiur oleh uang yang ditawarkan Kenzo.
"Waktumu tidak banyak besok pagi kau harus memutuskan pilihan!"
Setelah berkata demikian Kenzo berdiri dari duduknya.
"Tuan mau kemana?" tanya Hamit, yang melihat Kenzo berdiri hendak pergi.
__ADS_1
"Saya mau pulang dan pikirkanlah apa yang saya tawarkan!"
"Tunggu tuan!"
Baru saja Kenzo berjalan satu langkah, namun Hamit sudah memanggilnya.
"Ada apa, Tuan?" tanya Kenzo kembali membalikkan badannya menatap Hamit.
"Havivah pasti akan meninggalkan Vano, Tuan!"
Kenzo tersenyum tipis ia senang akhirnya mereka mereka mau menyetujuinya tanpa harus bekerja lebih keras lagi.
"Ayah! Kenapa bicara seperti itu?" Havivah sedikit kesal, karena Hamit dengan sepihak menyetujuinya.
"Tuan duduklah dulu saya akan bicara sebentar dengan Havivah!"
Silahkan," jawab Kenzo, kemudian ia kembali duduk!"
"Ayo ikut dengan, Ayah!" Hamit menarik lengan Havivah masuk kedalam ruang keluarga.
"Ayah lepaskan aku dan aku tidak suka Ayah memutuskan sendiri, karena aku sangat mencintainya! Aku akan tetap menikah dengan Mas Vano!"
"Jangan bodoh Havivah, ini adalah kesempatan kota untuk mendapatkan uang tanpa bersusah-payah! Ingat 50 milyar.itu bukan uang yang sedikit dan kita bisa menjadi orang kaya nomor satu di desa ini! Dengan uang itu kamu juga bisa membeli apapun yang kau mau apalagi ada tambahan rumah dan juga mobil untuk kita."
"Tapi aku tidak ingin berpisah dengannya, Ayah!"
"Masalah cinta itu nanti saja, kau bisa merebutnya kembali setelah semua kita dapatkan!"
"Apa benar aku bisa mendapatkannya kembali?"
"Ya, tapi kau harus bermain cantik jangan sampai Kenzo tau!"
"Baiklah Ayah, aku setuju!"
"Ya sudah ayo kita keluar!"
Havivah menganguk, kemudian mereka berdua keluar dan kembali menghampiri Kenzo.
"Maaf, Tuan, kalau lama menungu!" ucap Hamit, kemudian ia duduk di depan Kenzo.
"Tidak apa-apa, Tuan! Jadi bagaimana?"
"Saya setuju, Tuan!" jawab Havivah.
"Bagus, tapi ingat jangan berani macam macam!"
"Tidak Tuan! Saya tidak akan melakukan apa-apa jika Tuan menepati janji!"
"Kau tidak perlu khawatir, saya pasti akan menepati janji terkecuali jika kau mengingkarinya, saya bisa pastikan kau dan orangtuamu akan hancur!" ucap Kenzo dengan datar.
"Saya mengerti itu tuan dan saya tidak akan melanggarnya!" ucap Havivah dengan bersungguh-sungguh.
__ADS_1
Kenzo mengambil sebuah map yang berisi perjanjian.
"Kau baca dan tanda tangani surat perjanjian ini!" Kenzo menyodorkannya pada Havivah.
Havivah membaca dengan teliti isi surat perjanjian tersebut dan kemudian ia dengan cepat menandatanganinya.
"Saya sudah menandatanganinya, Tuan!" Havivah kembali memberikan map tersebut pada Kenzo.
"Ini kunci rumah dan mobil juga alamatnya! Selebihnya setelah kamu mengakhiri hubunganmu dengan Vano dan Bintang bisa menikah dengannya."
"Baik, Tuan!"
Cklek
Seketika itu lamunan Havivah buyar saat ia mendengar pintu kamarnya dibuka oleh Hamit.
"Kenapa kau belum tidur Hav?" tanya Hamit, melangkah menghampiri Havivah.
"Aku tidak bisa tidur, Ayah!" jawab Havivah dengan memandang Hamit.
"Apa kau memikirkan Vano?" tanya Hamit, membelai lembut kepala Havivah setelah ia ada disamping putrinya itu.
"Aku merindukannya dan ingin bersamanya, aku sudah tidak bisa bertahan terlalu lama Ayah!"
"Lebih baik kau lupakan saja dia!"
"Aku tidak mau, sekarang kita sudah mendapatkan harta yang banyak darinya dan sekarang aku akan mengambilnya kembali!"
"Kamu jangan gegabah dia bukan orang yang bodoh banyak mata-mata yang mengawasi kita!" ucap Hamit memperingatkan Havivah.
"Aku tau itu, Ayah!"
"Lalu kenapa kau nekat?"
"Karena aku mencintainya!"
"Jika kamu benar-benar menginginkannya maka kamu harus bertindak penuh perhitungan jangan sampai orang tua Bintang tau, karena aku tidak ingin terjadi sesuatu padamu!"
"Aku tau apa yang harus aku lakukan dan jangan khawatirkan aku!"
"Ya sudah sekarang kamu tidurlah, Ayah akan keluar."
Havivah mengangguk kemudian Hamit keluar dari kamar putrinya itu.
____
Bersambung...
jangan lupa like komen dan vote
sambil menunggu episode selanjutnya jangan lupa mampir kesini ya .
__ADS_1