Cinta Bintang

Cinta Bintang
Bertemu


__ADS_3

"Kenapa kamu senyum-senyum sendiri seperti itu, Bi?" tanya Ahmad yang entah sejak kapan ia berada di samping Bintang.


Pertanyaan Ahmad membuat lamunan bintang buyar dan kaget.


"Eh, enggak kok, Kek!" jawab Bintang tersenyum malu, karena ketahuan oleh Ahmad sedang senyum-senyum sendiri.


"Sepertinya cucu Kakek sedang jatuh cinta dengan seseorang? Siapa sih, dia?" goda Ahmad.


"Ih, Kakek, apaan sih. Orang aku cuma membayangkan film kartun yang lucu aja kok!" Bintang berdalih, berharap Ahmad percaya.


"Oh, cuma film kartun? Kirain pria tampan!" ucap Ahmad dengan terkekeh geli.


"Kakek, jangan meledekku terus!" kesal Bintang dengan mencebikkan bibirnya.


"Oke, maaf. Sekarang ayo kita masuk, ini sudah hampir gelap," ajak Ahmad.


"Iya, Kek!" jawab Bintang menganggukkan kepalanya, kemudian ia berdiri dari duduknya.


Bintang dan Ahmad masuk ke dalam rumah, karena hari sudah mulai gelap.


Ahmad menghampiri Ami yang tengah menonton TV, sedangkan Bintang masuk ke dalam kamar.


Di dalam kamar Bintang menyiapkan berkas berkas yang akan digunakan untuk melamar sebagai guru.


***


Pagi-pagi sekali, Bintang sudah rapi dengan menggunakan atasan blouse berwarna putih dipadukan dengan rok span diatas lutut berwarna hitam, tidak lupa ia mengenakan blazer lengan panjang senada dengan warna roknya. Sedangkan rambutnya dibiarkan terurai dan make-up tipis membuatnya semakin terlihat cantik serta menari.


Bintang segera mengambil tas jinjingnya dan berkasnya. Kemudian ia keluar dari kamar. Namun sebelum ia keluar Bintang melihat jika ia belum menggunakan alas kakinya.


"Ya Tuhan, kenapa aku tidak menggunakan sepatu," gumam Bintang dengan menepuk jidatnya.


Karena ini di desa maka Bintang  memakai sepatu flat shoes agar ia mudah berjalan ditempat yang becek atau pada tempatnya yang banyak batunya.


Setelah memakai alas kaki, Bintang bergegas keluar dari kamar menuju meja makan. Di sana Ami dan Ahmad sudah menunggunya.


"Ayo, Bi, duduklah!" perintah Ahmad.


"Iya Kek!" jawab Bintang sambil meletakkan tas jinjingnya dan berkasnya diatas kursi.


Mereka bertiga memulai sarapan dengan diam tanpa berbicara.


Usai sarapan Ahmad dan Bintang berangkat ke sekolah. Namun kali ini Ahmad tidak membawa motor, karena motornya sedang diservis.


"Kakek, apa sekolahannya jauh?" tanya Bintang yang berjalan di samping Ahmad.


"Ya, lumayan jauh, Bi! Apa kamu sudah capek?" tanya Ahmad memandang Bintang dengan terus berjalan.


"Tidak, Kek!" jawab Bintang tersenyum.


"Ya sudah, cepat sedikit jalanya. Kakek sudah terlambat!" ucap Ahmad dengan mempercepat jalannya.


"Iya, Kek!" Bintang juga mempercepat jalannya.


Dari arah belakang tiba tiba-tiba saja ada seorang pria tampan menghentikan motornya tepat di samping Bintang dan Ahmad

__ADS_1


"Pagi, Kek," sapa pria terse dengan tersenyum.


"Pagi, Nak Vano," jawab Ahmad juga tersenyum.


'Astaga … jadi dia Vano? Tampan sekali dia! Duh, jadi pengen peluk dia!' batin bintang dengan menatap Vano tak berkedip.


"Tumben Kakek jalan kaki, mana motornya, Kek?" tanya Vano.


"Biasalah, motor tua, Van. Suka mogok!" jawab Ahmad dengan terkekeh.


"Apa Kakek mau aku antar?" 


"Tidak perlu, Van! Aku jalan saja sama cucuku." 


"Jadi dia cucu Kakek?" 


"Iya, Van, dia ini baru kemarin sampai dari Jakarta dan akan mengajar di sini," jelas Ahmad.


"Wah, syukur deh, ada tambahan guru baru di tempat kita."


"Iya, Van."


"Hay, Kak. Apa kabar?" sapa Bintang, tersenyum melambaikan tangannya.


"Baik, tapi apa sebelumnya kita sudah saling mengenal?" tanya Vano dengan mengerutkan keningnya.


'Ya Tuhan, Kak Vano ternyata melupakanku! Padahal sedetikpun aku tidak pernah melupakan dia,' batin Bintang dengan sedikit kecewa.


"Kok diam?" Vano kembali bertanya saat Bintang terdiam.


"Aku Bintang Kak! Apa Kakak lupa denganku? Dulu waktu kita kecil, kita pernah bermain bersama dan aku pernah tenggelam di sungai," ucap Bintang mengingatkan Vano tentang kebersamaannya.


"Hahaha …" Vano tertawa setelah ia mengingat Bintang.


"Kenapa tertawa?" tanya Bintang dengan begitu bingung, melihat Vano yang tiba-tiba tertawa.


"Aku sekarang ingat siapa kamu," ucap Vano masih dengan tertawa.


"Nak Vano, bisakah kamu mengantar Bintang kesekolah?" 


"Tentu saja bisa."


"Terima kasih, Nak."


"Sama-sama, Kek!" jawab Vano tersenyum.


"Bi, berangkatlah bareng Vano!" perintah Ahmad.


"Tapi bagaimana dengan, Kakek?" tanya Bintang dengan memandang Ahmad.


"Kakek, jalan kaki saja."


"Ya sudah, kalau begitu aku juga akan jalan kaki saja!" Bintang sebenarnya sangat ingin berangkat bersama Vano, tapi ia tidak tega dengan Ahmad yang berjalan sendirian.


"Kalau kamu ikut jalan sama, Kakek. nanti kita akan terlam. Ayo, ikutlah sama,Nak Vano!" perintah Ahmad.

__ADS_1


"Baiklah Kek."


Akhirnya Bintang menuruti apa yang dikatakan oleh Ahmad. Dengan segera ia naik ke atas motor Vano dan melingkarkan tangannya di pinggang sang pujaan hati.


Dengan perlahan Vano mulai menjalankan motornya menuju sekolahan SD yang jaraknya masih satu kilo lagi.


"Bi, kenapa kamu mau jadi guru di desa seperti ini?" tanya Vano dengan sedikit menaikkan nada bicaranya agar Bintang mendengar.


"Aku ingin cari suasana baru Kak. Aku lelah hidup di kota terus," bohong Bintang, ia tidak ingin memberitahu apa alasan sebenarnya, jika ia datang ke desa hanya untuk mendapatkan cinta dari pria yang ada di masa kecilnya yaitu Vano.


"Oh, gitu! Semoga kamu betah ya, tinggal di sini."


"Aku pasti betah jika Kak Vano selalu ada bersamaku."


"Aku pasti akan menjadi sahabatmu yang baik, Bi."


"Terima kasih, Kak!" 


Kini mereka saling terdiam tanpa mengatakan apapun lagi.


'Sebenarnya aku tidak hanya ingin menjadi sahabatmu saja Kak Vano, tapi aku juga ingin menjadi kekasihmu. Baiklah, untuk saat ini mungkin Kak Vano belum bisa mencintaiku namun aku tidak akan menyerah dan aku akan berusaha membuatmu mencintaiku,' batin Bintang. 


Tidak terasa sekarang mereka sudah ada di parkiran sekolahan.


"Ayo masuk, Bi!" ajak Vano.


"Apa Kak Vano juga mengajar di sini?" tanya Bintang dengan mengerutkan keningnya.


"Iya, aku sudah 3 tahun mengajar di sini!" jawab Vano tersenyum memandang Bintang sekilas.


"Kakak, mengajar apa?" 


"Bahasa Inggris!" 


"Waw, Kak Vano berarti pandai berbahasa Inggris dong?" puji Bintang.


"Ya lumayan!" 


Mereka berdua masuk kedalam ruang guru. Kini Vano duduk di meja kerjanya sedangkan Bintang menghadap kepala sekolah di ruangan lain.


Karena disekolah ini kekurangan guru, maka Bintang untuk sementara bisa mengajar sebagai guru honorer dan mulai besok ia sudah bisa mengajar. 


Dengan senang hati  Bintang menerimanya, apalagi ia tahu kalau ternyata Vano juga mengajar disana dan ini benar-benar diluar dugaannya. Karena tanpa sengaja ia sudah bertemu dengan pria pujaan hatinya.


Setelah Bintang bertemu kepala sekolah, ia tidak langsung pulang melainkan menunggu Vano dan duduk di koridor sekolah. 


Usai mengajar Vano menghampiri Bintang yang duduk di koridor sekolah.


"Bi, apa urusanmu sudah selesai?" tanya Vano sambil duduk di samping Bintang.


"Sudah, Kak!" jawab Bintang tersenyum.


"Kenapa kamu belum pulang?" 


___

__ADS_1


Bersambung...


 


__ADS_2