Cinta Bintang

Cinta Bintang
Pernyataan Cinta


__ADS_3

"Apa kita harus menangkapnya sendirian?" tanya Harun dengan pelan sambil memandang Kenzo.


"Ya, Bapak tunggu disini. Nanti sekiranya saya sudah berhasil menangkapnya, cepat Bapak pukul kentongan itu supaya warga datang," jalas Kenzo dengan mata masih menatap gerakan si maling.


"Baiklah, saya mengerti! Hati-hati sepertinya dia membawa senjata!" ucap Harun memperingatkan.


"Ya," jawab Kenzo mengangguk.


Kenzo berjalan mengendap-endap agar tidak diketahui oleh maling.


Sesampainya di dekat si pencuri Kenzo segera menyergapnya. 


Disaat pencuri itu mulai memberontak, Harun dengan cepat memukul kentongannya sambil melangkah menghampiri Kenzo.


Para warga mulai berdatangan, membuat si pencuri semakin panik apalagi tanganya dipegang kuat oleh Kenzo.


"Ayo kita serahkan dia ke pihak berwajib dan jangan main hakim sendiri," ujar Harun, ketika para warga emosi dan hendak menghajar maling tersebut.


"Ya, ayo kita bawa dia ke kantor polisi biar kapok!" seru warga dengan amarahnya.


Tidak lama kemudian Hamit datang dengan membawa aparat keamanan untuk mengamankan pencuri tersebut sehingga mereka tidak jadi membawanya ke kantor polisi.


"Terima kasih atas bantuannya, Pak!" ucap Hamit mengulurkan tangannya berjabatan tangan dengan Kenzo.


"Sama-sama Pak!" 


"Sekarang kalian bubar lah dan kembali ke pos untuk berjaga," perintah Hamit pada seluruh warganya.


"Baik, Pak!" jawab semuanya. 


Semua orang bubar ada yang kembali ke pos ada juga yang pulang ke rumah. Kini hanya tinggal Harun, Kenzo dan Hamit yang ada di sana.


"Saya duluan Pak," ucap Harun dengan datar tidak seperti biasanya. 


"Ya," jawab Hamit menganggukkan kepalanya.


"Saya juga permisi dulu Pak!" pamit Kenzo.


"Ya." 


Setelah semuanya pergi, Hamit kembali pulang ke rumahnya.


Pukul tiga dini hari Kenzo dan Harun kembali pulang ke rumah masing-masing dan segera, sedangkan warga yang lain sebagian masih berjaga di pos.


Sesampainya di rumah Kenzo segera membersihkan badannya dan tidur di samping Tea. Ia berharap besok akan ada kabar baik mengenai perjodohan yang ia rencanakan bersama dengan Harun.


***


Seperti biasa, pagi-pagi sekali Vano bersiap hendak berangkat mengajar. Namun sebelum ia berangkat Harun memanggilnya dan menunggunya di ruang keluarga. Dengan segera ia keluar kamar menghampiri sang ayah. 


"Apa Ayah memanggilku?" tanya Vano dengan membawa tas kerjanya, karena rencananya setelah berbicara dengan Harun, ia akan langsung berangkat.


"Ya, duduklah dulu!" perintah Harum.


"Apa yang ingin Ayah bicarakan denganku?" tanya Vano setelah ia duduk di depan Harun.


"Begini, Van, selama ini kan kamu dekat dengan Bintang. Bagaimana kalau kamu menikah saja dengannya?" tutur Harun dengan memandang Vano

__ADS_1


"Kenapa tiba-tiba Ayah ingin aku menikah dengan Bintang?" tanya Vano dengan mengerutkan keningnya.


"Ayah tidak punya cara lagi untuk menghadapi hinaan para warga, tapi itu semua terserah kamu, karena yang menjalani pernikahan itu kamu! Sekarang pikirkanlah dulu baik-baik." 


"Aku mengerti hal itu, Ayah, tapi aku tidak mencintai Bintang dan aku hanya bersahabat dengannya saja!" 


"Ya sudah, kalau kamu tidak mau, Ayah tidak akan memaksa. Sekarang Ayah akan memanggil dokter di Puskesmas dulu!" Harun berdiri dari duduknya. 


"Memangnya siapa yang sakit, Ayah?" tanya Vano juga berdiri dari duduknya.


"Semenjak pulang dari rumah Havivah ibumu mulai jatuh sakit! Mungkin dia memikirkan pernikahanmu yang gagal itu! Kamu jangan berangkat dulu ke sekolah tunggulah dia aku akan memanggil dokter sebentar!" 


"Baik, Ayah!" 


Harun keluar rumah sedangkan Vano masuk ke dalam kamar Salma. 


dalam kamar, Vano melihat Salma berbaring di tempat tidur dengan wajah yang pucat.


Vano duduk di samping Salma kemudian ia membelai lembut kepalanya.


"Ibu jangan banyak pikiran."


"Ibu tidak memikirkan apa-apa, cuma sedih aja, karena kamu gagal menikah. padahal sebelumnya Ibu sudah membayangkan akan bermain dengan cucu seperti yang lainya," lirih Salma.


"Ibu jangan sedih, aku akan tetap menikah sesuai dengan tanggal yang sudah ditentukan!" ucap Vano, tanpa berpikir panjang lagi.


"Benarkah kamu akan menikah?" tanya Salma dengan mengembangkan senyumnya.


"Ya, tapi tidak dengan Havivah melainkan dengan Bintang!" 


"Tidak apa-apa yang penting punya cucu dan tidak malu sama tetangga," jawab Salma dengan bahagia.


"Ya," jawab Salma mengangguk.


Dua Puluh menit kemudian, Harun datang dengan membawa dokter.


"Ayah, aku berangkat dulu ini sudah siang!" pamit Vano tanpa menunggu Salma diperiksa terlebih dahulu.


"Ya, berangkatlah!" 


Setelah berpamitan, Vano segera meninggalkan rumah menaiki motor menuju sekolah.


Sesampainya di sekolah, Bintang sudah duduk di meja kerjanya sambil mengoreksi tugas anak-anak.


"Pagi, Bi!" sapa Vano.


Bintang mendongakan kepalanya. "Pagi juga, Kak!"


"Bi, nanti kita pulang bareng ya? Ada hal penting yang ingin aku bicarakan padamu!" 


"Baik, Kak! Sekarang ayo kita mengajar!" ajak Bintang setelah ia mendengar lonceng berbunyi.


"Ya, kamu duluan saja!"


"Oke."


Bintang keluar dari ruang guru menuju kelas tiga. Dalam kelas, ia sibuk mengajar anak-anak hingga jam istirahat tiba.

__ADS_1


Hari ini hanya ada jadwal satu kelas jadi setelah mengajar ia menunggu Vano di dalam ruang guru sambil bertukar pesan dengan Carla melalui ponselnya.


Setelah jam sekolah selesai, Vano mengajak Bintang segera meninggalkan sekolah menuju danau tempat kemarin mereka kunjungi.


Sesampainya di danau Bintang segera turun dari motor Vano dan duduk menghadap danau. 


Setelah memarkirkan motornya, Vano juga duduk di samping Bintang.


"Apa yang ingin Kak Vano bicarakan denganku? Apa itu sangat penting?" tanya Bintang memulai pembicaraannya.


"Ya, ini sangat penting sekali bagiku!" 


"Apa itu?" tanya Bintang, mengerutkan keningnya memandang Vano.


"Apa kau tau kalau kita akan dijodohkan?" 


"Tidak!" 


"Memangnya orang tuamu tidak memberitahumu mengenai hal ini?" tanya Vano dengan serius.


"Tidak!" jawab Bintang menggelengkan kepalanya.


"Ayah bilang kita mau dijodohkan, tapi kenapa kamu tidak tau?" heran Vano.


"Mungkin mereka belum sempat memberitahu aku," jawab Bintang dengan santainya.


"Apa kamu mau jika dijodohkan denganku?" 


"Mau."


"Apa alasanmu menerima perjodohan ini?" 


"Apa aku boleh mengatakan dengan jujur?" tanya Bintang menatap lekat mata Vano.


"Katakanlah!" 


"Sebenarnya dari awal aku memang sudah mencintaimu, tapi aku tau kau milik Havivah. Jadi aku memendamnya dalam hati." Bintang memalingkan wajahnya  malu, karena telah menyatakan perasaannya yang selama ini ia pendam.


Vano yang mendengar pernyataan cinta dari Bintang hampir tidak percaya. Namun apa yang ia dengar itu merupakan hal  nyata yang diungkapkan oleh sahabatnya itu.


"Maaf, aku belum bisa mencintaimu, tapi jika nanti kita menikah, aku akan berusaha untuk membuka hatiku untukmu!" 


"Benarkah itu?" tanya Bintang, kembali menghadap Vano dengan perasaan bahagia.


"Ya, aku serius!" 


"Terima kasih, aku akan berusaha untuk meraih cintamu," ucap Bintang, tersenyum mengusap lembut tangan Vano yang masih dibalut perban.


"Berusahalah, semoga kau berhasil, karena hatiku sudah terlanjur tersakiti oleh wanita!" ucap Vano dengan datar.


"Aku tau itu, aku akan berusaha keras meski itu sulit!" jawab Bintang dengan begitu semangat.


___


Bersambung...


 

__ADS_1


 


__ADS_2