Cinta Bintang

Cinta Bintang
Hanya Menganggap Sebagai Sahabat


__ADS_3

Belum sempat Vano melanjutkan perkataannya namun Bintang sudah terpeleset. Beruntung Vano sigap dan segera menahan tubuhnya sehingga ia tidak terjatuh di tanah.


"Kalau jalan hati-hati, Bi!"


"Iya Kak, maaf. Habis jalanya licin banget," lirih Bintang.


"Disini memang sedikit licin,Bi! Bagaimana kalau kita kembali saja?" 


"Ya," jawab Bintang menganggukkan kepalanya.


Mereka berdua berjalan menuju motor, sesampainya di sana Vano segera menaiki motornya.


"Bi, apa kamu suka dengan rujak cingur?" tanya Vano.


"Aku belum pernah memakannya, Kak!" 


"Apa sekarang kamu mau mencicipinya?" 


"Mau!" jawab Bintang dengan cepat sambil menganggukkan kepalanya.


"Ayo naiklah, kita akan cari rujak cingur yang enak di sekitar sini!" ajak Vano agar Bintang segera naik ke atas motornya.


Bintang menganggukkan kepalanya, kemudian ia naik ke atas motor dengan melingkarkan tangan kanannya  di pinggang Vano.


Setelah memastikan Bintang duduk dengan benar, Vano segera menjalankan motornya dengan pelan.


Sesampainya di tempat penjual rujak cingur, Vano menghentikan motornya.


Bintang turun dari motor, dan menunggu Vano yang sedang memarkirkan motornya.


"Ayo," ajak Vano setelah ia memarkirkan motornya.


Vano memesan dua porsi rujak cingur, kemudian ia membawa Bintang duduk di tempat yang sudah disiapkan.


Tidak butuh waktu lama, pesanan sudah disajikan.


"Makanlah!" perintah vano.


"Iya," jawab Bintang dengan mengangguk.


Mereka berdua mulai memakan rujak cingurnya. Bintang yang belum pernah memakan rujak cingur, awalnya sedikit ragu. Namun setelah merasakannya ia tersenyum, karena rasanya begitu enak.


"Apa kamu suka, Bi?" tanya Vano setelah Bintang mencicipinya.


"Ini enak sekali, Kak!" jawab Bintang dengan mulut yang masih penuh dengan makanan.


"Jika kamu suka habiskanlah!" perintah vano.


Bintang mengangguk, kemudian ia makan dengan lahap begitu pula dengan Vano.


Selesai makan Vano membayar rujak cingurnya, kemudian ia mengajak Bintang pulang sebelum matahari tenggelam.

__ADS_1


"Kak terima kasih sudah mengajakku jalan-jalan, aku senang sekali," ucap Bintang setelah mereka sampai di depan rumah Ahmad.


"Iya sama-sama, sekarang masuklah!" perintah Vano.


"Apa kakak tidak mampir dulu?" 


"Lain kali saja, Bi. Sekarang masuklah!" tolak Vano.


"Iya, Kak."


Setelah Bintang masuk ke dalam rumah, barulah Vano menjalankan motornya pulang ke rumah.


Sesampainya di rumah, Vano memarkirkan motornya dan masuk ke dalam.


"Vano, duduklah!" perintah Harun saat Vano melewati ruang keluarga.


"Ada apa, Ayah?" tanya Vano sambil duduk di depan Harun.


"Ayah tidak melarangmu bergaul dengan siapapun, tapi kamu harus ingat, jika kau sudah memiliki Havivah yang sedang menyelesaikan pendidikannya di Kairo!" ucap Harun, memperingatkan Vano agar ia tidak terlalu dekat dengan seorang wanita.


"Aku mengerti, Ayah! Aku sangat mencintai Havivah dan aku tidak akan mengkhianatinya!" ucap Vano dengan tegas.


"Syukurlah, aku hanya takut kamu akan mencintai wanita lain dan mengkhianati cinta Havivah."


"Itu tidak akan terjadi, Ayah. Untuk Bintang aku hanya menganggapnya sebagai teman, tidak lebih dari itu. Ayah jangan khawatir!" 


"Ya sudah, sekarang istirahatlah," perintah Harun.


"Baik, Ayah!" Vano berdiri dari duduknya, meninggalkan Harun di ruang keluarga.


"Aku merasa ada sesuatu buruk yang akan terjadi pada hubungan Vano dan Havivah. Ya Tuhan, tolong jangan buat putraku patah hati karena cinta," gumam Harun memandang Vano yang sudah menjauh darinya.


***


Ini merupakan hari pertama Bintang mengajar. Maka dari itulah ia berangkat lebih awal, apalagi jarak sekolahan dengan rumahnya sangat jauh dan membutuhkan waktu satu jam jika harus ditempuh dengan jalan kaki, sedangkan motor Ahmad belum selesai diservis.


Bintang berjalan bersama Ahmad masuk ke dalam pintu gerbang sekolah, dari belakang Vano datang dengan naik motor.


"Pagi Kakek, Bi!" sapa Vano yang sudah menghentikan motornya.


"Pagi, Nak Vano!" 


"Pagi, Kak!" jawab Bintang, tersenyum bahagia saat melihat Vano sudah datang.


"Saya duluan ya, Kek, Bi. Mau parkir motor dulu!" pamit Vano dengan tersenyum.


"Iya," jawab Bintang dan Ahmad secara bersamaan.


Sesampainya di ruang guru, Ahmad segera membunyikan lonceng agar anak-anak masuk kelas. Sedangkan Bintang ditemani oleh pak kepala sekolah memperkenalkan diri di ruangan kelas enam.


Setelah memperkenalkan Bintang pada anak-anak pak kepala sekolah meninggalkan Bintang.

__ADS_1


Kini Bintang memulai pelajarannya hingga jam istirahat tiba.


"Karena ini sudah waktunya istirahat tugas ini kalian jadikan PR saja dan kalian bisa beristirahat," ucap Bintang mengakhiri pelajarannya.


"Baik, Bu!" jawab mereka semua dengan serentak.


Bintang keluar dari kelas menuju ruang guru, sesampainya disana ia duduk di meja kerja yang kebetulan bersebelahan dengan Vano.


"Bagaimana, Bi? Apa ada kesulitan mengajar mereka?" tanya Vano, tersenyum memandang Bintang.


"Semuanya lancar, Kak!" jawab Bintang membalas senyuman Vano.


"Syukurlah, ayo kita makan siang di kantin," ajak Vano.


"Lain kali saja Kak, aku sudah bawa bekal dari rumah," tolak Bintang.


"Kamu pandai memasak, ya?" tanya Vano.


"Tidak bisa dan aku baru belajar memasak sama nenek," jawab Bintang dengan jujur.


"Jangan menyerah untuk belajar memasak, agar kelak suamimu tidak suka mencari makan di luar," ucap Vano dengan terkekeh.


"Apa Kakak, tipe pria yang suka dengan wanita yang pandai memasak?" tanya Bintang, menatap wajah tampan Vano.


"Iya," jawab Vano sambil membayangkan Havivah yang sering membawakan makanan untuknya.


"Apa kakak mau mencicipi masakan ku?" tanya Bintang dengan sedikit ragu.


"Boleh."


Bintang tersenyum, kemudian mengambil dua bekal yang ia bawa dari rumah, dalam tas bekalnya.


"Ini, Kak!" Bintang memberikan satu bekalnya untuk Vano.


Vano membuka kotak bekal milik Bintang dan mencicipinya. Sedikit hambar tapi lumayan untuk orang yang baru belajar memasak. Bahkan kini Vano mulai membandingkan antara masakan Bintang dengan masakan Havivah dan sudah bisa dipastikan Havivah lah pemenangnya.


"Bagaimana rasanya, Kak?" tanya Bintang dengan khawatir jika makanan yang ia masak tidak enak.


"Enak, tapi kamu bisa menambahkan sedikit lagi garamnya dan penyedap rasa supaya lebih enak," jawab Vano tersenyum menatap waja Bintang yang cemas.


"Beneran, enak? Kakak tidak bohong kan?" tanya Bintang memastikan.


"Tidak, Bi! Masakan kamu enak tapi sedikit hambar, jadi kamu bisa menambahkan garam dan penyedap rasa agar lebih enak lagi!" ucap Vano, tersenyum menepuk pundak Bintang.


"Baiklah besok aku akan menambah garam dan penyedap rasa kedalam masakanku, tapi Kakak mau mencicipinya lagi kan?" 


"Iya, aku pasti akan mencicipi masakanmu, tapi kenapa kamu repot-repot membawa bekal dari rumah? Bukankah disini ada kantin? Apa kamu memang tidak suka makanan yang mereka jual?" 


"Bukan aku tidak suka makan di kantin, tapi aku harus berhemat sampai gajian bulan depan. Karena orang tuaku tidak lagi memberikanku uang jajan semenjak aku tinggal di sini," jelas Bintang.


"Kenapa tidak memberi uang jajan lagi?" heran Vano, karena setahunya Bintang merupakan anak dari pengusaha yang kaya-raya di negara ini.

__ADS_1


___


Bersambung….


__ADS_2