Cinta Bintang

Cinta Bintang
Putus


__ADS_3

Hari ini kebetulan hari Minggu. Menurut kabar yang vano dengar, Bintang sudah pulang dari rumah sakit. Maka dari itulah ia berniat menjenguknya bersama dengan Havivah.


Setelah Vano mandi ia mengambil pakaiannya dari dalam lemari, ia pun  segera memakainya. Tak lupa ia memakai parfum Juga merapikan rambutnya. Kini ia sudah terlihat tampan dengan penampilannya yang sederhana namun terlihat menarik dan mempesona membuat para wanita bertekuk lutut di hadapannya.


Vano keluar dari kamarnya menuju motornya yang terparkir di depan teras rumahnya. 


Sesampainya di motor, Vano bergegas menjalankan motornya dengan pelan menuju rumah Havivah.


Tidak lama setelah sampai di halaman rumah Havivah, ia memarkirkan motornya dan mengetuk pintu rumah sang kekasih.


Tok, tok, tok.


Cklek.


Tidak lama kemudian, munculah Hamit dari balik pintu.


"Sore, Om," sapa Vano.


"Sore Van, ayo masuk," ajak Hamit.


"Tidak perlu, Om. Aku cuma mau ajak Havivah keluar menjenguk teman kami yang baru keluar dari rumah sakit," jelas Vano.


"Wah, kamu terlambat Van. Baru saja Havivah pergi dengan temannya!" 


"Pergi kemana, Om?" tanya Vano dengan mengerutkan keningnya.


"Aku juga tidak paham sih, kemana mereka pergi!" 


"Baiklah, Om. Kalau begitu aku pamit dulu."


"Ya, pergilah," ucap Hamit dengan tersenyum.


Setelah Vano berpamitan dengan Hamit, ia segera meninggalkan rumah Havivah. Menyusuri jalanan dengan mengendarai motornya dengan pelan.


'Sebenarnya kemana Havivah pergi dan dengan siapa? Apa dia lupa kalau hari ini kita akan menjenguk Bintang di rumah?' batin Vano.


Vano terus saja bergelut dengan batinnya, sambil mengendarai motornya, hingga ia hampir saja menabrak kucing yang hendak menyebrang. Dengan cepat ia mengerem motornya dan berhenti tepat di depan pos ronda.


"Huh, untung saja nggak nabrak kucing itu!" gumam Vano memandang kucing yang akan menyebrang.


Setelah cukup lama ia berhenti, iapun kembali menyalakan motornya. Namun ketika ia hendak menjalankan motornya, mata Vano tak sengaja melihat seorang wanita dibalik pohon yang ada di dekat pos ronda sedang bermesraan sambil menyatukan bibirnya.


"Siapa dia? Dari bentuk tubuhnya sepertinya aku mengenalnya?" gumam Vano dalam hati.

__ADS_1


Vano segera turun dan memarkirkan motornya, ia semakin penasaran dengan wanita yang asik menyatukan bibir hingga akhirnya ia lebih dekat lagi.


Deg. 


Jantung Vano terasa mau copot saat melihat siapa wanita itu. Ia mengepalkan tangannya dengan mengeratkan giginya menahan amarahnya. 


Dengan cepat ia menghampiri mereka dan segera menarik baju pria tersebut.


Bug, bug, bug.


Vano, tak dapat lagi menahan amarahnya dan memukuli beberapa kali pipi pria tersebut. Hingga mengeluarkan darah di sudut bibirnya, namun ia tidak membalasnya.


"Kurang ajar! Brengsek! Berani-beraninya kau melakukan ini dengan calon istriku!" maki Vano dengan amarah yang meluap-luap.


"Tenang,  Van! Aku disini tidak pernah merebut kekasih orang, tapi Havivah lah yang menginginkanku!" 


"Itu tidak mungkin, Sam! Kau pasti merayunya, maka dari itulah, Havivah melakukan hal bodoh seperti ini!" 


"Hahaha … Vano … Vano, kau harus tau, jika Havivah itu sudah bosan denganmu! Jika kau tidak percaya tanyakanlah padanya!" ucap Sam dengan tertawa seolah-olah mengejek Vano.


"Hav, sekarang katakanlah yang jujur, apa benar yang dikatakan oleh Sam?" tanya Vano dengan menatap tajam Havivah sambil menggenggam kuat tangannya.


"Ya, semua yang dikatakan oleh Sam itu benar, aku bosan denganmu dan aku ingin bersama dengan, Sam! Maaf jika selama ini aku menghianati cintamu!" ucap Havivah dengan menundukkan kepalanya.


"Kamu tega, Hav! Apa salahku hingga kamu melakukan ini padaku?" ucap Vano dengan nada serak menahan sesak dalam dada.


"Kenapa baru sekarang kamu mengatakan ini padaku? Kenapa tidak dari dulu? Kenapa kamu mengatakan kalau kamu tidak mencintaiku lagi disaat pernikahan kita tinggal beberapa hari lagi?" ucap Vano dengan menggoyangkan bahu Havivah.


"Maaf."


Setelah mengatakan demikian Havivah menggandeng tangan Sam dan melangkah meninggalkan Vano.


Vano menatap nanar kepergian Havivah dengan kaki yang terasa lemas. Ia tidak menyangka hubungan yang ia jalani selama enam tahun kini harus kandas ditengah jalan.


Setelah Havivah menghilang dari pandangan Vano bergegas mengendarai motornya dengan kecepatan tinggi menuju rumahnya dengan emosi yang masih meluap-luap.


Sesampainya di rumah, Vano berjalan cepat masuk menu kamarnya.


Brak!


Vano masuk dalam kamarnya sambil membanting pintu.


Prang.

__ADS_1


Dengan kuat Vano menonjok kaca rias yang ada di dalam kamarnya  hingga pecah.


Harun yang duduk santai terkejut mendengar suara pecahan kaca dari dalam kamar Vano. Ia langsung masuk ke kamar putranya, melihat apa yang terjadi.


"Vano, ada apa denganmu? Kenapa kau mengamuk seperti ini?" tanya Harun yang melihat kaca rias milik Vano hancur.


Vano hanya terdiam tidak mengatakan apapun, ia hendak kembali memukul kaca, namun Harun segera menangkis tangannya dan mengengamnya meski tangan putranya itu berlumuran darah, akibat menonjok kaca rias berkali-kali melampiaskan kemarahannya. 


"Ibu, cepat bawakan P3K!" teriak Harun memanggil Salma istrinya.


Dengan cepat Salma membawakan P3K menghampiri Harun. Matanya membulat sempurna saat ia melihat tangan Vani berlumuran darah.


"Ya Tuhan … apa yang terjadi? Kenapa tangan Vani seperti ini?" tanya Salma menatap Harun meminta jawaban.


"Aku tidak tau, yang jelas dia datang-datang langsung mengamuk!" jawab Harun sambil mencabut beberapa pecahan kaca di tangan Vano.


"Aku ambil air dulu supaya mudah mengobatinya." 


"Ya."


Salma keluar dari kamar Vano menuju dapur dan mengambil baskom dan mengisinya dengan air hangat. Setelah itu ia kembali lagi ke kamar putranya itu.


"Ayah, ini airnya. Cuci dulu tangan Vano, sebelum mengobati."


Ayo duduklah, Nak! Aku akan obati dulu lukamu," ucap Harun dengan pelan.


Vano duduk di lantai masih dengan penuh amarah.


Harun segera mencuci tangan Vano. Setelah itu ia mengobati lukanya dengan telaten dan berhati-hati, tak lupa juga ia membalutnya dengan perban. 


"Sayang, kalau ada masalah jangan seperti ini, coba bicarakan baik-baik dengan kepala dingin," ucap Salma dengan membelai lembut kepala Vano.


"Sekarang semuanya sudah hancur, Ibu," lirih Vano.


"Apa yang hancur, Van? Coba katakan yang jelas," ucap Salma tak mengerti apa yang dimaksud oleh Vano.


"Hubunganku dengan Havivah!" jawab Vano dengan datar.


"Kok bisa?" tanya Harun dengan mengerutkan keningnya.


"Havivah menghianati cintaku, Yah! Bahkan ia terang-terangan minta putus dariku. Selain itu aku melihatnya tengah bermesraan dan saling menyatukan bibir di tempat umum."


"Astaga, kenapa dia tega melakukan hal itu padamu? Kenapa Havivah yang terkenal baik dan lugu bisa berbuat seperti itu di depan umum? Apalagi dia anak pak kades yang pasti akan mendapatkan banyak gunjingan dari masyarakat!" ucap Salma panjang lebar setelah mendengar cerita dari Vano.

__ADS_1


___


Bersambung…


__ADS_2