Cinta Bintang

Cinta Bintang
Kita Sahabat dan Selamanya Akan Menjadi Sahabat


__ADS_3

"Jangan menatapku seperti itu, nanti kamu bisa jatuh cinta melihat ketampananku ini," canda Vano, sambil mengusap wajah Bintang dengan tangan kanannya.


"Bagaimana kalau aku jatuh cinta? Apa Kakak akan membalas cintaku?" tanya Bintang dengan tersenyum.


"Kita sahabat dan selamanya akan menjadi sahabat, tidak lebih dari itu!" 


"Huh, oke, hanya sahabat!" ucap Bintang dengan kecewa. Namun ia tidak patah semangat untuk mendapatkan cinta Vano dan ia akan lebih keras lagi untuk mendapatkan apa yang ia inginkan.


Saat mereka terdiam, tiba-tiba saja ponsel Vano berdering. Dengan cepat ia mengambil ponselnya di kantong celana dan melihat siapa yang menelponnya. Ia bahagia melihat kekasih tercintanya menghubunginya. Ia segera menjauh dari bintang dan mengangkat teleponnya.


"Kenapa Kak Vano setiap menelpon selalu menjauh dariku? Apa mungkin Kak Vano sudah punya kekasih? Jika memang sudah punya kekasih kenapa dia tidak pernah bercerita denganku?" gumam Bintang.


Sederet pertanyaan muncul dalam benak Bintang, namun ia tidak berani menanyakan hal itu pada Vano dan ia berharap Vano belum memiliki seorang kekasih.


"Bi, mana Vano?" tanya Harun setelah ia selesai melihat Ami dari balik jendela kaca.


"Kak Vano lagi terima telpon, Pak!" jawab Bintang tersenyum.


"Oh." 


"Ayo Pak, duduklah," ajak Bintang.


"Iya," jawab Harun tersenyum kemudian ia duduk di samping Bintang.


Tidak lama kemudian Vano dan Ahmad menghampiri mereka berdua.


"Van, apa sudah selesai terima telponnya?" tanya Harun pada Vano.


"Sudah, Ayah!" jawab Vano menganggukkan kepalanya.


"Baiklah, kalau begitu ayo kita pulang. Besok kita jenguk lagi bersama dengan ibumu." 


"Baik, Ayah!" 


"Pak, saya pamit pulang dulu, kalau ada apa-apa jangan sungkan untuk menghubungi saya," ucap Harun dengan menyalami Ahmad.


"Terima kasih, sudah membantuku untuk membawa istriku ke rumah sakit!" 


"Sama-sama Pak, saya senang bisa membantu Bapak!" ucap Harun tersenyum menepuk pundak Ahmad.


"Kakek, Vano pulang dulu," pamit Vano.


"Iya Nak, terima kasih atas bantuannya!" 


"Sama-sama, Kek!" 


"Nak Bintang, kami pulang dulu," pamit Harun pada Bintang.


"Iya Pak, terima kasih banyak atas bantuannya," jawab Bintang tersenyum.


"Sama-sama, Nak!" 


"Bi, aku pulang dulu, besok aku kesini lagi untuk menjenguk Nenek," pamit Vano.

__ADS_1


"Iya, hati-hati di jalan!" pesan Bintang.


"Oke."


Setelah berpamitan Vano dan Harun meninggalkan rumah sakit.


Kini hanya tinggal Bintang dan Ahmad yang ada di rumah sakit, menunggui Ami yang masih belum stabil.


Jam empat sore bintang duduk bersama dengan Ahmad, namun dari kejauhan Tea dan Kenzo berjalan cepat menghampiri mereka berdua.


Bintang yang melihat kedua orang tuanya datang langsung berdiri dari duduknya.


"Bunda, Ayah!" teriak Bintang berlari memeluk Tea.


"Sayang bagaimana keadaan Nenek?" tanya Tea dengan memeluk Bintang.


"Nenek masih kritis, Bunda," jawab Bintang dengan sedih.


"Kamu jangan sedih, Sayang, Nenek pasti baik-baik saja!" ucap Tea menenangkan Bintang sambil mengusap lembut kepala putrinya dengan penuh kasih sayang.


"Ayah, maafkan kami yang terlambat datang," ucap Kenzo memeluk Ahmad.


"Tidak apa-apa, Nak! Ayah senang kamu datang kemari!" ucap Ahmad mengusap punggung Kenzo kemudian ia melepaskan pelukannya.


Tea melepaskan pelukannya dari Bintang kemudian ia beralih memeluk Ahmad dan melepaskan rasa rindunya.


"Ayah, apa kau tidak merindukanku sehingga tidak memeluk ku?" tanya Bintang dengan memicingkan matanya.


"Tentu saja aku sangat merindukanmu!" ucap Kenzo tersenyum memeluk Bintang.


"Tea, Ken, kenapa kalian tidak membawa Sena dan Rafa kemari?" 


"Maaf Ayah, sebentar lagi mereka akan ujian dan kenaikan kelas, jadi kami tidak bisa mengajaknya kemari, tapi lain kali kita akan membawanya untuk bertemu dengan Ayah," jawab Tea memegang tangan Ahmad.


Ahmad menganggukkan kepalanya sambil menepuk-nepuk tangan Tea yang memegang tangannya.


Sore kini telah berubah menjadi petang dan mereka masih menunggu Ami di depan ruang ICU.


"Mas, carilah makan kasian Ayah belum makan malam," bisik Tea pada Kenzo.


"Ya," jawab Kenzo menganggukkan kepalanya, kemudian ia berdiri dari duduknya.


"Ayah mau kemana?" tanya Bintang yang melihat Kenzo hendak pergi. 


"Ke kantin!" 


"Ikut," ucap Bintang berdiri dari duduknya.


"Ayo."


"Kakek, aku akan ke kantin dulu," pamit Bintang pada Ahmad.


"Iya Nak, pergilah!"

__ADS_1


Setelah berpamitan dengan Ahmad Bintang bersama dengan Kenzo pergi ke kantin.


Sesampainya di kantin, Bintang memesan empat porsi nasi juga sayurnya namun kali ini ia memilih lauk ayam goreng kesukaannya.


Sambil menunggu makanan yang dipesan, Bintang duduk bersama Kenzo di sudut kantin sambil berbincang-bincang.


"Ayah, kenapa sih, tidak membuatkan kartu ATM untuk Kakek. Kasihan mereka selalu bingung mencari uang saat nenek sakit!" 


"Ayah sudah pernah memberikan kartu ATM, tapi mereka Menolaknya, Bi!" jelas Kenzo.


"Tapi Kan kalau ada kejadian seperti ini  jadi bingung." 


"Ya, nanti Ayah akan coba memberikan kartu ATM untuk Kakek supaya sewaktu-waktu mereka membutuhkan uang tidak bingung lagi."


"Ya."


Setelah semua makanan yang dipesan sudah siap, Kenzo segera membayar semuanya dan kembali menghampiri Tea dan Ahmad.


"Kakek, makan dulu ya?" ucap Bintang dengan memberikan satu porsi makan malam untuk Ahmad.


"Nanti saja, Nak!" tolak Ahmad.


"Kakek harus makan, karena nanti kalau Nenek tau Kakek tidak makan, pasti Nenek akan sedih," bujuk Bintang.


"Bintang benar, Ayah harus makan!" ucap Tea membenarkan perkataan Bintang.


"Bagaimana kalau Bintang saja yang suapi?" 


Ahmad mengangguk dan dengan segera Bintang menyuapi Ahmad. Sedangkan Kenzo menyuapi Tea yang juga ingin disuapi oleh sang suami.


Pukul dua dini hari Ami dipindahkan ke ruang perawatan karena keadaannya sudah stabil.


Kini mereka semua berada di ruang perawatan VVIP. Bintang yang masih ngantuk langsung tertidur pulas di sofa panjang yang ada di ruangan tersebut.


Kini hanya tinggal Kenzo dan Ahmad yang masih terjaga sedangkan Tea sudah tertidur pulas di dalam dekapan Kenzo.


***


Karena Ami sudah dipindahkan ke ruang perawatan dan ditemani oleh Kenzo juga Tea, maka pagi-pagi sekali Bintang pulang ke rumah dan bersiap untuk mengajar sekaligus memberitahukan pada pak kepala sekolah jika untuk beberapa hari ke depan Ahmad tidak mengajar, karena mengurus Ami yang dirawat di rumah sakit.


Bintang berjalan sendiri menyusuri jalan menuju sekolah.


"Bi, tunggu," teriak Vano dari belakang dengan menaiki motornya.


Bintang menoleh ke belakang, saat mendengar suara yang ia kenal telah memanggilnya. Ia tersenyum melihat Vano.


"Bi, kok kamu ngajar? Katanya hari ini mau libu?" tanya Vano yang sudah ada di samping Bintang sambil menghentikan motornya.


"Iya, Kak, soalnya nenek sudah dipindahkan ke ruang perawatan dan kedua orang tuaku juga ikut  menjaga Nenek," jelas Bintang.


"Syukurlah, kalau keadaan Nenek sudah mulai membaik."


___

__ADS_1


Bersambung...


 


__ADS_2