Cinta Bintang

Cinta Bintang
Tiket Bulan Madu


__ADS_3

"Kayak Ayah nggak pernah jadi pengantin baru saja," jawab Vano dengan santai, sambil duduk di depan Harun.


"Ayo Bi, duduklah!" perintah Salma.


"Baik, Bu!" jawab Bintang tersenyum, kemudian ia duduk di samping Vano.


"Malam pertama pasti enakkan?" tanya Harun dengan terkekeh. Ia suka sekali meledek Vano.


"Ayah, apaan sih!" tegur Salma, memukul lengan Harun.


"Tau tuh, Ayah!" ucap Vano, memutar bola matanya jengah. Sedangkan Bintang hanya diam menunduk mendengar pembicaraan mereka.


"Sudah, sekarang ayo kita mulai sarapan," ajak Salma.


Mereka mulai sarapan dengan diam tanpa ada yang berbicara.


"Aku sudah selesai," ucap Vano, setelah ia menghabiskan sarapannya.


"Oh ya, Van, tadi mertuamu pesan kalau kalian disuruh ke rumah, karena mereka akan kembali ke Jakarta," ucap Harun menyampaikan pesan Kenzo pada Vano.


"Baik, Ayah! Aku akan kesana bersama Bintang sekarang!" 


"Tapi aku akan membantu Ibu beberes sebentar."


"Lebih baik kamu kesana sekarang saja, Bi! Masalah membereskan semua ini biar Ibu yang melakukannya." tutur Salma.


"Iya sekarang kalian berangkatlah kesana," perintah Harun.


"Baik, Ayah!" jawab Bintang dan Vano bersama.


Bintang dan Vano berdiri dari duduknya kemudian berpamitan pada Salma dan Harun, Setelah itu baru mereka keluar dari ruang makan.


Vano mengambil motornya kemudian ia menyuruh Bintang untuk segera naik. Setelah Bintang duduk dengan benar, barulah ia menjalankan motornya menuju rumah Ahmad.


Tak butuh waktu lama Vano sudah sampai di depan rumah Ahmad. 


Tok, tok, tok.


Bintang segera mengetuk pintu rumah Ahmad setelah ia dan Vano sudah di depan pintu.


Tidak lama kemudian pintu terbuka dan muncullah Tea dari dalam.


"Kalian sudah datang? Ayo masuk!" ajak Tea, tersenyum.


"Baik, Bun!" jawab Bintang dan Vano secara bersamaan.


Mereka masuk dan duduk bersama yang lain di ruang keluarga.


"Apa Bunda dan yang lainnya akan pulang sekarang?" tanya Bintang dengan menatap Tea.


"Ya, kami akan segera pulang." 


"Kenapa cepat sekali?" 


"Kami sudah lama ada disini, Bi dan kita harus segera kembali," ucap Kenzo menyahuti perkataan Bintang.


"Oke, tapi jangan lupa sering-sering kesini!" pinta Bintang.


"Iya, Ayah akan mampir kesini jika ada urusan bisnis dan satu pesanku, jadilah istri yang baik dan menurut apa kata suami," tutur Kenzo.

__ADS_1


"Iya Ayah, aku mengerti!" 


"Van, aku titip Bintang padamu jaga dia baik-baik, jika ada masalah cepat hubungiku!" pesan Kenzo.


"Baik, Ayah! Ayah tidak perlu khawatir, aku pasti akan menjaga Bintang dengan baik," jawab Vano tersenyum.


"Aku percaya padamu!" 


"Sebelum pulang Oma juga ada kado untuk kalian berdua," ucap Ratih, setelah Kenzo selesai berbicara dengan mereka.


"Apa itu Oma?" tanya Bintang memandang Ratih.


"Ini untuk kalian!" Ratih menyodorkan amplop coklat di atas meja pada Bintang.


"Apa ini, Oma?" tanya Bintang sambil mengambil amplop tersebut.


"Buka saja," perintah Ratih.


"Kak Vano saja yang buka!" Bintang memberikannya pada Vano.


"Kenapa harus aku?" 


"Aku takut kadonya mengecewakan seperti punya Carla dan Sena!" ucap Bintang dengan menatap tajam Sena dan Carla.


Carla dan Sena yang mendengar perkataan Bintang tersenyum cekikikan sambil menutup mulutnya dengan kedua tangannya.


"Udah jangan marah," ucap Vano mengusap lembut bahu Bintang.


"Habis mereka berdua itu menyebalkan!" 


"Lebih baik kita buka ini saja, oke!"


"Oke."


"Yah, tiket bulan madu," gumam Bintang yang hanya bisa didengar oleh Vano.


"Mukanya jangan ditekuk gitu! Nanti Oma kecewa!" bisik Vano.


"Ya," jawab Bintang kemudian ia tersenyum.


"Bagaimana? Apa kalian suka bulan madu ke Bali?" tanya Ratih dengan begitu bahagia.


"Tentu saja kami suka dan terima kasih sudah memberikan kami kado tiket bulan madu," ucap Vano tersenyum.


"Oma bahagia jika kalian bahagia, pulangnya jangan lupa berikan Oma hadiah juga."


"Memangnya Oma mau dibelikan hadiah apa?" tanya Bintang menatap Ratih dengan serius.


"Oma hanya ingin hadiah cicit yang lucu," jawab Ratih tersenyum.


"Kalau itu aku tidak bisa janji, Oma!" kata Bintang tersenyum getir, bagaimana ia bisa memenuhi keinginan Ratih jika Vano tidak mau menyentuhnya.


"Kenapa memangnya? Apa ada masalah?" tanya Ratih, mengerutkan keningnya.


"Tidak Oma, tapikan aku baru menikah kemarin, masak iya langsung bisa hamil!" 


"Jangan salah, dulu kedua orang tuamu juga sekali buat langsung jadi!" ucap Ratih, memandang Kenzo dan Tea bergantian.


"Tokcer dong kalau begitu?" celetuk Sena dengan cengengesan.

__ADS_1


Semua orang tertawa mendengar celotehan Sena, kecuali Tea dan Kenzo yang merasa malu saat mengingat waktu itu.


Disaat mereka semua tertawa tiba-tiba saja Bayu datang bersama dengan Hafif dan Arum.


"Apa semuanya sudah siap?" tanya Kenzo pada Bayu.


"Sudah dan kita tinggal berangkat saja!" 


"Oke," jawab Kenzo berdiri dari duduknya.


"Apa semua kopernya sudah siap?" tanya Ahmad.


"Sudah, Ayah!" jawab Kenzo, tersenyum.


Setelah berpamitan pada Ahmad dan Ami mereka berangkat menuju bandara. 


Kali ini Bintang tidak ikut mengantar ke bandar dan hanya Vano yang ikut mengantarkan, karena ia harus membantu Ami beberes rumah yang terlihat berantakan.


Setelah selesai membereskan rumah, Bintang duduk santai sambil menunggu kedatangan vano.


Satu jam sudah Bintang menunggu Vano kembali pulang dan akhirnya orang yang ia tunggu datang juga.


Vano menghampiri Bintang, yang memandangnya dengan cemberut.


"Kenapa mukanya ditekuk seperti itu?" tanya Vano duduk didepan Bintang.


"Habis lama banget!" ucap Bintang dengan mengerucutkan bibirnya.


"Maaf, tadi jalanan macet." 


"Ya sudah, ayo kita pulang! Aku sudah ngantuk pengen tidur siang!" ajak Bintang, berdiri dari duduknya.


"Kenapa tidak istirahat di kamar saja?"


"Aku  mau tidur di kamarmu sambil di peluk seperti tadi malam," ucap Bintang dengan bergelayut manja.


"Oke, kita pamit dulu sama nenek dan kakek." 


Bintang mengangguk dan masuk ke dalam rumah bersama dengan Vano. Mereka berdua menghampiri Ahmad dan Ami yang tengah menonton TV.


"Kakek, Nenek, kami pulang dulu ya?" pamit Vano.


Kenapa tidak nginap disini saja?" 


"Kami akan bersiap-siap berangkat ke Bali, Nek. Besok kan kita berangkat!"  Bintang mencoba memberi alasan pada Ami.


"Oh iya, lupa!" ucap Ami tersenyum menepuk jidatnya.


"Sekarang kami pamit dulu ya, Nek?" pamit Vano sekali lagi.


"Ya." jawab Ahmad dan Ami bersamaan.


Bintang dan Vano kembali keluar dari rumah menaiki motor meninggalkan rumah Ahmad menuju rumah orang tua Vano.


Sesampainya di rumah, mereka berdua langsung masuk ke dalam kamar kebetulan saat itu rumah tengah kosong karena Salma dan Harun lagi keluar rumah.


Bintang duduk menyandarkan tubuhnya di tempat tidur, sedangkan Vano merebahkan tubuhnya di sampingnya.


"Kak, Kitakan tidak berbulan madu, tapi kenapa menerima tiket bulan madu dari Oma?" tanya Bintang memang Vano.

__ADS_1


___


Bersambung….


__ADS_2