Cinta Bintang

Cinta Bintang
Maafkan Aku


__ADS_3

"Aku akan membantumu mencari tau siapa pelakunya! Sekarang ayo kita masuk kelas anak-anak sudah menunggu kita!"


"Ya dan terima kasih sudah membantuku," ucap Vano, berdiri dari duduknya.


Vano dan Aldo keluar dari ruang guru sedangkan Winda ke toilet untuk membersihkan pakaiannya.


Pukul satu siang Vano baru keluar dari ruang kelas enam dan bergegas mengambil motornya, kemudian ia melajukan motornya dengan kecepatan penuh agar cepat sampai.


Sesampainya di rumah, Vano langsung masuk ke dalam kamar. Namun ia mengurungkan niatnya untuk masuk ke dalam kamar dan mendengarkan Bintang yang tengah berbicara dengan Kenzo ditelpon sambil duduk bersandar di tempat tidur.


"Kenapa Ayah melakukan ini padaku? Aku memang mencintainya tapi aku tidak ingin merusak kebahagiaanya dan seandainya aku tau ini adalah perbuatan Ayah aku tidak akan mau menikah dengannya walaupun aku sangat mencintainya!" 


"Sayang, Ayah tidak melakukan apa-apa, percayalah!" 


"Sudahlah, Ayah, aku tidak mau mendengar alasan apapun dari, Ayah!" kesal Bintang dengan meneteskan air matanya.


Sebelum Kenzo mengatakan apapun, Bintang segera mengakhiri panggilannya dengan Kenzo. Kemudian ia membanting ponselnya di atas tempat tidur dengan meneteskan air mata.


Vano yang mendengarkannya merasa bersalah, karena telah menuduhnya bekerja sama dengan Kenzo untuk menghancurkan pernikahannya bersama Havivah. Ia menghembuskan nafasnya kasar, kemudia masuk ke dalam kamar dan duduk di samping Bintang.


"Kenapa ponselnya di banting?" tanya Vano dengan membelai lembut kepala Bintang.


"Aku sebal dengan, Ayah!"  jawab Bintang sambil menghapus air matanya.


"Sekalipun orang tua kita melakukan salah, kamu jangan marah pada mereka, karena biar bagaimanapun kesalahan yang mereka buat, mereka tetaplah orang tua kita yang harus kita hormati." 


"Tapi aku kesal padanya!" lirih Bintang.


"Maafkan aku yang sudah tidak mempercayaimu," ucap Vano memeluk  dan mendekap Bintang, kemudia mengecup pucuk kepala sang istri dengan lembut.


"Apa sekarang Kakak tidak marah lagi denganku?" tanya Bintang sambil menikmati wanginya tubuh Vano.


"Tidak." 


"Kenapa Kakak cepat sekali berubahnya?" tanya Bintang dengan mendongakkan kepalanya menatap wajah tampan Vano.


"Karena kamu tidak bersalah, lagipula aku tidak bisa terlalu lama marah denganmu!" Vano tersenyum menatap Bintang dengan tangan mengusap lembut bibir sang istri yang begitu menggoda.


"Kenapa tidak bisa marah terlalu lama?" tanya Bintang tersenyum, kemudian ia dengan cepat mengecup bibir Vano.


"Ya … pokoknya aku tidak ingin marah lama-lama denganmu dan jangan coba-coba menggodaku! ini masih siang!"  Vano tersenyum kembali mendekap tubuh Bintang.


"Waktu itu juga Kakak minta siang-siang," jawab Bintang dengan terkekeh dalam dekapan hangat Vano.


"Hari ini aku tidak mau melakukannya siang-siang, takut Ayah akan memanggil lagi seperti waktu itu!" 


Bintang terkekeh mendengar perkataan Vano dan melepaskan pelukannya.

__ADS_1


"Baiklah, kalau gitu Kakak ganti saja dulu, aku akan ambilkan pakaiannya!" perintah Bintang.


"Oke, aku akan ganti baju, kamu tunggulah disini dan tidak perlu mengambilkan pakaian untukku!" 


"Ya, aku akan menunggumu disini!" ucap Bintang sambil merebahkan tubuhnya.


Vano turun dari tempat tidur, melangkah mengambil pakaian ganti di dalam lemari dan memakainya didepan Bintang tanpa rasa malu.


Bintang tersenyum memandang Vano, ia bahagia, karena suaminya itu sudah tidak marah lagi dengannya.


Setelah mengunakan pakaiannya Vano kembali menghampiri Bintang.


"Bi, apa kepalamu masih pusing?" tanya Vano dengan merebahkan tubuhnya di samping Bintang.


"Sudah tidak lagi," jawab Bintang, tersenyum dengan menggelengkan kepalanya.


"Aku salah, maaf ... mulai sekarang kamu tidak boleh lagi terlalu memikirkan hal-hal yang berat-berat agar kamu tidak sakit, aku tidak mau kamu sakit! Jika nanti kamu ada masalah berbagi dan berceritalah denganku!" ucap Vano dengan memiringkan tubuhnya menghadap Bintang.


"Iya, Kak!" jawab Bintang tersenyum mengusap pipi Vano dengan lembut.


"Bi, aku kok tiba-tiba pengen makan steak yang kayak di restoran itu, ya." 


"Apa, Kak Vano, pengen banget?" 


"Iya," jawab Vano dengan wajah memelasnya.


"Siapa yang mau beli di restoran?" 


"Tadi, Kakak, bilang mau makan steak kayak di restoran!" ucap Bintang dengan begitu bingungnya.


"Kan baru kayak, bukan mau makan di restoran."


"Terus sekarang Kakak mau cari dimana kalau tidak di restoran?" tanya Bintang dengan mengerutkan keningnya.


"Aku pengen kamu yang membuatnya." 


"Apa? Aku harus membuat steak?" teriak Bintang dengan membulatkan matanya bangun dari tidurnya.


"Jangan berteriak seperti itu!" larang Vano juga ikut bangun dari tidurnya.


"Maaf, aku hanya kaget. Kakak kan tau, aku tidak terlalu bisa memasak, apalagi disuruh membuat steak, aku tidak mengerti." 


"Tapi aku pengen kamu yang membuatnya."


'Jangan-jangan, Kakak ngidam, tapikan ini aku yang hamil masak iya, Kakak yang ngidam?' batin Bintang dengan menahan senyum.


"Bi, ayo dong, buatin steak! Kenapa malah diam?" rengek Vano seperti anak kecil yang meminta dibelikan mainan oleh ibunya.

__ADS_1


"Oke, aku akan buatin, sambil lihat resep di google," jawab Bintang tersenyum.


"Ya, sekarang ayo kita ke dapur!" ajak Vano dengan tidak sabar.


Bintang mengangguk dan mereka berdua turun dari tempat tidur berjalan menuju dapur.


Sesampainya di dapur, Bintang melihat resep dan cara membuat steak.


Bintang mulai membuka kulkas, mengambil bahan-bahan yang ia butuhkan untuk membuat steak.


Vano yang duduk di kursi tersenyum bahagia melihat Bintang sibuk membuatkannya steak.


'Aku tidak menyangka, jika aku akan jatuh cinta padanya padahal saat menikahinya aku tidak mencintainya dan kini cinta itu tumbuh dengan cepat, semoga Tuhan selalu menjaga cinta ini! Tunggulah dua hari lagi, Bi. Aku pasti akan mengatakan cintaku ini padamu,' batin Vano, tanpa melepaskan pandangannya dari Bintang.


Salma yang kebetulan lewat di depan dapur menghentikan langkahnya, saat mendengar suara Bintang dan Vano sedang berbincang-bincang sambil memasak.


Ketika Salma tengah berdiri di samping pintu sambil melihat mereka berdua, tiba-tiba saja Harun menghampirinya dari belakang.


"Ibu melihat apa?" bisik Harun.


Salma kaget dan dengan cepat ia menoleh kearah belakang.


"Ayah, ini ngagetin aja!" kesal Salma dengan menekankan suaranya agar Vano dan Bintang tidak mendengar dan melihat dirinya yang mengutip dipintu dapur yang sekaligus ada tempat makanya.


"Habis aku juga penasaran melihat mereka," ucap Harun tersenyum.


"Ya sudah, lihat saja dan jangan berisik!" ucap Salma, kemudia ia kembali melihat mereka berdua.


Kini Salma dan Harun melihat mereka dari balik pintu.


"Bu, kira-kira Bintang masak apa ya?" bisik Harun yang masih berdiri di belakang Salma


"Entahlah," bisik Salma.


Pasti masakan Bintang tidak enak sama seperti Ibu dulu." 


"Ya kan dulu aku tidak bisa masak sama seperti Bintang yang juga tidak bisa memasak!" 


Mereka berdua terdiam, masih melihat Bintang dan Vano.


Satu jam sudah, Bintang membuat steak yang diinginkan oleh Vano.


"Bi, sudah selesai belum?" tanya Vano, yang sudah mulai bosan menunggu Bintang selesai membuat steak.


___


Bersambung….

__ADS_1


jangan lupa like dan komen


__ADS_2