
Pukul tujuh, lonceng pun berbunyi dan Bintang segera mengambil buku pelajarannya.
"Aku ngajar dulu ya, Kak?" pamit Bintang.
Vano hanya menganggukkan kepalanya. Setelah Bintang pergi barulah ia keluar dari ruang guru menuju kelas tiga.
Kini jam istirahat pun tiba, Bintang dan Winda pergi ke kantin sedangkan Vano bersama dengan Aldo sudah dari tadi ada di kantin.
Mereka berdua menghampiri Vano dan Aldo yang sedang makan.
"Kalian ini kenapa ninggalin kamu?" protes Winda sambil duduk di samping Aldo sedangkan Bintang duduk di samping Vano.
"Sorry, habis kalian berdua lama ngajarnya."
Setelah makanan disajikan oleh pelayan kantin, mereka segera memakannya dengan diam.
Tiba-tiba saja Bintang merasa pusing dan pandangan sedikit buram sedangkan tubuhnya terasa gemetar dan mengeluarkan keringat dingin.
Kamu tenang, Bi, jangan banyak pikiran, kasihan anak yang ada di rahimmu,' batin Bintang.
"Kamu kenapa, Bi?" tanya Winda yang melihat Bintang tidak memakan makanannya dan malah membuat memijat keningnya.
"Tidak apa-apa, aku hanya sedikit pusing."
Jangan terlalu stres, Bi. Nanti kamu sakit!" ucap Aldo yang mengerti jika Bintang memang suka seperti itu saat ia tertekan dan ujungnya akan depresi seperti waktu itu.
"Ya, aku akan pulang saja," ucap Bintang berdiri dari duduknya.
"Akan aku antar!" ucap Vano datar, kemudian ia berdiri dari duduknya.
"Tapi Kakak kan masih ada dua kelas lagi."
"Tidak papa!"
"Biar aku saja yang antar Bintang pulang," usul Winda.
"Apa kamu tidak ada kelas lagi?" tanya Vano.
"Tidak!"
"Ya sudah, antar saja dia!" perintah Vano.
"Ya."
"Kak aku pulang dulu," pamit Bintang.
__ADS_1
"Iya!"
Bintang dituntun oleh Winda keluar dari kantin.
"Apa kamu dan Bintang sedang bertengkar?" tanya Aldo setelah Bintang keluar dari kantin.
"Tidak ada apa-apa kok!"
"Jangan menutupinya, aku tau kamu sedang marah dengan."
"Aku tidak bisa marah dengan meski aku tau apa yang dilakukannya." tutur Vano.
"Memangnya Bintang melakukan apa?" tanya Aldo dengan serius.
Vano mulai menceritakan semu pada Aldo apa yang telah dilakukan oleh orang tua Bintang saat ia dan Havivah akan menikah, tanpa ada yang terlewatkan sedikitpun.
"Oh … jadi seperti itu ceritanya," ucap Aldo setelah ia mendengar cerita dari Vano.
"Ya dan aku kecewa pada Bintang!"
"Apa kamu yakin jika Bintang meminta orang tuanya untuk menggagalkan pernikahanmu dengan Havivah?" tanya Aldo yang tidak percaya jika Bintang akan melakukan itu.
"Aku tidak yakin, tapi semua yang dikatakan Havivah juga ada buktinya."
"Dengarkan aku, Van! Bintang memang mencintaimu dan rela meninggalkan segalanya untuk meraih cintamu, tapi setelah dia tau kalau kamu sudah mempunyai tunangan, dia berusaha keras melupakanmu hingga dia mengalami depresi! Aku yakin, dia tidak akan melakukan itu padamu, karena kebahagiaanmu adalah yang utama baginya! Sekarang tanyakan pada hatimu, apa dia bisa melakukan hal itu padamu atau tidak? Dia wanita yang baik, Van. Jangan sampai dia pergi darimu hanya karena sesuatu hal yang tidak pernah dia lakukan!" tutur Aldo.
"Sebenarnya, meski aku tau hal itu, tapi anehnya aku tidak bisa membencinya atau marah padanya."
"Itu berarti kamu sudah mulai mencintainya dan cobalah untuk mempertahankannya dan jangan sampai kamu melepaskannya, karena itu akan membuatmu menyesal."
"Kamu benar, Do. Aku memang sudah mencintainya dan aku tidak ingin kehilangan dia!" ucap Vano dengan memandang lurus ke depan.
"Jika kamu mencintai pertahankanlah dia, mungkin orang tua Bintang memang melakukan hal itu, tapi bukan berarti dia ikut terlibat di dalamnya. Berpikirlah yang cerdas Van, jika kamu tidak ingin kehilangan orang yang kamu cintai untuk kedua kalinya, karena aku yakin Havivah melakukan hal ini pasti ada maksudnya!"
"Maksud kamu apa?" tanya Vano, memandang Aldo dengan mengerutkan keningnya.
"Jika memang Havivah dulu benar-benar mencintai kamu, maka dia akan menceritakan padamu apa yang dilakukan oleh orang tua Bintang dan berusaha mempertahankanmu, tapi kenyataannya dia diam saja, malah justru dengan mudahnya mecari cara untuk lepas darimu. Ini pasti ada sesuatu yang direncanakan."
"Apa maksudmu Havivah ingin menghancurkan Bintang setelah orang tua Bintang melunasi semua hutang-hutangnya?" tanya Vano setelah ia berhasil mencerna perkataan Aldo.
"Iya bisa dibilang seperti itu!" jawab Aldo menganggukkan kepalanya.
"Sekarang aku tidak akan peduli lagi apa dia melakukan kesalahan atau tidak, aku tetap akan mempertahankannya dan aku juga akan mengatakan perasaanku padanya, aku tidak mau kehilangan Bintang!"
"Pertahankan dia, aku pasti akan mendukungmu," ucap Aldo dengan tersenyum.
__ADS_1
"Terima kasih selama ini kamu telah mendengarkan keluh kesahku."
"Tidak perlu berterima kasih, Van, aku ini sahabatmu jadi kita bisa saling berbagi cerita," Jawa Aldo dengan santainya.
"Lalu bagaimana dengan hubunganmu dengan Winda?" tanya Vano.
"Aku memang mencintainya, tapi dia tidak mencintaiku jadi aku akan tetap seperti ini agar dia tidak menjauh dariku."
"Bersabarlah, suatu saat nanti dia pasti jadi milikmu!" ucap Vano tersenyum.
"Aamiin … sudah ayo kita kembali bersiap-siap mengajar," ajak Aldo.
"Huh, padahal aku ingin pulang dan bertemu dengannya," keluh Vano.
"Sabar," ucap Aldo tersenyum.
Setelah membayar semua makanan yang dipesan mereka bergegas kembali ke ruang guru.
Baru saja vano dan Aldo duduk Winda datang dengan baju yang sedikit kotor.
"Win, kamu kenapa kotor semua?" tanya Aldo saat melihat Winda.
"Tadi pas aku membonceng Bintang tiba-tiba saja ada yang menyerempet motor aku," jawab Winda sambil meletakkan tasnya.
"Bagaimana keadaan Bintang? Apa dia baik-baik saja?" tanya Vano yang sudah mulai khawatir.
"Kamu tenang saja, Van, kami tidak apa-apa, Bintang baik-baik saja kok!"
"Kok bisa kamu diserempet motor? Bagaimana ceritanya?" tanya Aldo.
"Tadi saat ada aku dan Bintang dijalan tiba-tiba ada motor sport ngebut dari arah yang berlawanan hendak menabrak kami, tapi tiba-tiba saja ada sebuah motor sport dari arah belakang yang menghalanginya sehingga motorku hanya terguling."
"Apa kamu tau siapa yang mau menabrakmu dan siapa yang menolongmu?" tanya Aldo dengan begitu penasaran.
"Mereka mengenakan helm jadi aku tidak tahu, tapi yang menolong kami sempat memperingatkan Bintang untuk berhati-hati, karena ada yang ingin mencelakainya," jelas Winda.
"Dia pasti suruhan ayahnya Bintang untuk melindunginya dan memang akhir-akhir ini dia sering sekali celaka, seperti ada yang menginginkan kematiannya,tapi anehnya saat Bintang bersama denganku tidak ada orang yang ingin membuatnya celaka!" ucap Vano masih dengan wajah cemasnya.
"Jangan-jangan ini ada hubungannya dengan Havivah?" tebak Aldo.
"Aku tidak tau, ini ada hubungannya dengan Havivah atau tidak, tapi yang jelas aku tidak ingin Bintang celaka! Aku harus cari tau siapa yang ingin mencoba mencelakainya!" ucap Vano dengan mengepalkan tangannya.
___
Bersambung…
__ADS_1