Cinta Bintang

Cinta Bintang
Depresi


__ADS_3

"Terima kasih Dok! Sekarang katakan lah bagaimana keadaan cucuku!" tanya Ahmad dengan tak sabar sambil duduk di kursi yang ada di ruangan dokter.


"Begini, Tuan, cucu Anda mengalami depresi berat, mungkin dia sedang ada masalah dengan keluarganya atau masalah lain yang membuatnya, stres dan terlalu memikirkan permasalahanya tanpa bisa diungkapkan," tutur dokter menjelaskan apa yang dialami oleh Bintang.


"Jadi cuci saya mengalami depresi?" tanya Ahmad dengan begitu kagetnya.


"Ya, Tuan!" jawab dokter menganggukkan kepalanya.


"Tapi didalam keluarga kami tidak punya masalah apa-apa dan hubungan kami semua juga baik-baik saja!" ucap Ahmad dengan begitu heran, karena memang tidak ada permasalahan apapun dalam keluarganya.


"Mungkin Nona Bintang patah hati atau dikecewakan oleh orang lain sehingga dia mengalami depresi!" 


"Hah, Dokter benar mungkin itu benar! Lalu bagaimana caranya agar cucu saya bisa sembuh dari depresi yang ia derita?" 


"Sasaran kan cobalah selalu membuatnya senang. Selain itu pendampingan orang tua sangat diperlukan agar dia bisa mengungkapkan keluh kesahnya yang tidak bisa diungkapkan oleh semua orang dan cobalah untuk mencari suasana baru atau berolahraga ringan Dipati sambil menghirup udara pagi agar pikirannya tidak tertuju pada permasalahannya. Nanti kami juga akan memberi obat agar dia lebih tenang." 


"Baiklah Dok, saya mengerti, lalu apa cucu saya harus dirawat inap?" 


"Untuk sementara biarkan Nona Bintang menjalankan terapi dengan sekiater untuk membantunya keluar dari depresi yang ia alami dan biarkan dia dirawat disini karena ia sering mengalami keluhan sakit kepala.


"Baik, Dok! Kalau begitu saya permisi dulu," pamit Ahmad.


"Silahkan, Tuan!" 


Ahmad keluar dari ruangan dokter menuju ruang IGD menghampiri Ami yang menunggunya disana.


"Ayah apa kata dokter?" tanya Ami dengan wajah yang cemas.


"Bintang mengalami depresi!" 


"Kok bisa Bintang depresi, perasaan kita tidak punya masalah dan hubungannya dengan teman-temannya juga tidak ada masalah," heran Ami.


"Kaya dokter mungkin dia mengalami patah hati atau kecewa dengan seseorang," jelas Ahmad.


"Tapi siapa yang membuat Bintang patah hati atau kecewa? Selama ini dia kan cuma dekat dengan Aldo dan Vano dan tidak ada yang lain." 


"Aku juga tidak tau!" jawab Ahmad sambil duduk di samping Ami.


"Walau aku dekat dengan Bintang, tapi bukan aku yang membuatnya patah hati!" ucap Aldo yang berdiri bersandar di tiang.


"Aku tau itu!" jawab Ahmad.


'Mungkin Bintang depresi karena mengetahui kalau Vano sudah memiliki tunangan. Aku tidak menyangka begitu cintanya Bintang denganya membuat dia sampai depresi seperti ini!' batin Aldo.


Kini mereka saling terdiam dan tiba-tiba saja seorang suster datang menghampiri Ahmad.


"Permisi Tuan, maaf menganggu sebentar," ucap suster dengan sopan dan ramah.


"Iya ada apa, Sus?" tanya Ahmad memandang suster tersebut.

__ADS_1


"Kami harap tuan bisa segera menyelesaikan biaya rumah sakit atas nama Nona Bintang Erlangga, Tuan, agar kami bisa segera melakukan memindahkannya ke ruang perawatan dan melakukan tindakan pengobatan selanjutnya." 


"Baik, Sus, saya akan segera membayar biayanya."


Suster pun memberikan map berwarna biru untuk segera menyelesaikan semuanya.


Setelah kepergian suster Ahmad membuka map tersebut dan ia meneguk ludahnya saat melihat berapa biaya yang harus dibayar.


"Kenapa, Yah?" tanya Ami yang melihat ekspresi wajah Ahmad.


"Biayanya besar banget, Bu!" 


"Lalu kita bayarnya pakai apa?" 


"Ibu tenang saja aku akan menelpon Kenzo supaya dia cepat kesini karena saat ini Bintang sangat membutuhkan kedua orang tuanya." 


"Ya sudah cepatlah telpon.


"Ya." 


Ahmad mengambil ponselnya dan menghubungi Kenzo.


"Halo Kek, apa kau sibuk?" tanya Ahmad setelah Kenzo mengangkat panggilannya.


"Tidak Ayah, apa ada sesuatu yang terjadi?" tanya Kenzo dari sebrang telepon sana.


"Apa kau sudah tau apa yang terjadi?" tanya Ahmad dengan curiga.


"Kalau begitu cepatlah kesini dan bawa Tea juga!" 


"Memang Bintang sakit apa, Ayah?" 


"Nanti aku akan ceritakan setelah kalian ada disini!" 


"Baik Ayah, aku paham. Sekarang kami akan bersiap-siap dulu dan untuk masalah biaya Ayah bisa menggunakan kartu ATM dan black card milik Bintang nanti passwordnya aku akan kirim."


"Oke, cepatlah kemari, aku akan tutup telponnya!" 


"Baik, Ayah!" 


Tut, tut, tut.


Ahmad mematikan sambungan teleponnya dan tak lama kemudian ada pesan dari Kenzo dan menuliskan password untuk mengakses kartu milik Bintang.


"Bagaimana, Ayah? Apa mereka akan kesini?" tanya Ami setelah Ahmat kembali mengantongi ponselnya.


"Ya mereka akan kemari dan sekarang sedang bersiap-siap." 


"Lalu bagaimana pembayarannya?" 

__ADS_1


"Pakai saja kartu milik Bintang." 


"Aldo apa tadi kau membawa tas milik Bintang?" tanya Ahmad pada Aldo.


"Tidak Kek, soalnya tadi aku tergesa-gesa." 


"Huh, aku juga lupa membawanya tadi, biarlah aku ambil saja sekarang," ucap Ahmad, berdiri dari duduknya.


"Kakek, bagaimana kalau aku saja yang mengambil tas Bintang dan Kakek tunggu saja disini!" Aldo mencoba menawarkan diri agar Ahmad tidak pontang pontang-panting sendirian.


"Baiklah, Do, terima kasih sudah membantuku!" ucap Ahmad tersenyum.


"Sama-sama, Kek! Aku senang membantu Kakek karena Bintang juga sahabatku," jawab Aldo, kemudian ia membalas senyuman Ahmad.


Setelah Aldo berpamitan dengan Ahmad dan Ami, ia pun segera meninggalkan rumah sakit menuju sekolahan.


Sesampainya di sekolahan Aldo segera masuk ke ruangan guru mengambil tas milik Bintang.


"Pak Aldo, apa kamu mau kembali ke rumah sakit?" tanya pak kepala sekolah.


"Iya Pak, saya akan mengantarkan tas Bu Bintang, karena beliau membutuhkan dompetnya untuk membayar rumah sakit!" jelas Aldo.


"Baiklah, kau boleh pergi lagi tapi jam pelajaran kedua kamu harus sudah ada disini!" 


"Baik, Pak!" jawab Aldo menganggukkan kepalanya.


Setelah pamit dengan pak kepala sekolah, Aldo segera kembali ke rumah sakit.


Sesampainya di rumah sakit, Aldo bergegas menghampiri Ahmad dan memberikannya tas milik Bintang.


"Terima kasih ya, Do!" 


"Sama-sama, Kek!" 


Ahmad segera membuka tas Bintang dan mengambil ATM juga black card. 


Ternyata Bintang bukan hanya sekedar anak pengusaha tetapi juga anak konglomerat yang punya segalanya. Aku salut padanya meski dia anak orang kaya dia bisa hidup sederhana dan baik hati,' batin Aldo, saat ia melihat kartu black card yang dipegang oleh Ahmad, karena tidak semua orang kaya memiliki kartu itu.


Ahmad segera mengambil map dan membayar semua biaya rumah sakit Bintang.


Setelah semua urusannyavselesai Ahmad kembali ke depan ruang IGD.


Aldo segera berpamitan kembali ke sekolah setelah, karena jam pelajaran kedua akan segera dimulai.


Kini tinggal Ami dan Ahmad yang duduk didepan IGD.


Tak lama kemudian, pintu ruang IGD dibuka dan muncullah dua suster dengan mendorong brankar yang ditiduri oleh Bintang.


"Tuan, mari ikut dengan kami, karena  kami akan memindahkan Nona Bintang ruang perawatan." 

__ADS_1


Bersambung….


__ADS_2