Cinta Bintang

Cinta Bintang
pertemuan Havivah dan Vano


__ADS_3

Harun yang baru saja masuk ke dalam kamar merasa heran, saat melihat istri dan menantunya menangis sambil berpelukan.


Salma dan Bintang langsung melepaskan pelukannya dan menghapus air matanya.


"Ah, Ayah ini mengagetkan aku saja!" 


"Memangnya ada apa sih, kalian kok menangis?" 


"Kami menangis karena bahagia, Ayah!" ucap Bintang tersenyum.


"Kalian bahagia kenapa?" 


"Lihat ini, Ayah." Salma memberikan tespek milik Bintang pada Harun.


"Jangan bilang kamu yang hamil!" tanya Harun memandang Salma penuh dengan curiga.


"Tidak!" jawab Salma, menganggukkan kepalanya.


"Lalu, siapa?" 


"Bintang!" 


"Apa? Bintang hamil?" seru Harun dengan begitu bahagia.


"Iya Ayah, aku hamil!" ucap Bintang tersenyum.


"Ibu akhirnya jika punya cucu!" ucap Harun, kemudian memeluk Salma.


"Ayah, aku kan yang hamil, kenapa Ayah malah .meluk ibu dan bukan aku?" 


"Ya Tuhan aku salah peluk!" 


Harun segera melepaskan pelukannya dan segera memeluk Bintang.


Salma yang melihat kekonyolan Harun tertawa terbahak-bahak hingga meng luar kan air matanya.


"Sekarang aku harus memberitahu Vano, dia pasti akan senang mendengarnya," ucap Harun, sambil melepaskan pelukannya.


"Jangan Ayah, aku ingin menjadi orang pertama yang memberitahu tentang kehamilanku ini," cegah Bintang.


"Baiklah, aku mengerti akan maksud mu itu!" 


"Terima kasih, Ayah! Nanti disaat usia pernikahanku sudah genap dua bulan aku akan memberitahu, Kak Vano."


"Ini pasti akan menjadi kejutan yang istimewa bagi Vano," ucap Salma, sambil membayangkan reaksi Vano saat ia mengetahui kalau Bintang mengandung anaknya.


"Sebaiknya sekarang kamu istirahat saja dan jangan beraktivitas yang berat-berat!" perintah Harun.

__ADS_1


"Baik Ayah, kalau gitu aku akan tiduran di kamar," pamit Bintang.


"Ya," jawab Harun dan Salma bersama.


Bintang melangkahkan kakinya menuju kamarnya.


Dalam kamar Bintang menaruh tespeknya di dalam laci, kemudian ia berbaring di atas tempat tidur dengan hati yang sangat bahagia.


"Aku bahagia banget, akhirnya aku mempunyai keturunan dari orang yang aku cintai, terima kasih Tuhan, pelan-pelan kau telah mengabulkan doa hamba," gumam Bintang dengan mengusap perutnya yang masih datar.


Bintang tersenyum memejamkan matanya agar segera tertidur.


***


Diwaktu yang sama, sebenarnya Vano tidak pergi ke rumah Aldo, melainkan menemui Havivah, karena tadi ia mendapatkan pesan dari mantan kekasihnya itu jika ia ingin membicarakan sesuatu yang sangat penting denganya.


Sudah lima belas menit Vano menunggu Havivah di pinggir danau dan akhirnya yang ditunggu-tunggu pun datang.


"Maaf aku terlambat," ucap Havivah, tersenyum berdiri di samping Vano.


"Aku tidak punya waktu banyak untuk bicara denganmu, katakanlah apa yang ingin kamu bicarakan!" ucap Vano dengan bersedekap dada menatap lurus ke depan.


"Sebelum mengatakan semuanya, aku ingin menikmati waktu bersamamu seperti dulu, Mas." 


"Cepat katakan atau aku pulang!" ancam Vano dengan dingin.


"Maafkan aku," lirih Havivah.


"Tidak perlu meminta maaf, semuanya sudah berlalu!" jawab Vano datar.


"Maafkan aku Mas, sampai saat ini pun aku masih mencintaimu!" ucap Havivah dengan menampilkan wajah sedihnya.


"Omong kosong! Kalau kamu mencintaiku, maka kamu tidak akan menghianati aku!" geram Vano dengan begitu kesal, saat ia mengingat bagaimana Havivah menghianati cintanya.


"Mas, percayalah denganku, aku sangat mencintaimu! Jika untuk menghianatimu itu aku lakukan karena terpaksa!" Havivah meraih tangan Vano dengan wajah yang masih sedih.


"Kau pikir aku percaya dengan mulut manismu itu! Ingat Havivah, cukup sekali kamu menyakitiku dan tak akan aku biarkan kamu menyakitiku lagi dan jangan pernah berani-berani kamu menyentuhku!" Vano menghempaskan tangan Havivah dengan kasar.


"Segitu bencikah, Mas Vano padaku? sampai-sampai kamu tidak mau aku sentuh? Kuakui aku memang salah, seharusnya dari awal aku menceritakan ini semua padamu dan tidak tidak melakukan kebohongan dengan itu," ucap Havivah dengan meneteskan air matanya.


Vano mengerutkan keningnya mendengar apa yang dikatakan Havivah.


"Maksud kamu apa?" tanya Vano menatap tajam Havivah.


"Aku …." Havivah menghentikan kata-katanya, sedangkan air matanya semakin mengalir deras membanjiri wajah cantiknya.


"Katakanlah, tidak perlu kamu berbelit-belit seperti itu! Aku tidak akan percaya padamu!" perintah Vano tanpa menghiraukan air mata Havivah.

__ADS_1


"Aku sudah menduga, kamu pasti akan mengatakan ini padaku, tapi tidak papa, aku bisa mengerti dan wanita itu pasti sudah mempengaruhi agar kamu mencintainya." 


"Siapa yang kau maksud?" tanya Vano dengan sinis.


"Siapa lagi jika bukan istrimu itu!" 


"Jangan memfitnah orang lain untuk menutupi kesalahanmu! Asal kau tau, dia itu wanita baik-baik dan tidak sepertimu!" 


"Aku memang bukan wanita baik-baik, tapi apa yang aku katakan ini memang benar!" 


"Jika kau ingin bertemu denganku hanya untuk menghina istriku, aku tidak akan terima!" 


Vano memutar tubuhnya hendak melangkah pergi, tapi dengan cepat Havivah memegang lengan Vano.


"Lepaskan tanganku!" bentak Vano, tanpa menoleh ke arah Havivah.


"Aku tidak akan melepaskan tanganmu, aku tau aku salah tapi istri ulah yang membuat aku melakukan itu!" 


"Jangan menuduhnya!" bentak Vano dengan begitu emosi saat Bintang terus-terusan difitnah oleh Havivah.


"Aku tidak menuduhnya, tapi itulah kenyataannya, jika kau tidak percaya aku punya buktinya!" 


Sesaat Vano memejamkan matanya, kemudian ia menoleh ke arah Havivah dengan tangan mengepal kuat menahan amarahnya.


"Kamu punya bukti apa?" sinis Vano.


"Sebenarnya orang tua Bintang yang menghalangi kita untuk menikah, karena Bintang sangat mencintaimu dan pasti istrimu itu meminta pada orang tuanya untuk menghancurkan pernikahan kita." 


"Aku bilang jangan pernah memfitnahnya!" bentak Vano dengan menatap tajam Havivah seolah-olah ia akan menelan hidup-hidup  mantan kekasihnya itu.


"Aku tidak memfitnahnya bacalah ini." Havivah memberikan sebuah map pada Vano yang ia ambil dari dalam tasnya.


Vano membuka map tersebut dan membacanya.


"Ini tidak mungkin!" ucap Vano setelah ia membaca isi perjanjian itu.


"Itulah kenyataannya, Mas! Orang tua Bintang mengancam akan menghancurkan keluargaku jika aku tidak mau membatalkan pernikahanku denganmu, karena Ayah memiliki hutang padanya sebesar 500 juta untuk membayar semua biaya pendidikanku, tapi jika aku membatalkan pernikahan kita, maka hutang-hutang itu dianggap lunas dan keluarga kami aman!" ucap Havivah dengan mata yang sudah berkaca-kaca agar Vano percaya dengannya.


"Kau mendapatkan beasiswa, kenapa harus berhutang pada orang tua Bintang? Bukankah mereka tidak pernah kemari dan hanya sesekali saja mereka berkunjung kerumah Kakek Ahmad?" 


"Ya, Mas memang benar, kami memang berhutang dengan orang lain dan ternyata orang tua Bintang adalah sahabat orang tersebut. Jadi mereka menekan kami agar segera melunasinya. Jika tidak, mereka akan menghancurkan keluargaku! Maka dari itulah mereka memberikan dua pilihan membatalkan pernikahan atau membayar hutang."


Kini vano sudah mulai percaya dengan apa yang dikatakan oleh Havivah setelah ia membaca surat perjanjian jika hutang-hutang orang tua mantan kekasihnya itu akan lunas, jika ia membatalkan pernikahannya dan jabatan  sebagai kepala desa aman.


"Kau harus percaya dengan Havivah, Van!" ucap Sam yang tiba-tiba ada dibelakang mereka berdua.


___

__ADS_1


Bersambung….


__ADS_2