Cinta Bintang

Cinta Bintang
Menjelang Hari H


__ADS_3

"Ya … tidak ada salahnya, sih, tapi masak iya, kamu suka sama anak usia lima belas tahun!" jawab Bintang dengan terkekeh.


"Hih, nanti Kak Carla dibilang tae-tante yang suka sama brondong, loh!" ucap Sena dengan tergelak tawa.


"Kalau ada yang bilang begitu aku tampol dia!" jawab Carla menunjukkan kepalan tangannya di depan wajah Sena.


Mendengar jawaban dari Carla, Bintang dan Sena tertawa terbahak-bahak.


"Dasar! Bule gila!" ucap Bintang, masih dengan tertawa.


Disaat mereka asik bercanda, pintu kamar Bintang diketuk dari luar. Dengan segera Bintang melompat turun dari tempat tidur dan lari membukakan pintu.


"Ada apa, Bun?" tanya Bintang setelah ia membuka pintunya.


"Ayo kita makan malam bersama," ajak Tea.


"Baik, Bun! Aku akan memanggil mereka berdua dulu!" 


"Ya, panggilah, Bunda panggil yang lain dulu."


"Iya, Bun!" 


Setelah memberitahu Tea bergegas memanggil yang lain, sedangkan Bintang kembali menghampiri Sena dan Carla.


"Sen, Ca, ayo kita makan malam," ajak Bintang.


"Oke!" jawab Sena dan Carla secara bersamaan.


Mereka bertiga keluar dari kamar menuju ruang makan. Namun disana hanya ada Ami dan Arum yang sibuk menyiapkan piring dan yang lainnya.


"Tante, Nenek, mana yang lain?" tanya Bintang pada Ami dan Arum.


"Mereka ada di ruang keluarga, karena kita akan makan bersama di sana!" jawab Ami, tersenyum.


"Kenapa kita makan disana?" tanya Sena dengan mengerutkan keningnya.


"Jika kita makan disini tempatnya tidak muat, Sayang!" jawab Arum, tersenyum memandang Sena.


"Nah sekarang lebih baik kalian tunggu di sana, biar kami siapkan dulu makanannya," perintah Ami.


"Nenek, biar aku bantu, ya?" Carla menawarkan diri untuk membantu menyiapkan semuanya.


"Oke, kalian boleh bantu kami!" jawab Ami.


Kini mereka membawa makanan nya ke ruang keluarga. Disana mereka makan beramai-ramai diatas kasur lipat.


Usai makan malam Bintang, Sena dan Carla kembali ke kamar agar segera tidur, karena nanti mereka harus bangun lebih awal untuk bersiap-siap.

__ADS_1


Kini para orang tua dan kerabat Kenzo juga Ahmad masih ramai dan mereka belum ada yang tidur.


Dikamar, Bintang tidak dapat tertidur meskipun Sena dan Carla sudah mulai terlelap. Ia begitu deg-degan memikirkan hari esok, saat Vano menikahi dirinya dan menjadi suaminya.


Carla yang merasakan bintang bergerak terus jadi terbangun apalagi tempat tidur mereka sangat sempit jika harus ditempati oleh mereka bertiga.


"Bi, kamu kenapa gelisah terus? Ayo tidurlah!" perintah Carla masih dengan berbaring.


"Aku tidak bisa tidur, Ca," lirih Bintang, bangun dari tidurnya.


"Kenapa?" tanya Carla dengan mengerutkan keningnya juga bangun dari tidurnya.


"Aku deg-degan memikirkan akan nikah besok," jawab Bintang dengan jujur.


"Astaga, kamu tidak usah gelisah seperti itu, semua akan baik-baik saja, Bi!" tutur Carla dengan mengusap-usap lengan Bintang.


"Aku takut, dia salah sebut nama!" lirih Bintang dengan mengusap wajahnya kasar.


"Kenapa harus salah sebut?" tanya Carla tak mengerti.


"Sebenarnya aku menikah dengannya itu sebagai pengganti, karena kekasihnya membatalkan pernikahannya, empat hari sebelum hari H," jelas Bintang.


"Ya Tuhan … benarkah itu?" tanya Carla dengan membelalakkan matanya, terkejut dengan apa yang telah dikatakan oleh Bintang.


"Ya," jawab bintang menganggukkan kepalanya dengan pelan.


"Karena aku sangat mencintainya dan hanya dia lelaki yang aku inginkan!" 


"Masih banyak lelaki di dunia ini, Bi! Kamu harus ingat itu!" tutur Carla.


"Aku tau itu, tapi aku mencintainya dulu, sekarang atau nanti, aku akan tetap mencintainya!" 


Carla menghembuskan nafasnya kasar, mendengar perkataan dari Bintang. Ia tidak habis pikir demi cinta sahabatnya itu rela menikah dengan orang yang sama sekali tidak mencintainya.


"Ya sudah, jika memang itu sudah menjadi keputusanmu, aku hanya bisa mendukung dan mendoakanmu semoga kamu bahagia hidup dengannya dan suatu saat nanti kamu bisa mendapatkan cintanya," ucap Carla, tersenyum membelai rambut Bintang.


"Aamiin!" Bintang hanya mengamini apa yang dikatakan oleh Carla.


"Sekarang ayo kita tidur, jangan terlalu cemas memikirkan besok!" ajak Carla.


"Ya." 


Bintang kembali merebahkan tubuhnya, begitu pula dengan Carla. 


Pukul dua dini hari, Bintang baru bisa tertidur dengan pulas, sedangkan Carla sudah dari tadi tertidur.


***

__ADS_1


Ditempat Vano, tak kalah rami dengan tempat Bintang, karena kerabat jauh mereka tadi sore juga sudah datang. Bahkan saat ini banyak warga yang membantu menyiapkan kursi untuk para tamu, selain itu pelaminan juga belum selesai dipasang.


Sekarang ini Vano tengah berada di ruang keluarga bersama dengan Aldo dan teman-temannya yang lainnya.


"Van, aku tidak menyangka setelah lepas dari Havivah kau langsung mendapatkan wanita lain, apalagi wanita cantik seperti Bintang," ucap Kris salah satu teman Vano.


"Uh, kamu jangan salah, Bintang itu tidak hanya cantik, tapi juga kaya-raya!" ucap Aldo, yang menimpali perkataan Kris.


"Ya, aku dengarsih seperti itu!" 


"Kau tau tidak? Dia itu punya kartu black card yang tidak semua orang kaya miliki!" tutur aldo.


"Waw ... itu berarti dia tajir melintir dong, tapi kamu tau dari mana kalau dia punya kartu sakti itu?" tanya Kris, sambil memandang Aldo dengan mengerutkan keningnya.


"Aku tau saat dia dirawat di rumah sakit, waktu itu kakek Ahmad mengambil kartu itu dalam tas Bintang untuk membayar biaya rumah sakit!" jelas Aldo.


"Tapi kenapa dia mau hidup miskin bersama kakek dan neneknya, ya?" heran Kris.


"Kalau masalah itu aku no komen!" jawab Aldo dengan melirik Vano.


Kris mengangguk-anggukkan kepalanya mengerti apa arti dari lirikan Aldo.


"Kalian ini kenapa dari tadi ngomongin dia terus, sih?" ucap Vano memandang Kris dan Aldo secara bergantian. Sedangkan teman-teman yang lainnya sibuk main domino dan catur. 


"Karena calon istrimu itu sangat …  waw," jawab Kris dengan terkekeh.


"Tapi kau harus ingat, Van. Jangan pernah menyakitinya, karena dia itu wanita  yang baik dan tidak semua wanita kaya bisa sepertinya! apapun yang terjadi jangan sampai kamu melepaskannya," tutur Aldo, mencoba memperingatkan Vano.


"Ya aku tau itu, meskipun aku tidak mencintainya, aku tidak akan melepaskannya dan aku sudah bilang padanya, akan memberi kesempatan untuknya agar dia bisa membuatku jatuh cinta dengannya."


"Aku percaya padamu," ucap Aldo merangkul pundak Vano, kemudian ia menepuk-nepuknya.


"Sudah sekarang ayo kita main domino," ajak Kris.


"Boleh, siapa takut," jawab Aldo dengan sombongnya, karena selama ini ia tidak pernah kalah dalam bermain.


Mereka bertiga mulai bermain hingga larut. Malam ini mereka benar-benar bertekad tidak akan tidur hingga pagi nanti. Hingga akhirnya Harun menghampiri mereka.


"Vano, kau istirahatlah sebentar, agar besok saat ijab Kabul kamu tidak mengantuk dan kehilangan konsentrasi! Jangan sampai kamu tidak fokus dan salah sebut nama," tutur Harun memperingatkannya.


"Astaga, Ayah! Mana mungkin aku salah sebut nama!" ucap Vano dengan melirik Harun.


___


Bersambung...


jangan lupa vote, lele dan komen.

__ADS_1


__ADS_2