Cinta Bintang

Cinta Bintang
Kemarahan Vano


__ADS_3

Vano menoleh ke belakang memandang Sam dengan pandangan yang sulit diartikan.


"Ngapain kamu kesini?" tanya Vano dengan sinis.


"Aku hanya ingin menjelaskan yang seharusnya kau tau," jawab Sam, tersenyum menghampiri Vano dan Havivah.


"Apa yang ingin kau jelaskan?" 


"Sebenarnya aku tidak pernah menjalin hubungan dengan Havivah dan kalaupun aku melakukannya, itu semua karena aku dibayar agar kalian putus." 


"Apa havivah yang membayarmu?" 


"Ya dialah yang membayarku atas keinginan orang tua istrimu!" ucap Sam, dengan tersenyum.


"Jadi semuanya, ini benar?" tanya Vano dengan begitu kecewa.


"Iya Mas, itulah kenyataannya. Istrimu tak sebaik yang kau kira, dia menginginkanmu dan meminta bantuan orang tuanya untuk mendapatkanmu!" 


Vano terdiam mengetahui semua itu dan sulit sekali rasanya untuk mempercayai Havivah, tapi bukti-bukti itu mengarah pada orang tua Bintang dan pasti Bintang juga terlibat.


 Melihat Vano terdiam, Havivah tersenyum tipis hingga orang lain pun tidak akan menyadari. Ia tak ingin melewatkan kesempatan, dengan cepat ia memeluk Vano.


"Aku mencintaimu Mas, sangat mencintaimu," ucap Havivah dengan mengusap lembut punggung Vano.


Vano yang dipeluk oleh Havivah merasakan berbeda dan tidak sama seperti dulu. Ia merasa pelukan mantan kekasihnya itu biasa-biasa saja, tidak seperti pelukan Bintang yang terasa hangat dan menenangkan.


Setelah sekian lama Vano membedakan pelukannya Havivah dan Bintang, ia menyadari jika dirinya sudah mencintai sang istri. Namun disaat ia menyadari hal itu, kenapa justru ia mengetahui kenyataan, jika kehancuran pernikahannya itu karena ulah orang tua Bintang.


'Aku yakin Mas Vano pasti akan percaya dengan apa yang aku katakan dan dia pasti akan marah besar pada Bintang dan menceraikannya,' batin Havivah dengan begitu senangnya.


"Lepaskan aku!" ucap Vano dengan mendorong tubuh Havivah yang tengah memeluknya.


Tanpa berbicara apapun Vano pergi meninggalkan Havivah, kemudian ia menaiki motornya dengan begitu kencang menuju rumahnya.


Vaviva yang melihat kepergian Vano hanya tersenyum penuh arti.


Sesampainya di rumah Vano segera masuk kedalam kamar dan membating pintu kamarnya.


Brak!


Bintang yang masih berbaring dengan memejamkan matanya, kaget dan langsung bangun dari duduknya.


"Kamu kenapa Kak? Datang-datang kok marah? tanya Bintang menghampiri Vano sambil memegang tangan sang suami.


"Menjauh lah dariku!" bentak Vano dengan mendorong tubuh Bintang, kemudia ia memukul kaca rias yang ada di sampingnya, menumpahkan kekesalannya.


Bintang terjatuh saat Vano mendorongnya.


"Aduh, sakit!" lirih Bintang dengan memegang perutnya.


"Astaga, Vano!" bentak Salma yang ada di ambang pintu 

__ADS_1


Dengan segera Salma menghampiri Bintang.


"Ibu sakit!" keluh Bintang.


"Ayah! Cepat kemari!" teriak Salma dengan kencang memanggil Harun.


Vano yang melihat Bintang kesakitan, merasa bersalah dan segera menghampiri Bintang. Namun ia tidak mengatakan apapun.


"Ada apa ini?" tanya Harun yang baru saja masuk ke dalam kamar Vano.


"Vano mendorong Bintang, Ayah!" 


"Van, kenapa kau marah dengan istrimu? Apa kau tau jika istrimu ini …." 


"Ayah." panggil bintang dengan menggelengkan kepalanya sebelum Harun melanjutkan perkataannya.


Ayah lebih baik cepat bawa Bintang keluar," ucap Salma yang sudah panik karena Bintang masih meringis kesakitan.


Tanpa mengatakan apapun lagi Harun segera membopong Bintang dan membawanya keluar kamar menuju kamarnya.


Disaat Vano hendak mengikuti Harun dengan cepat Salma memegang tangan Vano.


"Lebih baik kamu tenangkan diri dulu, jangan sampai kamu menyakitinya saat kamu lagi emosi dan akan membuat kamu menyesal!" ucap Salma dengan tegas.


Setelah mengatakan itu, Salma keluar dari kamar Vano menuju kamarnya.


"Bi, apa perutmu masih sakit?" tanya Salma yang sudah duduk di samping Bintang.


"Apa perlu dipanggilkan dokter?" tanya Harun yang berdiri di samping Salma.


"Tidak usah Ayah, sebentar lagi pasti akan hilang rasa sakitnya itu." 


"Baiklah kalau begitu aku akan ke kamar Vano dulu, karena tadi tangannya terluka." pamit Harun.


"Ya, pergilah ke sana dan nasehati dia agar bisa mengontrol emosinya," jawab Salma dengan mengusap lembut kepala Bintang.


"Iya!" 


Sebelum Harun ke kamar Vano, terlebih dulu ia mengbil P3K, setelah itu barulah ia masuk ke dalam kamar putranya itu.


Sesampainya di kamar, Harun menghampiri Vano yang tengah duduk di lantai bersandar sampingi tempat tidur, sambil  melamun dengan tangan yang terluka karen terkena pecahan kaca.


"Kamu kenapa tiba-tiba marah dengan Bintang?" tanya Harun yang duduk di samping Vano.


"Tidak ada apa-apa, Ayah!" jawab Vano tanpa memandang Harun.


"Jika kamu ada masalah dengan istrimu, cobalah bicara baik-baik dan jangan marah padanya! Kalau memang dia punya salah maafkanlah dia, kau harus tau, tugas seorang suami tidak hanya memberikan nafkah lahir batin, tapi juga harus bisa membimbing istrimu menjadi istri yang baik."


Harun menasehati Vano sambil mengobati tangan putranya. Sedangkan Vano hanya terdiam tanpa mengatakan apapun.


"Sekarang kamu istirahatlah dulu, pikirkan apa yang aku katakan!" ucap Vano berdiri dari duduknya.

__ADS_1


"Ya!" jawab Vano singkat.


Setelah kepergian Harun merebahkan tubuhnya memikirkan apa yang diucapkan oleh haru dan juga Havivah.


Berjam-jam Vano memikirkan semua apa yang telah terjadi dan akhirnya ia keluar dari kamar menuju kamar Harun.


Cklek 


Vano membuka pintu kamar Harun, kemudian ia menghampiri Salma yang tengah berbaring menemani Bintang yang tengah tertidur.


"Ibu apa Bintang tidur?" tanya Vano.


"Iya dia baru saja tidur dan jangan mengganggunya," ucap Salma bangun dari tidurnya.


"Baiklah, aku akan keluar."


Vano memutar tubuhnya dan melangkah hendak keluar.


"Tunggu, Vano!" Salma menghentikan langkah Vano.


"Iya, Ibu! Ada apa?" tanya Vano dengan memutar tubuhnya menghadap Salma.


"Kamu tungui Bintang, Ibu akan membereskan pecahan kaca dikamarmu!" 


"Biar aku saja yang membersihkannya, ibu tunggui saja dia." 


"Baiklah, tapi satu hal yang ingin Ibu pinta, tolong bicaralah baik-baik dengan Bintang dan selesaikan permasalahan kalian tanpa harus menggunakan kekerasan!" tutur Salma.


"Iya, Bu," jawab Vano, menganggukkan kepalanya. 


Vano kembali keluar dari kamar, kemudian membersihkan pecahan kaca.


Sore pun telah tiba Bintang bangun dari tidurnya dan melihat disekitar kamar tidak ada siapapun.


"Ibu kemana ya? Apa mungkin Ibu ada di dapur?" gumam Bintang, turun dari tempat tidur.


Bintang berjalan menuju dapur, mencari keberadaan Salma. 


Benarkah saja tebakan Bintang, jika Salma saat ini tengah sibuk memasak untuk makan malam nanti.


"Eh … kenapa kesini? Kamu jangan banyak gerak nanti perutmu kontraksi lagi?" ucap Salma yang melihat Bintang ada di dapur.


"Aku haus Ibu, setelah itu aku akan ke kamar lagi dan mau mandi!" 


"Baiklah, tapi ingat, kalau mandi hati-hati jangan sampai jatuh!" ucap Salma memperingatkan Bintang.


"Iya, Ibu," jawab Bintang tersenyum.


____


Bersambung….

__ADS_1


 


__ADS_2