
"Aku menunggu kakek, Kak!" jawab Bintang, beralasan.
"Kakek masih ada dua kelas lagi, Bi! Lebih baik kamu pulang duluan saja!" saran Vano.
"Tapi aku lupa arah jalan pulang dan aku takut nyasar," bohong Bintang.
"Oke, tunggulah di sini kita pulang bersama!"
"Memangnya Kakak tidak mengajar lagi?" tanya Bintang dengan memicingkan matanya.
"Aku sudah selesai, kebetulan hari ini aku hanya mengajar satu kelas saja," jelas Vano.
"Oke, aku akan tunggu Kakak di sini!"
"Ya," jawab Vano kemudian ia berdiri dari duduknya.
Vano melangkah masuk ke dalam ruang guru dan meletakan buku pelajarannya di meja kerjanya, setelah itu ia kembali keluar menghampiri Bintang.
"Ayo kita pulang!" ajak Vano.
"Iya, Kak!" jawab Bintang menganggukkan kepalanya, kemudian ia berdiri dari duduknya.
Mereka berdua melangkah bersama meninggalkan sekolah menuju rumah dengan naik motor.
"Bi, apa kamu nanti sore sibuk?" tanya Vano sambil menyetir motornya.
"Tidak, Kak! Memangnya kenapa?"
"Aku akan mengajakmu berkeliling agar kamu menghafal tempat ini! Apa kamu mau?"
"Mau dong!" jawab Bintang dengan cepat.
"Baiklah, nanti aku akan jemput di rumah, ya?"
"Tidak perlu, Kak! Nanti aku akan ke rumah Kakak, sekalian lapor sama pak RT jika aku akan tinggal disini," ucap Bintang dengan bahagia. Ia senang saat Vano mengajaknya jalan berdua dan itu merupakan kesempatan baginya untuk lebih dekat dengannya.
"Oke, aku tunggu di rumah!"
"Tapi ayah Kakak ada dirumahkan?" tanya Bintang memastikan.
"Iya, ada. Nanti aku akan bilang sama beliau jika ada yang mau lapor sebagai warga baru!" jawab Vano.
"Oke…."
Mereka berdua menikmati perjalanan sambil berbincang-bincang hingga akhirnya Vano menghentikan motornya di depan rumah Ahmad.
"Kak, terima kasih sudah mengantarku pulang," ucap Bintang sambil turun dari motor Vano.
"Iya, sama-sama, Bi! Aku pulang dulu!"
"Iya Kak, hati-hati di jalan!" pesan Bintang.
"Iya."
Vano menjalankan motornya meninggalkan Bintang yang masih berdiri di tempatnya sambil menatap kepergiannya.
Setelah Vano menghilang dari pandangannya, barulah Bintang masuk ke dalam rumah.
Dalam rumah, Bintang melihat Ami tengah bersantai sambil menonton film kesukaannya.
"Siang, Nek!" sapa Bintang.
"Siang, Bi. Kamu sudah pulang?" tanya Ami tersenyum memandang Bintang.
"Iya, Nek!"
"Apa kakekmu belum pulang?"
__ADS_1
"Belum Nek, masih ada dua kelas lagi."
"Ya sudah, makanlah, setelah itu kamu istirahat," perintah Ami.
"Iya, Nek!
Bintang meninggalkan Ami, kemudian ia masuk ke dalam kamar dan meletakkan tas jinjingnya. Setelah itu barulah Bintang makan siang.
Usai makan ia kembali ke kamar kemudian merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur.
Hari ini Bintang benar-benar bahagia, apalagi nanti sore ia akan jalan-jalan bersama Vano berkeliling desa.
"Ah, aku jadi tidak sabar, nih menunggu Sore," gumam Bintang sambil memejamkan mata.
Cukup lama Bintang memejamkan matanya namun ia tidak bisa tidur, karena pikirannya hanya tertuju pada Vano.
Hingga sore tiba bintang tidak bisa tidur dan langsung bergegas masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan badannya.
Kali ini Bintang menggunakan baju casual, namun sangat pas saat digunakan olehnya.
Setelah dirasa penampilannya cukup rapi, Bintang keluar dari kamarnya.
"Kamu mau kemana, Bi?" tanya Ahmad Setelah Bintang sampai di ruang tamu dan bertemu dengannya.
"Mau ke tempat pak RT, Kek!" jawab Bintang tersenyum menghentikan langkahnya.
"Ngapain?"
"Ya laporan, kalau aku akan tinggal di sini dalam jangka waktu yang cukup lama!" jelas Bintang.
"Ya sudah, pergilah!" perintah Ahmad.
"Iya Kek, tapi nanti aku tidak langsung pulang, karena mau keliling desa supaya hafal dengan tempat ini."
"Iya, tapi kamu hati-hati," pesan Ahmad.
"Kakek, jangan khawatir, aku pasti akan baik-baik saja!" jawab Bintang tersenyum.
Sesampainya di depan pintu rumah Vano Bintang segera mengetuknya.
Tok, tok, tok.
Tidak lama kemudian pintu terbuka dan nampak lah Vano.
"Sore Kak," sapa Bintang.
"Sore, Bi. Ayo masuk," ajak Vano.
"Terima kasih, Kak!" jawab Bintang tersenyum.
Setelah mendapatkan izin dari Vano, ia pun masuk ke dalam.
"Ayo, duduklah dulu, Bi! Aku akan memanggil Ayah!"
"Iya, Kak!" jawab Bintang tersenyum.
Vano pergi meninggalkan Bintang di ruang tamu dan memanggil Harun sang ayah.
Tidak lama kemudian Vano kembali keluar bersama Harun.
Melihat Vano dan Harun datang, Bintang berdiri dari duduknya.
"Selamat sore, Pak," sapa Bintang dengan mengulurkan tangannya.
"Sore, Nak. Ayo duduklah!" Harun menyambut tangan Bintang kemudian mereka saling berjabat tangan.
"Terima kasih, Pak," jawab Bintang kemudian ia melepaskan jabatan tangannya.
__ADS_1
Bintang, Harun dan Vano kini duduk bersama, setelah Bintang menyampaikan tujuannya, mereka melanjutkannya dengan berbincang-bincang.
"Ayah, aku akan mengantar Bintang berkeliling, kasihan nanti kalau dia sampai nyasar," pamit Vano pada Harun.
"Ya, pergilah!"
"Pak, saya pamit dulu, terima kasih sudah bersedia meluangkan waktu untuk mengobrol bersama saya," ucap Bintang dengan sopan.
"Sama-sama, Nak!" jawab Harun tersenyum.
Setelah berpamitan Vano dan Bintang keluar dari rumah, kemudian ia menaiki motornya dengan pelan sambil membonceng Bintang.
Bintang begitu bahagia bisa menghabiskan waktu dengan Vano, meski hanya berkeliling di sekitar.
"Kak kita lihat sawah itu, yuk," ajak Bintang.
"Apa kamu mau jalan kaki di area persawahan?" tanya Vano tidak yakin jika Bintang mau.
"Tentu saja aku mau!"
"Baiklah kita akan jalan-jalan di sawah," ucap Vano sambil menghentikan motornya.
Setelah Vano menghentikan motornya, Bintang segera turun, begitu pula dengan Vano.
Mereka berjalan bersama menikmati suasana sore dengan saling bercanda, penuh dengan kebahagiaan.
Para warga yang melihat mereka jalan bersama saling berbisik, entah apa yang mereka bicarakan. Namun Vano dan Bintang tidak menghiraukan mereka.
"Nak Vano, siapa gadis cantik ini?" tanya salah satu ibu-ibu yang ada di sekitar area persawahan.
"Bintang ini cucunya kakek Ahmad, Bu dan dia akan mengajar di sekolah SD tempat kita," jelas Vano.
"Oh, jadi dia ibu guru baru?"
"Iya, Bu!" jawab Vano, tersenyum menganggukkan kepalanya.
"Ibu sedang panen apa?" tanya Bintang yang melihat ibu-ibu itu membawa keranjang.
"Ini Nak, Ibu sedang memanen sawi."
"Baiklah Bu, kami permisi dulu," pamit Vano.
"Silahkan, Nak!"
Vano menggandeng tangan Bintang dan membawanya pergi dari sana.
Bintang yang digandeng tangannya oleh Vano merasa bahagia bahkan senyuman di bibirnya terus saja berkembang.
"Kak, suasananya bagus ya?"
"Iya, Bi, disini memang paling indah pemandangannya, dibandingkan dengan tempat lain."
"Nanti kalau nikah aku mau foto prewedding di sini, biar beda dengan yang lain," ucap Bintang dengan terkekeh geli.
"Memangnya kamu sudah punya kekasih?" tanya Vano dengan mengerutkan keningnya memandang Bintang.
"Belum," jawab Bintang dengan cepat.
"Oh, kirain sudah," ucap Vano sambil menatap jauh disana.
"Kalau Kakak sudah punya kekasih belum?" tanya Bintang dengan deg-degan, takut jika Vano sudah memiliki kekasih.
"Aku ti_"
"Aduh!"
____
__ADS_1
Bersambung…