Cinta Bintang

Cinta Bintang
Kemarahan Havivah


__ADS_3

"Aku tau itu!" jawab Vano tersenyum.


Mendengar jawaban Vano Bintang hanya bisa tersenyum kecut. Setiap kali mengatakan cinta ia berharap suaminya itu akan membalas cintanya, tapi kenyataannya hal itu masih jauh dari harapannya.


"Bi, ini makanlah!" perintah Vano, setelah satenya disajikan.


"Oh, iya Kak!" jawab Bintang mengangguk.


Kini Bintang mulai memakan sate yang telah diinginkan. 


Vano yang melihat Bintang makan dengan lahap merasa senang. Setidaknya Bintang masih mau makan setelah akhir-akhir ini istrinya itu kehilangan nafsu makan.


"Apa mau tambah lagi?" tanya Vano sambil makan satenya.


"Mau tapi yang sate ayam," jawab Bintang yang sudah menghabiskan satenya.


"Sebentar aku akan memesankan untukmu." 


Vano berdiri dari duduknya, kemudian ia menghampiri penjual sate dan memesan kembali satu porsi sate ayam.


Dalam beberapa menit sate ayam yang dipesan Vano sudah disajikan dan Bintang pun langsung memakannya.


"Aku senang kamu makan seperti ini!" ucap Vano, tersenyum membelai rambut Bintang. 


"Nanti kalau aku gendut bagaimana?" tanya Bintang dengan terus memakan sate ayamnya.


"Tidak apa-apa."


"Aku tidak mau gendut!" 


"Kenapa tidak mau?" tanya Vano, mengerutkan keningnya.


"Aku langsing saja Kakak tidak tertarik, bagaimana kalau aku gendut pasti malah semakin ilfil," ucap Bintang, kemudian mengerucutkan bibirnya.


Vano tertawa kecil mendengar perkataan Bintang, ia gemas setiap kali melihat bibir Bintang yang mengerucut.


"Habiskanlah satenya dan bibirnya jangan seperti itu!"


Bintang mengangguk dan kembali memakan satenya hingga habis tak tersisa.


"Aku sudah kenyang, Kak," ucap Bintang dengan mengusap-usap perutnya yang terasa kenyang.


"Ya sudah, kita pulang ini sudah ini sudah mau gelap!" 


"Iya." 


Setelah membayar satenya Vano segera mengambil motornya. Setelah Bintang naik, ia dengan cepat menjalankan motornya.

__ADS_1


Kini mereka sudah sampai di rumah dan mereka berdua langsung masuk ke dalam kamar.


Bintang duduk di atas tempat tidur dan merebahkan tubuhnya sambil memijat pelipisnya yang tiba-tiba saja merasa sedikit pusing.


"Bi, kamu kenapa?"


"Kepalaku sedikit pusing, Kak!" 


"Sini biar aku pijit."


Vano duduk selonjor, kemudian Bintang berbaring di pangkuannya. 


Dengan pelan Vano memijat kepala Bintang, hingga akhirnya terlelap dalam tidurnya.


Vano membenarkan tidur Bintang kemudian ia menyelimutinya. 


"Tunggulah sebentar lagi, aku pasti akan menyatakan cintaku padamu, setelah aku yakin dengan perasaanku ini!" gumam Vano mengusap lembut kepala Bintang, kemudian ia mengecup keningnya dengan lembut.


Vano turun dari tempat tidur dan keluar dari kamar meninggalkan Bintang sendirian.


***


Havivah membanting semua yang ada di kamarnya, ia merasa kesal rencananya untuk mencelakai Bintang selalu saja gagal karena ada orang yang selalu menghalanginya.


Aku tidak boleh membiarkannya semakin bahagia, aku tidak mau Mas Vano menjadi miliknya selamanya!" gumam Havivah


Havivah membanting gelas yang ia pegang degan keras melampiaskan kekesalan.


"Jika aku tidak bisa membuatmu lenyap! Maka aku akan membuatmu pergi dari kehidupan, Mas Vano! Lihat saja, aku pasti akan memilikinya dan juga harta yang sudah aku miliki dari orang tuamu itu! Hahaha…."


Havivah tertawa kencang setelah mengatakan demikian.


Cklek


Havivah menghentikan tawanya saat pintu kamarnya dibuka oleh Maya.


"Astaga Havivah! Apa yang telah kau lakukan?" tanya Maya yang melihat pecahan gelas berserakan dan juga kamar terlihat berantakan, karena semua barang-barangnya hancur akibat amarah Havivah.


"Ibu pergilah aku sedang tidak ingin berdebat denganmu!" usir Havivah.


"Hanya karena cinta dan harta kamu berubah Hav!" ucap Maya yang sudah berdiri di depan Havivah.


"Sudahlah, Bu! Tidak perlu banyak bicara, mending Ibu urus saja diri Ibu sendiri tidak perlu mengurusku!"


"Kamu benar-benar keterlaluan Hav, semenjak belajar diluar negri, kamu menjadi wanita yang serakah dan gila akan harta, sama seperti ayahmu yang gila karena tahta! Kau pikir setelah kau memiliki uang 50 milyar kau bisa mendapatkan Vano kembali? Itu tidak akan pernah mungkin! Camkan itu baik-baik!" Maya benar-benar dibuat kesal oleh Havivah karena semenjak pulang dari luar negri dan hidup mewah Havivah sering membantahnya dan memperlakukannya tidak seperti seorang ibu.


Mendengar perkataan Maya sontak saja membuat Havivah marah dan mendorongnya hingga terjatuh ditempat serpihan gelas.

__ADS_1


"Aahh…" Maya berteriak kesakitan.


"Aku sudah katakan padamu Ibu, jangan pernah mengurusi kehidupanku, tapi sepertinya Ibu tidak mendengarkan perkataan ku, jadi maafkan aku jika aku menyakitimu!" ucap Havivah berjongkok menatap Maya penuh kemarahan.


"Havivah stop!" teriak Hamit dari pintu saat ia melihat tangan Havivah sudah terayun keudara hendak menampar Maya.


"Jangan menyakiti ibumu, Hav!" ucap Hamit yang berjalan menghampiri Maya dan membantunya untuk berdiri.


"Aku kesal dengannya, Ayah!" 


"Kau boleh menyakitiku Hav, tapi kau tidak akan bisa hidup dengan bahagia! Apapun yang akan kau lakukan!" kata Maya dengan begitu marah, kemudian ia pergi meninggalkan kamar Havivah.


"Sudah, Hav! Sekarang kamu minumlah obatmu agar kamu tenang!" ucap Hamit mengusap lembut punggung Havivah.


Harun menuntun Havivah keatas tempat tidur dan kemudian ia mengambilkan obat dan air untuk putrinya itu.


Semenjak Havivah masih berusia 13 tahun ia sudah mengalami gangguan kepribadian dengan amarah yang meledak-ledak dan selama ini ia hanya meminum obat penenang untuk meredakan amarahnya.


Havivah segera menelan obatnya, kemudian ia berbaring memejamkan mata. 


Setelah dirasa Havivah tertidur Hamit memangil Bibi yang bekerja di rumahnya untuk membersihkan kamar putrinya.


Hamit membuka pintu kamarnya dan menghampiri Maya yang tengah mengobati luka di tangan akibat terkena pecahan gelas.


"Biar aku bantu!" Hamit mengambil alih kain perban dari tangan Maya kemudian membalut luka sang istri dengan hati-hati.


"Apa dia sudah tenang?" 


"Ya, tapi seharusnya kau tidak Semarang itu padanya! Kau kan tau sendiri Havivah memiliki gangguan kepribadian sejak kecil dan lebih baik kamu menghindarinya saat emisinya meledak-ledak."


"Aku tau itu, Mas, tapi aku tidak suka Havivah berlaku buruk terhadap orang lain! Seharusnya dia sadar kalau ia sudah menukar Vano dengan uang dan itu artinya ia sudah menjual Vano pada orang tua Bintang!" 


"Ya, aku ngerti, tapi sebagai orang tua kita hanya bisa mendukungnya. Jika memang Havivah ingin mengambil kembali Vano ya biarkan saja."


"Aku kecewa denganmu Mas, Havivah mau melakukan kejahatan bukanya mencegah malah mendukung dan aku juga kecewa denganmu karena kamu sudah menyuruh Havivah untuk melepaskan Vano demi uang 50 milyar dan yang lainnya itu!" kesal Maya.


"Aku hanya ingin hidup keluarga kita tetap nyaman setelah aku tidak menjadi seorang kepala desa!" 


"Untuk apa uang berlimpah jika putrikita tidak bahagi dan menjadi orang yang jahat?" 


"Sudahlah kita tidak perlu bertengkar hanya karena ini."


"Huh, aku sebal sama kamu Mas, selain mata duwitan kamu juga selalu berbuat curang untuk mempertahankan jabatanmu sebagai kepala desa!" 


"Tidak usah banyak protes kamu juga menikmati hasilnya!" 


____

__ADS_1


Bersambung….


__ADS_2