Cinta Bintang

Cinta Bintang
Akhirnya Kita Sampai


__ADS_3

Tidak menunggu lama, es yang dipesan sudah ada di depan mereka berdua. Bintang yang merasa haus langsung minumnya.


"Huh, segernya," ucap Bintang  yang sudah minum es miliknya.


"Aden kan?" 


"Iya, Kak, adem dan seger!" jawab Bintang tersenyum. 


"Habiskanlah, setelah ini kita jalan lagi!" perintah Vano.


"Baik, Kak!"


Bintang segera menghabiskan esnya. Setelah itu ia menunggu Vano yang masih menghabiskan esnya.


Usai membayar es dan mengambil dua botol air putih Vano dan Bintang segera melanjutkan perjalanan.


Sepanjang perjalanannya Bintang berbicara apa saja agar ia tidak bosan, sedangkan Vano hanya mendengarkan dan sesekali menjawab pertanyaan Bintang.


"Kak, apa kamu haus?" tanya Bintang yang membawa dua botol air minum.


"Haus sih, tapi itu untukmu saja deh!" jawab Vano tersenyum.


"Inikan ada dua, Kak, jadi untukmu satu dan untukku satu!" Bintang memberikan sebotol air putih pada Vano.


"Kita berhenti dulu minum-nya," ajak Vano sambil menerima botol air putih.


"Oke, Kak!" jawab Bintang tersenyum.


Vano memasang standar motornya, kemudian ia duduk di trotoar jalan begitu pula dengan Bintang.


'Meskipun aku sudah sangat lelah, tapi hari ini aku senang sekali karena bisa menghabiskan waktu bersama Kak Vano. Semoga Tuhan akan selalu mendekatkan aku dengan-nya terus,' bantin Bintang dengan begitu bahagia.


Setelah lima belas menit mereka duduk beristirahat di trotoar jalan akhirnya Bintang dan Vano melanjutkan perjalanannya.


"Kak, sepertinya itu ada bengkel!" Bintang menunjuk bengkel yang ada di depan sana.


"Iya, Bi, akhirnya kita bisa menemukan bengkel juga."


Dengan berjalan cepat Vano mendorong motornya menuju bengkel bersama dengan Bintang.


Sesampainya di bengkel Bintang duduk bersama Vano menunggu motornya selesai diganti businya.


Tidak perlu menunggu lama motor Vano sudah bisa berbunyi. 


"Ayo Bi, naiklah!" perintah vano.


"Baik, Kak!" Bintang naik ke atas motor Vano.


"Pegangan, Bi! Nanti kamu jatuh!" perintah Vano.


"Iya, kak!" Bintang dengan senang hati melingkarkan tangannya di perut Vano.


Setelah Bintang berpegangan dengan segera Vano menjalankan motornya menuju rumah sakit.


Kini mereka sudah ada di parkiran rumah sakit dan Bintang sudah turun dari motornya.


"Bi, apa kamu tidak ingin melepas helm-nya?" tanya Vano yang melihat Bintang masih menggunakan helm-nya.

__ADS_1


"Astaga, aku lupa, Kak!" ucap Bintang dengan nyengir kuda.


"Sini aku bantu lepasin!" ucap Vano terkekeh geli, kemudian ia melepaskan helm yang dipakai oleh Bintang.


Setelah meletakkan helm di motornya Vano bersama dengan Bintang masuk ke dalam rumah sakit menuju ruang perawatan VVIP tempat Ami dirawat.


"Ah, akhirnya kita sampai juga, Kak!" ucap Bintang sebelum ia masuk ke dalam ruang perawatan.


"Iya, Bi!" jawab Vano tersenyum.


"Sekarang ayo kita masuk!" ajak Bintang.


"Oke!" 


Cklek.


Bintang membuka pintu ruang perawatan, kemudian ia masuk menghampiri keluarganya bersama dengan Vano.


"Astaga, Bi! Kamu dari mana? Kenapa lama sekali ngajarnya?" tanya Tea, yang melihat Bintang yang baru saja masuk.


"Maaf Tante, tadi motor yang kami naiki mogok, jadi kami cari bengkel dulu," jelas Vano, sebelum Bintang menjawab pertanyaan Tea.


"Oh, gitu, tapi kamu ini siapa ya?" tanya Tea yang tidak mengenali Vano.


"Saya Vano, Tante!" jawab Vano dengan mengulurkan tangannya.


"Oh, kamu Vano anaknya pak RT itu ya?" tanya Tea memastikan, sambil menyambut tangan Vani.


"Iya, Tante!" jawab Vano tersenyum menganggukkan kepalanya.


Setelah saling menyapa semua kini Vano mendekati tempat tidur Ami.


"Nenek baik, Nak," jawab Ami dengan lemah.


"Syukurlah, Nek!" 


Mereka berdua saling berbicara sedangkan yang lainya berbincang-bincang sambil duduk di sofa tak jauh dari tempat tidur Ami.


'Mungkin pria ini yang dimaksud oleh orang suruhanku. Sepertinya Bintang suka dengannya  mangkanya putriku rela hidup susah demi dekat dengannya,' batin Kenzo yang memandang Bintang sedang menatap Vano tanpa berkedip. 


Kenzo memang  membiarkan Bintang hidup bersama dengan Ahmad di desa, tetapi ia tidak melepaskannya begitu saja dan tetap mengawasinya dari jarak jauh dengan cara mengirimkan seseorang.


 Pukul enam sore, barulah Vano berpamitan dengan keluarga Bintang untuk pulang.


"Tante, Om, Kakek, saya pamit pulang dulu!" 


"Terima kasih sudah menengok, Nenek," ucap Ahmed tersenyum menepuk-nepuk bahu Vano.


"Sama-sama, Kek! Saya pulang dulu!" pamit Vano.


"Iya, hati-hati dijalan," pesan Ahmad.


"Baik, Kek!" jawab Vano tersenyum.


"Vano, salam untuk kedua orang tuamu!" pesan Kenzo.


"Baik Om, nanya akan saya sampaikan setelah sampai rumah."

__ADS_1


"Ya sudah, ayo Kak, aku antar sampai lobby," ajak Bintang.


"Tidak perlu Bi, kamu tungguin Nenek saja disini," tolak Vano.


"Baiklah, kalau gitu hati-hati dijalan dan jangan ngebut-ngebut!" 


"Iya" jawab Vano tersenyum menganggukkan kepalanya.


Setelah kepergian Vano, Bintang duduk di sofa dengan menahan lapar, karena seharian ini ia baru makan saat di kantin bareng Vano tadi siang.


"Bi, apa kamu lapar?" tanya Tea yang mendengar perut Bintang berbunyi.


"Iya, Bun!" jawab Bintang dengan tersenyum menggaruk tengkuknya.


"Ayo kita ke kantin, Bunda juga lapar!" ajak Tea.


"Baik, Bun!" 


"Bi, jangan lupa belikan Ayah kopi," pinta Kenzo pada Bintang.


"Iya Ayah, nanti Bintang bawakan kopi untuk Ayah dan Kakek," jawab Bintang tersenyum.


Bintang bersama dengan Tea keluar dari ruang perawatan VVIP menuju kantin. 


Sesampainya di sana Bintang memesan makanan kesukaannya begitu juga dengan Tea.


Kini Bintang dan Tea tengah duduk di sambil menunggu pesanannya disajikan.


"Bi, baik muda lihat dari tadi kamu memandang Vano sampai tidak berkedip! Apa kamu suka dengannya?" tanya Tea menyelidik.


"Sebenarnya alasan aku kesini memang untuk dekat dengannya, Bun, tapi Kak Vano selalu menganggapku sebagai seorang sahabat dan tidak lebih dari itu," jawab Bintang dengan menunjukkan wajah sedihnya.


"Apa sekarang kamu menyerah mendekatinya?" tanya Tea dengan memicingkan matanya.


"Tentu saja aku tidak akan menyerah! Kak Vano cinta pertamaku dan akan menjadi cinta terakhirku! Sampai kapanpun aku akan terus berusaha meraih cintanya!" jawab Bintang dengan bersengat.


"Jika urusan cinta Bunda tidak bisa membantumu dan semoga kamu bisa meraih cintamu itu," ucap Tea dengan menggenggam tangan Bintang memberinya semangat.


"Doa Bunda itu sudah lebih dari cukup!" jawab Bintang tersenyum.


Di sela-sela pembicaraan mereka datanglah seorang pelayan yang membawa pesanan mereka.


"Ayo Bi, makanlah!" perintah Tea setelah pelayan selesai menyiapkan makanan-nya.


"Baik, Bun!" jawab Bintang mengangguk.


Mereka kini menikmati makanannya dengan diam tanpa berbicara lagi.


Setelah memesan makan dan kopi untuk dibawa ke ruangan, Tea segera membayar semuanya.


Belum matang dan Tea melangkah meninggalkan kantin menuju ruang perawatan VVIP.


Sesampainya di sana Bintang memberikan kopi pada Kenzo dan juga Ahmad beserta dengan makan malamnya.


___


Bersambung...

__ADS_1


 


__ADS_2