Cinta Bintang

Cinta Bintang
Jangan Sedih


__ADS_3

"Jangan pikirkan apapun, sekarang kamu istirahat dulu jangan berbuat yang macam-macam," ucap Salma, memperingatkan Vano.


"Iya, Ibu! Aku tidak akan melakukan apa-apa!" jawab Vano, sambil melepaskan pelukannya dari Salma.


"Sekarang Ibu keluar dulu," pamit Salma dengan tersenyum.


Vano mengangguk, kemudian Salma keluar kamar.


Kini Vano melamun sendiri merasakan sakit yang teramat dalam akibat penghianat dan hinaan dari Havivah. 


Vano berjanji dalam hatinya tidak akan lagi mau mengenal Havivah dan keluarganya. 


***


Pukul enam pagi, Bintang berada di kamarnya, tengah bersiap-siap hendak berangkat ke sekolah. Sebab pagi ini merupakan hari pertama ia kembali mengajar, setelah ia keluar dari rumah sakit.


Bintang keluar dari kamar menghampiri keluarganya yang sudah berkumpul di ruang makan.


"Pagi, semua," sapa Bintang sambil duduk di samping Tea.


"Pagi, Bi!" jawab mereka secara bersamaan.


"Apa hari ini kamu sudah siap mengajar, Bi?" tanya Ahmad, yang melihat Bintang sudah rapi dengan pakaian kerjanya.


"Sudah, Kek!" jawab Bintang sambil mengambil gelas susunya.


"Ya sudah, nanti kita berangkat bersama-sama!" 


"Ya, Kek!" 


Mereka mulai memakan sarapannya dengan diam.


Usai sarapan bintang berpamitan dengan kedua orang tuanya dan juga Ami. Kini ia sudah di bonceng oleh Ahmad menuju sekolah.


Sesampainya di sekolah Bintang langsung duduk di tempat kerjanya.


Aldo dan Winda yang melihat Bintang sudah kembali mengajar merasa senang dan bergegas menghampirinya.


"Huh ... aku senang banget akhirnya kamu kembali lagi mengajar," ucap Winda dengan hebohnya.


"Aku juga senang bisa kembali melihat kalian berdua lagi," jawab Bintang memandang Aldo dan Winda bergantian.


"Sebagai ucapan selamat datang, aku akan mentraktirmu makan siang setelah jam istirahat," ucap Aldo dengan tersenyum.


"Apa kau yakin?" tanya Bintang, menatap Aldo dengan memicingkan matanya.


"Ya, aku yakin!" 


"Aku mau dong ditraktir juga," pinta  Winda.


"Tenang saja aku akan traktir kalian berdua," ucap Aldo dengan mengedipkan sebelah matanya pada Winda.


"Jaga matamu, jangan kegenitan!" Winda menatap tajam Aldo.


"Ah, kamu ini nggak asik!" ucap Aldo dengan kesal.


"Tapi ini kak Vano kok tumben belum datang?" tanya Bintang dengan memandang mereka berdua.

__ADS_1


Wina dan Aldo saling memandang ia takut jika Bintang akan kembali kecewa dan depresi jika mendengar Vano akan menikah dan mengambil cuti.


"Kenapa kalian diam saja? Ada apa?" tanya Bintang, yang tidak mendapatkan jawaban dari mereka dan malah diam saja.


"Kami akan mengatakan jika kamu sudah cukup kuat menerima kenyataan ini," lirih Aldo dengan sedikit ragu. Sedangkan wajah Winda sudah mulai cemas.


"Katakanlah, apa yang terjadi!" pinta Bintang.


"Sebenarnya Vano mengambil cuti untuk dua minggu kedepan, karena dia akan menikah dalam empat hari lagi," jelas Aldo dengan berhati-hati.


Deg


Jantung Bintang terasa hancur mendengar Vano akan menikah dalam waktu dekat. Jujur ia belum menerima kenyataan ini sepenuhnya. 


"Jangan sedih, Bi!" ucap Winda dengan mengusap lengan Bintang saat ia melihatnya bersedih.


"Aku tidak apa-apa," lirih Bintang dengan mendongakkan kepalanya menahan tangisnya.


Tiba-tiba saja, vano muncul dari pintu dan langsung duduk di meja kerjanya tanpa menyapa mereka bertiga seperti biasanya.


"Van, kamu kok masuk? Bukanya sudah cuti ya?" tanya Aldo dengan mengerutkan keningnya.


"Batal!" jawab Vano singkat.


"Kamu batal cuti, kenapa?" tanya Aldo, yang tidak mengerti dengan apa yang dimaksud oleh Vano.


Belum sempat Vano menjawab pertanyaan Aldo, lonceng telah berbunyi dan akhirnya mereka bubar dan mulai siap-siap untuk mengajar.


"Kak, aku duluan," pamit Bintang sambil berdiri dari duduknya. Sedangkan Vano masih duduk diam ditempat.


"Ya!" jawab Vano dengan singkat.


Setelah kepergian Bintang, barulah Vano beranjak dari duduknya dan keluar dari ruang kerja menuju kelas lima.


Jam pulang sekolah pun tiba dan Ahmad sudah dari tadi pulang sedangkan Bintang baru keluar dari kelas. Ia melangkah masuk ke dalam ruang kerjanya, mengambil tasnya. 


Bintang berjalan sendiri, namun tiba-tiba Vano menghentikan motornya tepat di samping Bintang.


"Naiklah, Bi!" perintah Vano.


Bintang mengangguk, kemudian ia duduk di belakang dan melingkarkan tangan kanannya di pinggang Vano.


Setelah Bintang naik dengan benar, Vano menjalankan motornya menuju danau.


Sesampainya disana ia menghentikan motornya dan Bintang pun turun. Ia tersenyum saat melihat sekeliling danau yang begitu sejuk di siang hari.


"Kenapa Kak Vano membawaku kesini?" tanya Bintang tanpa menatap Vano.


Vano tidak menjawab ia malah duduk diam menatap danau. 


"Ada apa? Berceritalah denganku!" ucap Bintang, sambil duduk di samping Vano.


"Dia membatalkan pernikahan yang tinggal beberapa hari lagi," ucap Vano dengan datar.


Bintang kaget mendengar pengakuan Vano, ia merasa sedih melihatnya bersedih, tapi ia juga merasa sedikit senang mendengarnya.


"Kenapa bisa begitu?" tanya Bintang memandang Vano.

__ADS_1


"Dia bosan denganku dan selingkuh dengan orang lain," jawab Vano dengan menghembuskan nafasnya kasar.


"Jangan sedih, mungkin dia bukan jodoh, Kak Vano," tutur Bintang dengan mengusap-usap punggung Vano.


"Aku tidak apa-apa, tapi orang tuaku pasti malu, karena semua persiapan pernikahan sudah selesai  dan undangan juga sudah disebar. Aku benci Havivah dan aku benci keluarganya!"


Vano memeluk Bintang melepaskan kegundahan dalam hatinya, sedangkan Bintang hanya terdiam saat Vano memeluknya. 


Terasa tenang dan hangat saat Vano memeluk Bintang dan ia sedikit lega.


Vano pun melepaskan pelukannya setelah ia merasa tenang.


"Maaf, tiba-tiba aku memelukmu!" ucap Vano menatap wajah Bintang.


"Tidak apa-apa," jawab Bintang tersenyum, kemudian ia menyandarkan kepalanya di bahu Vano. 


Vano kembali terdiam meletakan kepalanya di atas kepala Bintang.


Berjam-jam mereka dalam posisi seperti itu tanpa ada pembicaraan apapun. Hingga akhirnya Bintang mendengar perut Vano berbunyi.


"Apa Kakak lapar?" tanya Bintang tanpa mengubah posisinya.


"Aku dari kemarin belum makan," gumam Vano yang masih bisa didengar oleh Bintang.


"Bagaimana kalau kita cari makanan?" usul Bintang.


"Apa kamu mau menemaniku makan?" tanya Vano, mengangkat kepalanya.


"Dengan senang hati," jawab Bintang juga mengangkat kepalanya dari bahu Vano.


"Ya sudah, ayo berangkat," ajak Vano.


"Oke."


Mereka berdua naik motor menyusuri jalan yang sempit mencari makanan yang mereka suka.


"Kak, bagaimana kalau kita jalan-jalan ke kota?" 


"Boleh, tapi kita mau kemana?" 


"ke-Mall juga nggak papa!"


"Oke, kita ke sana!" 


Vano mulai menancapkan gas motornya sedikit cepat karena tempat mereka agak jauh dari Mall.


Empat puluh lima menit kemudian, mereka baru sampai ke-Mall. Bintang segera turun dari mobilnya motor begitu pula dengan Vano. Ia begitu bahagia bisa jalan-jalan dengan orang yang ia cintai. Sedangkan Vano masih terlihat murung meski di tempat yang ramai.


Bintang dan Vano masuk ke sebuah restoran yang ada di Mall, karena perut mereka sudah sangat keroncongan minta diisi.


"Kak Vano mau pesan apa?" tanya Bintang, sambil membuka menu makanan.


___


Bersambung….


jangan lupa like, komen dan vote untuk mendukung author.

__ADS_1


oh ia sambil nunggu bab selanjutnya yuk baca juga novel aku yang ada di tempat lain dan dengan nama pena bunga teratai.



__ADS_2