
Pukul tujuh pagi, Bintang sudah sampai di Indonesia dan kini ia sudah ada di bandara.
Bayu memasukan koper di bagasi mobilnya sedangkan Bintang sudah duduk di kursi depan.
Dengan perlahan Bayu mulai menjalankan mobilnya meninggalkan bandara.
Sesampainya di depan pintu rumahnya Bintang sudah disambut oleh semua keluarganya.
"Bunda aku merindukanmu?" ucap Bintang memeluk Tea.
"Aku juga merindukanmu Bintang," ucap Tea membelai lembut kepala Bintang.
"Apa kau tidak merindukan Ayah?" tanya Kenzo yang berdiri di samping Tea.
Bintang melepaskan pelukannya dan beralih memeluk Kenzo.
"Aku juga sangat merindukanmu, Ayah!" jawab Bintang, yang berada dipelukan Kenzo.
"Kakak, kami juga merindukanmu!" seru Sena dan Rafa memeluk Bintang dari belakang.
Bintang melepaskan pelukannya dari Kenzo dan memutar tubuhnya menghadap kedua adiknya kemudian ia kembali memeluk Sena dan Rafa.
Setelah saling berpelukan kini mereka berada di ruang tamu melepaskan rasa rindunya, karena sudah tiga tahun ini Bintang tidak pulang ke Indonesia.
"Sayang istirahatlah, kamu pasti capek melakukan perjalan dari Paris ke Indonesia!" perintah Tea.
"Iya, Bunda," jawab Bintang, kemudian ia berdiri duduknya.
"Kak, boleh aku ikut ke kamar?" tanya Sena, tersenyum memandang Bintang.
"Boleh dong! Ayo kita ke kamar," ajak Bintang.
Bintang dan Sena ke kamar meninggalkan keluarganya yang masih bersantai di ruang keluarga.
Cklek
Bintang membuka kamarnya yang sudah lama tidak ditempati namun tetap bersih dan rapi, karena setiap hari pelayan membersihkan kamarnya.
Sena langsung merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur begitu juga dengan Bintang.
"Kak, apa kamu di Paris sudah punya kekasih?" tanya Sena memandang Bintang yang tidur disampingnya.
"Belum!" jawab Bintang memandang langit-langit kamarnya.
"Kenapa tidak cari kekasih di sana saja? Disana Kan banyak cowok-cowok bule yang keren!" ucap Sena, sambil membayangkan wajah para pria bule yang sering dilihat saat dirinya sedang berlibur di Bali.
"Aku tidak suka pria bule!"
"Apa Kakak suka pria lokal?" tanya Sena dengan curiga.
"Iya!" jawab Bintang cepat.
"Siapa pria tampan yang telah membuatmu jatuh cinta?" tanya Sena, langsung bangun dan duduk memandang Bintang dengan serius.
__ADS_1
"Dia ada di desa kakek!" jawab Bintang dengan santai.
"Waw, siapa dia?" seru Sena, dengan begitu pemasaran.
"Itu rahasia," jawab Bintang dengan terkekeh geli, melihat raut wajah Sena yang nampak begitu penasaran dengan orang yang dicintainya.
"Ih, Kakak gitu!" ucap Sena dengan mencebikkan bibirnya.
"Abis kamu biasanya ember sama semuanya."
"Ya kan aku cuma membagi kebahagiaan dengan mereka," jawab Sena nyengir.
"Sudahlah, aku mau tidur dulu! Capek!" ucap Bintang menutup wajahnya dengan bantal.
"Ah, Kakak ini nggak asik banget!" ucap Sena kemudian ia turun dari tempat tidur, kemudian keluar dari kamar Bintang.
Setelah kepergian Sena Bintang menyingkirkan bantalnya kemudian ia memikirkan orang yang sangat ia cintai. Hingga akhirnya ia terlelap dalam tidurnya.
***
Hari ini Bintang dipanggil oleh Kenzo ke ruang kerjanya, entah apa yang ingin dibicarakan. Namun saat ini ia sudah ada di hadapan Kenzo. Sedangkan Tea duduk diam di sofa.
"Ayah ingin bicara apa?" tanya Bintang yang duduk dibalik meja kerja milik kenzo.
"Bintang, sekarang kamu sudah dewasa dan kamu juga telah menyelesaikan pendidikanmu. Ayah minta kamu mau fokus belajar mengelola perusahaan!" pinta Kenzo pada Bintang.
"Tapi Ayah, aku tidak ingin menjadi seorang pebisnis seperti Ayah!" tolak Bintang.
"Maaf, Ayah. Aku tidak bisa, tunggu saja sampai Rafa menyelesaikan pendidikannya!" jawab Bintang menundukkan kepalanya.
"Lalu apa yang ingin kamu lakukan jika tidak mau meneruskan bisnis Ayah? Apa kamu ingin menjadi desainer seperti Oma?"
"Tidak, Ayah!" jawab Bintang menggelengkan kepalanya.
"Lalu kamu mau apa?" tanya Kenzo mengerutkan keningnya.
"Aku hanya ingin tinggal bersama kakek di desa dan menjadi guru di sana!"
"Kenapa kamu tiba-tiba ingin menjadi seorang guru?"
"Apa kamu yakin ingin hidup di desa?" tanya Kenzo yang tidak mengerti dengan jalan pikiran putrinya itu.
"Iya Ayah, aku yakin!"
"Jika kamu hidup di desa, maka kamu tidak akan bisa menggunakan fasilitas yang Ayah berikan!"
"Tidak apa-apa, Ayah! Aku bisa mencari uang dengan cara mengajar seperti kakek!"
Kenzo menarik nafasnya, kemudian ia menghembuskan nafas dengan pelan.
"Apa kau yakin, sanggup hidup sederhana seperti kakek?" tanya Kenzo tidak yakin, karena selama ini Bintang selalu hidup mewah dan semuanya terpenuhi.
"Iya, Ayah. Aku yakin!" jawab Bintang dengan bersungguh-sungguh.
__ADS_1
"Baiklah, jika itu memang keputusanmu, Ayah tidak bisa melarangmu."
"Terima kasih Ayah, tapi bisakah aku berangkat besok?" tanya Bintang memandang Kenzo dengan penuh harap.
"Kenapa kamu ingin sekali cepat-cepat pergi dari rumah, Ayah? Apa ada seseorang yang kamu incar disana?" tanya Kenzo dengan curiga, karena tidak biasanya Bintang akan secepat itu pergi ke suatu tempat tanpa ada yang ia inginkan.
"Tidak ada Ayah," jawab Bintang menggelengkan kepalanya.
"Oke, besok Ayah dan Bunda yang akan mengantarmu."
"Tidak perlu Ayah," tolak Bintang.
"Kenapa kamu tidak ingin Ayah mengantarmu ke sana?"
"Aku bukan anak kecil lagi, Ayah!" Bintang mencoba mencari alasan agar Kenzo tidak mengetahui apa yang sebenarnya ingin ia lakukan di desa.
"Oke, sekarang kamu berkemas lah. Besok kamu akan diantar oleh supir ke tempat kakek."
"Terima kasih, Ayah!" ucap Bintang dengan begitu bahagia, karena Kenzo telah mengizinkannya tinggal di desa.
"Ya," jawab Kenzo tersenyum meski ia kecewa, karena Bintang tidak mau meneruskan bisnisnya.
"Kalau begitu Bintang akan bersiap dulu, Ayah," pamit Bintang berdiri dari duduknya.
Kenzo menganggukkan kepalanya, tanpa mengatakan apapun lagi. Dengan hati yang bahagia Bintang keluar dari ruang kerja Kenzo menuju kamarnya.
Tea yang dari tadi duduk di sofa mendengarkan pembicaraan mereka menghampiri Kenzo.
"Mas, apa kamu kecewa dengan keputusan Bintang?" tanya Tea, yang duduk di depan Kenzo.
"Jujur aku memang kecewa, tapi sebagai orang tua, aku akan menuruti apapun yang ia inginkan. Asalkan dia bahagia."
"Terima kasih, Mas. Selama ini kamu sudah menjadi ayah yang baik untuk anak-anak," ucap Tea menggenggam tangan Kenzo.
"Sudahlah, aku akan ke kantor meeting."
"Apa Mas tidak makan siang dulu?"
"Nanti saja di kantor aku sudah terlambat," jawab Kenzo sambil mengambil tas kerjanya.
"Baiklah, aku akan mengantarmu sampai ke depan!"
Tea dan Kenzo keluar dari ruang kerja menuju mobi.
Dalam kamar, Bintang mengemasi barang-barangnya yang akan ia bawa besok dengan hati yang begitu bahagia. Ia senang sebentar lagi akan melihat wajah Vano sang pujaan hati.
Kali ini Bintang hanya akan membawa barang-barang yang menurutnya sangat diperlukan saat ia ada disana. Maka dari itulah ia tidak terlalu lama mengemasi barang-barang.
Kini Bintang tengah berbaring membayangkan wajah Vano ketika mereka berdua masih kecil dulu.
___
Bersambung...
__ADS_1