Cinta Bintang

Cinta Bintang
Rencana Perjodohan


__ADS_3

"Bebek goreng ini aja, deh," jawab Vano.


"Oke."


 Bintang memanggil pelayan dan memesan apa yang dipilih Vano.


Tidak lama pesanan yang dipesan pun sudah tersaji dan siap disantap. 


"Ayo Kak, makanlah!" 


"Ya," jawab Vano mengangguk.


Mereka makan dengan diam tanpa ada pembicaraan apapun.


Selesai makan mereka berkeliling Mall dan mencoba berbagai permainan yang ada. Ide bintang untuk ke-Mall membuat Vano sedikit melupakan luka hatinya, meski ia belum bisa tertawa lepas seperti biasanya.


"Bi, kamu mau beli apa dari tadi masuk toko satu ke toko yang lainnya, tapi tidak ada yang dibeli?" heran Vano, dengan wajah yang sudah lelah mengikuti Bintang kesana-kemari.


"Aku tidak mau beli apa-apa! Aku kan hanya ingin mencoba saja," jawab Bintang dengan santai sambil tersenyum.


"Dasar, ngerjain penjual aja," ucap Vano, kemudian ia mengacak rambut Bintang.


"Bodo amat!" jawab Bintang, terkekeh.


Sebenarnya mereka berdua menjadi sorotan para pengunjung, namun mereka mengacuhkan hal itu. 


Bagaimana Vano dan Bintang tidak menjadi perhatian orang banyak, jika mereka seperti orang yang tengah berpacaran. Selain itu pakaian yang mereka gunakan juga terlihat berbeda dari pengunjung lainnya, karena mereka masih menggunakan seragam guru.


"Bi, kita pulang yuk! Ini sudah jam lima!" ajak Vano setelah melihat jam tangannya.


"Ya ampun! Sudah jam lima?" pekik Bintang.


"Iya." 


"Ayo Kak, kita pulang. Mereka di rumah pasti cemas menunggu!" 


"Ya, ayo!" 


Vano dan Bintang keluar dari Mall menuju parkiran motor. Sesampainya disana ia segera mengambil motornya dan menyuruh Bintang segera naik.


Dalam waktu empat puluh lima menit Vano sudah sampai di depan rumah Ahmad.


"Kak, apa tidak mampir dulu?" Bintang menawarkan Vano untuk mampir setelah ia turun dari motor.


"Lain kali saja, Bi! Ini sudah sore!" tolak Vano.


"Baiklah, hati-hati di jalan, jangan melamun!" pesan Bintang.


"Ya."


Setelah Vano tidak terlihat dari pandangannya, barulah Bintang masuk ke dalam.


Didalam rumah semua anggota keluarganya sudah berkumpul di ruang tamu. 


"Astaga ... Bintang, dari mana saja kamu? Kenapa jam segini baru pulang?" ucap Tea setelah ia membuka pintu.

__ADS_1


"Maaf, Bunda! Bintang pergi tidak pamit dulu!" ucap Bintang, menundukkan kepalanya.


"Nah, ini, nih, dari tadi kita cemas menunggunya, tapi dia malah asik jalan sama anaknya pak RT!" ucap Kenzo yang duduk di sofa sambil bersedekap dada.


"Maaf, Ayah!" ucap Bintang dengan nyengir memandang Kenzo.


"Sudah sana, Bi. Mandi dan istirahatlah!" perintah Ami.


"Baik, Nek!" jawab Bintang, tersenyum.


Bintang melangkah pergi meninggalkan mereka dengan hati yang bahagia. 


Dalam kamar, Bintang meletakkan tasnya di atas meja. Setelah itu ia masuk ke dalam kamar mandi. 


Hanya lima belas menit Bintang sudah selesai dengan mandinya dan sekarang ini ia tengah merebahkan tubuhnya dengan terlentang, menatap langit-langit kamarnya.


Bintang tidak pernah menyangka jika hari ini ia akan menghabiskan waktu bersama Vano.


Sekarang Bintang kembali bersemangat. Setelah ia tahu, jika Vano suda tidak lagi menjadi calon suami orang. Ia pun mulai berencana untuk kembali mendekati Vano lagi.


"Ya Tuhan, bukan aku senang atas kesedihan kak Vano, tapi aku mencintainya dan aku harap engkau menjodohkan aku dengannya, Aamiin," gumam Bintang dalam doanya.


Setelah berdoa demikian, Bintang kembali mengingat kebersamaan di Mall tadi dengan Vano. Ia tersenyum membayangkan itu semua.


***


Malam harinya Kenzo berangkat ke pos untuk ronda, menggantikan Ahmad yang tengah flu dan membuatnya tidak enak badan.


Sesampainya di pos, Kenzo melihat Harun tengah duduk melamun seorang diri sedangkan yang lainya asik bermain kartu.


"Malam, eh… Tuan Kenzo, tumben ikut ronda mana pak Ahmad?" tanya Harun memandang Kenzo.


"Beliau tidak enak badan, jadi malam ini saya yang menggantikannya," jelas Kenzo.


"Semoga, mertua Anda cepat sembuh, Tuan!" ucap Harun dengan sedikit tersenyum.


"Kitakan sama-sama didesa, jadi tidak usah lah panggil Tuan segala."


"Oke, sekarang saya akan memanggil Pak Kenzo saja." 


"Nah, itu jauh lebih baik," ucap Kenzo, tersenyum.


Mereka saling terdiam dan Kenzo kembali melihat  Harun melamun, seperti ada yang dipikirkan.


"Apa Pak Harun ada masalah?" 


"Hanya masalah kecil," jawab Harun tanpa melihat Kenzo.


"Jika tidak keberatan pak Harun bisa berbagi cerita dengan saya." 


Harun menghembuskan nafasnya kasar kemudian ia melihat ke arah orang-orang yang main kartu.


Kenzo mengerti dengan arah pandangan mata Harun.


"Bagaimana jika kita bicara sambil keliling?" usul Kenzo.

__ADS_1


"Boleh!" Harun langsung menyetujui ajakan Kenzo.


Setelah berpamitan dengan yang lain Kenzo dan Harun pergi meninggalkan pos. 


Mereka berjalan santai sambil melihat rumah warga. Berharap tidak ada Maling yang akhir-akhir ini meresahkan warga.


"Sekarang berceritalah, Pak." Kenzo mengawali pembicaraannya setelah mereka berjalan cukup jauh.


"Saya memikirkan nasib anak saya, pak!" 


"Memangnya ada apa dengan putra Bapak?" 


"Calon istrinya tiba-tiba saja membatalkan pernikahan dengan alasan sudah bosan dan dia mencintai pria lain! Padahal semuanya sudah siap, undangan juga sudah disebar. Saya tidak tahu lagi harus bagaimana, para warga pasti akan menghujat kami! Tidak hanya itu Vano juga terluka atas kejadian ini!" tutur Harun dengan sedih.


"Astaga, kenapa dia Setega itu!" 


"Entahlah, mungkin ini ujian dari Tuhan yang harus kami terima dengan lapang dada!" 


"Bagaimana jika anak saya dan anak bapak kita jodohkan saja, agar para warga tidak terlalu menghujat, Bapak!"


"Ini jaman modern Pak, tidak ada lagi jodoh-jodohan seperti itu!" ucap Harun, tersenyum tipis.


"Ya tidak papa dong, kita coba jodohkan anak kita siapa tau putriku bisa menghapus luka dihati putramu." 


"Tapi apa putrimu itu mau jika dijodohkan dengan anak saya?" 


"Meskipun Bintang tidak pernah mengatakan jika dia mencintai putramu, tapi saya bisa melihatnya dari caranya bersikap dan menatap putramu itu berbeda," ucap Kenzo berusaha mempengaruhi Harun.


"Kau benar, Pak. Siapa tau dengan kehadiran Bintang disisi Vano, membuatnya melupakan Havivah dan tidak patah hati lagi."


"Apa sekarang bapak setuju dengan ide saya?" 


"Ya, saya setuju. Namun, saya akan membicarakannya terlebih dulu dengan Vano." 


"Ya, bicarakanlah hal itu pada putramu!" ucap Kenzo dengan menepuk-nepuk pundak Harun.


Mereka terus saja berjalan sambil berbincang-bincang, namun mata Harun dan Kenzo tetap mengawasi rumah para warga. 


Tiba-tiba mata Kenzo menangkap seorang yang menggunakan topeng mencoba hendak menyelinap masuk ke dalam salah satu rumah warga.


"Pak lihat itu," bisik Kenzo sambil menunjuk orang yang menggunakan topeng tersebut.


"Siapa dia? Sepertinya dia mau maling di rumah itu!" bisik Harun setelah ia melihatnya.


"Ya, kita harus menangkapnya!" 


"Aku akan memukul kentongan ini supaya para warga segera datang."


"Jangan dulu, nanti dia kabur!" cegah Kenzo. 


___


Bersambung...


jangan lupa like, vote dan komen.

__ADS_1


__ADS_2