
"Nenek!" jawab Bintang turun dari tempat tidurnya.
Selagi Bintang mengambil pelembab Vano melepas baju dan celananya dan hanya memakai boxer saja.
Bintang kembali naik ke atas tempat tidur menyuruh Vano tengkurap. Dengan pelan Bintang memijat Vano.
"Pijatanmu enak, Bi," puji Vano.
"Terima kasih, tapi apa kakak suka dipijat?"
"Suka dan biasanya Ibu yang memijat ku sampai ketiduran," ucap Vano dengan terkekeh.
"Kalau Kakak ngantuk tidurlah," perintah Bintang.
"Ya!"
Setelah Bintang selesai memikat punggung Vano, ia pun beralih memijat kakinya.
"Kak, sekarang tidurlah di pangkuanku, aku akan memijat kepala Kakak," perintah Bintang, setelah ia selesai memijat kaki Vano.
"Oke," jawab Vano bangun dari tidurnya.
Kini kepala Vano berada di pangkuan Bintang. Menikmati pijatan sang istri yang begitu enak.
Bintang memijat kepala Vano dengan memandang wajah tampan sang suami yang sangat ia cintai.
"Bangunlah Kak, aku sudah selesai."
"Oke, sekarang gantian kamu yang akan aku pijat!" ucap Vano, bangun dari tidurnya.
"Baiklah!" jawab Bintang tersenyum kemudian ia berbaring tengkurap.
"Kenapa kamu tidak melepaskan dresmu?"
"Aku takut kalau nanti aku lepas dresku, Kakak kelabakan seperti tadi malam," goda Bintang dengan terkekeh.
"Kali ini aku tidak akan tergoda!" jawab Vano dengan yakin!"
"Apa Kakak yakin?" tanya Bintang memastikan karena ia ragu jika Vano tidak akan tergoda.
"Ya, aku yakin!"
"Baiklah," jawab Bintang, kembali bangun.
Bintang mulai membuka dressnya dan kini ia hanya menggunakan dalaman saja, setelah itu ia kembali berbaring dengan tengkurap.
Vano berkali-kali meneguk salivanya dengan susah payah, melihat tubuh Bintang yang putih dan mulus itu. Bahkan dengan cepat adik kecilnya itu terbangun.
"Kak kok belum dimulai?" tanya Bintang membalikkan badannya menatap Vano.
Melihat dada Bintang yang hanya tertutup dengan bra membuat yang di bawah sana semakin memberontak seakan-akan ingin keluar dari sarangnya.
"Bi, tengkurap saja lagi, jangan menghadap ke arahku!" perintah Vano.
__ADS_1
"Memangnya kenapa, Kak?" tanya Bintang dengan menahan tawanya. Ia kini sudah tau jika Vano bertingkah seperti itu pasti ia menginginkan hal itu.
"Jangan banyak tanya! Kamu mau aku pijat tidak?"
"Baiklah, aku akan diam dan cepatlah pijat aku, karena aku sangat capek!" ucap Bintang masih dengan menahan tawanya.
Vano mulai memijit punggung Bintang dengan pelan sambil menahan keinginannya.
'Aduh, kenapa hanya melihat Bintang menggunakan bra saja Adik kecilku ini sudah bangun dan bereaksi? Kalau seperti ini terus aku benar-benar tidak akan kuat menahannya,' batin Vano.
"Kak aku mau dipijit kepalaku saja, soalnya kepalaku sedikit pusing," ucap Bintang, kembali membalikkan badannya dan bangun dari tidurnya.
"Gunakanlah pakaianmu, nanti aku akan memijatmu setelah aku mandi."
Vano melompat turun dari tempat tidur hendak pergi ke kamar mandi, namun dengan cepat Bintang memegang tangannya.
"Jika Kakak menginginkannya, kenapa tidak kau lakukan, seperti tadi malam? Kenapa harus bermain solo, jika ada aku disini? Apa Kakak tidak ingin membantuku mencari pahala?"
Mendengar perkataan Bintang, hati Vano seperti di gores. Memang apa yang dilakukan olehnya itu tidaklah benar dan ia sadar betul akan hal itu. Bintang adalah istrinya yang berhak mendapatkan nafkah lahir batin darinya. Sebagai seorang suami ia juga harus bisa membantu istrinya dalam mencari pahala juga keridhoan ilahi.
Vano kembali duduk dan segera memeluk Bintang dengan erat.
"Maafkan aku, Bi, aku seharusnya tidak melakukan ini padamu. Aku memang salah."
"Tidak apa-apa Kak, jangan merasa bersalah, sekarang mandilah dan tidurkan adik kecilmu itu. Nanti kita gantian, aku juga mau mandi, ini sudah sore," ucap Bintang mengusap-usap punggung Vano dengan lembut.
'Kamu memang wanita yang baik, Bi, tidak pantas untuk disakiti! Mulai sekarang aku akan memberikan apa yang seharusnya menjadi hakmu seperti tadi malam. Aku yakin suatu hari nanti aku pasti bisa mencintaimu, karena sekarang saja aku sudah mulai suka deg-degan saat berada di dalam pelukanmu,' batin Vano.
"Apa sekarang kamu mau mandi denganku?" tanya Vano sambil melepaskan pelukannya.
"Ya sudah, aku mandi duluan."
"Ya," jawab Bintang, tersenyum.
Vano kembali berdiri dan melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamar mandi.
Bintang mengambil dressnya dan menggunakannya kembali, setelah itu ia menyiapkan piyama Vano diatas tempat tidur.
Sambil menunggu Vano selesai mandi, Bintang menghubungi Ahmad dan Ami untuk menanyakan kabar mereka.
Kini Vano sudah keluar dari kamar mandi dan menghampiri Bintang yang tertidur sambil duduk, karena kelamaan menunggunya.
"Bi, bangun dan cepatlah mandi!" Vano membangunkan Bintang dengan pelan.
Bintang membuka matanya dengan pelan dan melihat Vano ada hadapannya.
"Apa Kakak sudah selesai?"
"Sudah, Bi! Sekarang kamu mandilah, nanti keburu kemalaman!" perintah Vano.
Bintang tersenyum menganggukkan kepalanya, mengambil piyamanya kemudian ia masuk ke dalam kamar mandi.
Selagi Bintang mandi Vano menggunakan pakaiannya dan merapikan diri. Setelah itu ia duduk di sofa sambil memainkan ponselnya.
__ADS_1
Bintang keluar dari kamar mandi dan duduk di depan meja rias sambil menyisir rambutnya.
"Bi, kamu mau makan malam diluar apa disini saja?" tanya Vano yang sudah ada di belakang Bintang.
"Apa Kakak mau jalan jalan sebentar di sekitar hotel menikmati suasana malam bersamaku, sambil makan malam?" tanya Bintang penuh harap.
"Tentu saja aku mau!" jawab Vano membelai lembut kepala Bintang.
"Terima kasih, Kak." Bintang tersenyum mendongakkan kepalanya menatap wajah tampan Vano.
"Sama-sama, Bi. Sekarang apa kepalamu masih sakit?"
"Sudah tidak lagi Kak," jawab Bintang berdiri dari duduknya menghadap Vano.
"Baiklah, sekarang bersiaplah kita akan berangkat."
"Aku pakai ini saja!" jawab Vano tersenyum.
"Kau yakin akan memakai piyama?" tanya Vano dengan membalas senyuman Bintang.
"Iya Kak, aku yakin, karena Kitakan cuma jalan disekitar hotel!"
"Baiklah, tapi kamu harus memakai jaket supaya tidak kedinginan!"
"Tapi akukan tidak ada jaket?"
"Kamu bisa memakai punyaku!"
"Oke, aku akan memakai punya Kakak!"
"Sebentar aku ambilkan dulu."
Vano melangkah menuju lemari dan mengambil jaket miliknya. Bintang tersenyum senang saat Vano memakaikannya.
Setelah Vano memakaikan jaketnya, Bintang memeluk lengan suaminya, kemudian mereka berdua keluar dari kamar hotel.
Sekarang Vano dan Bintang berjalan menyusuri jalan di sekitar hotel sambil menikmati suasana malam yang terlihat begitu ramai, karena kebetulan ini merupakan hari Minggu dan para anak muda pasti akan jalan-jalan membawa pasangannya masing-masing.
"Bi, coba lihat itu ada penjual sate, apa kamu mau makan sate?" tanya Vano memandang Bintang.
"Aku mau tapi disini banyak yang jual sate babi!"
"Kita lihat saja dulu, itu sate babi atau bukan!"
"Baiklah, ayo kita ke sana!" ajak Bintang.
Keduanya kini menghampiri penjual sate yang ada di pinggir jalan. Vano tersenyum senang, karena yang dijual adalah sate ayam dan kambing.
"Bi, mereka menjual sate ayam dan sate kambing! Sekarang kamu mau makan sate apa?" tanya Vano pada Bintang setelah ia bertanya pada penjualnya.
___
Bersambung...
__ADS_1