
"Kalau aku pakai celana Kakak nanti melorot dan jatuh ke bawah," ucap Bintang dengan mengerucutkan bibirnya.
"Ah, iya ukuran celana Kitakan tidak sama."
"Terus gimana?"
"Ya sudah, pakai saja lingerie itu!"
"Tapi aku risih memakainya, karena ini sama saja tidak memakai baju," lirih Bintang.
"Satu malam saja tidak apa-apa."
"Baiklah, sekarang kakak mandilah dulu. Aku akan menyusun pakaian ini dalam lemari."
"Ya."
Vano melangkah masuk ke dalam kamar mandi membersihkan badannya. Sedangkan Bintang menyusun pakaian di dalam lemari dan meletakan barang lainnya pada tempatnya.
Setelah itu barulah Bintang menyiapkan baju ganti untuk sang suami. Selesai dengan itu semua ia duduk bersandar di tempat tidur menunggu Vano yang masih mandi.
Vano keluar dari kamar mandi dengan wajah yang terlihat segar, kemudian ia menggunakan pakaian yang disiapkan oleh Bintang diatas tempat tidur dan memakainya satu persatu.
Kini Bintang sudah terbiasa dengan kebiasaan Vano saat mengenakan pakaiannya di hadapannya.
"Bi, mandilah," perintah Vano setelah ia memakai pakaiannya.
"Nanti saja," jawab Bintang masih dengan memainkan ponselnya.
"Kalau mandi jangan terlalu larut malam, nanti kamu kedinginan dan sakit!" ucap Vano memperingatkan.
"Iya!" jawab Bintang singkat, kemudian ia menaruh ponselnya di atas nakas.
Bintang membuka lemari mengambil pakaian dalamnya dan lingerie, setelah itu barulah ia masuk ke dalam kamar mandi.
Dalam kamar mandi, Bintang membersihkan badannya dengan cepat, kemudian ia mengenakan lingerie dan bercermin.
"Ya Tuhan … aku seperti wanita malam saat berpenampilan seperti ini," gumam Bintang.
Lama sekali Bintang bercermin dan ragu untuk keluar dari kamar mandi dengan penampilan yang membuatnya geli sendiri.
Bintang dengan pelan membuka pintu dan hanya mengeluarkan kepalanya saja, ia melihat Vano yang duduk di tempat tidur dengan memainkan ponselnya.
'Aduh, kenapa Kak Vano tidak tidur saja sih?' keluh Bintang dalam hati.
Bintang kembali menutup pintu kamar mandi dan duduk di atas kloset.
Sudah satu jam lebih Vano menunggu Bintang tapi istrinya itu tidak juga keluar dari kamar mandi.
"Tumben sekali dia mandi berjam-jam gini jangan-jangan dia tidak mandi dan ketiduran di bak mandi?" gumam Vano.
Vano turun dari tempat tidur melangkah menuju kamar mandi kemudian mengetuk pintunya.
__ADS_1
Tok, tok, tok.
"Bi, apa kamu baik-baik saja?" teriak Vano.
"Iya Kak, aku baik-baik saja!" jawab Bintang dari dalam.
"Kenapa mandinya lama? Cepatlah keluar, jangan lama-lama berendam, nanti masuk angin!"
"Iya Kak, sebentar lagi aku keluar!"
Lima menit kemudian, Bintang sedikit membuka pintu kamar mandi dan kembali mengeluarkan kepalanya. Namun ia terkejut saat melihat Vano malah berdiri di depan pintu.
"Kenapa tidak keluar?" tanya Vano dengan bersedekap dada.
"Ih, ngagetin aja! Aku itu bukannya tidak mau keluar, tapi aku malu!" lirih Bintang dengan mengerucutkan bibirnya.
"Kenapa harus malu?"
"Apa Kakak lupa kalau aku hanya punya pakaian yang menjijikkan itu saja?"
"Ah, iya, aku lupa!" ucap Vano dengan nyengir.
"Bagaimana ini? Aku malu!"
"Cepatlah keluar dan tidak perlu malu!"
"Baiklah."
Dengan susah payah Vano, meneguk salivanya. Melihat Bintang menggunakan lingerie seksi dan transparan. Ia melangkah menuju tempat tidur, kemudian ia duduk bersandar tanpa mengalihkan pandangannya ke arah Bintang. Sedangkan yang di bawah sana sudah terbangun dan memberontak ingin keluar dari tempatnya.
'Duh, tahan Van, tapi bagaimana ini dia sudah terlanjur bangun, aku tidak kuat jika terus begini! Aku harus mandi agar dia tertidur lagi!' batin Vano.
Vano melompat dari tempat tidur dan dengan cepat ia berlari ke dalam kamar mandi.
Bintang yang melihat Vano dari pantulan cermin merasa aneh dengan tingkah sang suaminya itu. Namun ia tak ambil pusing, setelah memakai krim malam dan menyisir rambutnya ia bergegas merebahkan tubuhnya di tempat tidur dan menggunakan selimutnya.
Sekitar satu jam lebih Vano berada di dalam kamar mandi dan akhirnya ia keluar kamar.
"Kenapa Kakak ini suka sekali mandi?" tanya Bintang, yang hanya terlihat kepalanya saja.
"Cuacanya panas, jadi aku mandi lagi!" jawab Vano beralasan.
"Mana ada panas, kamar inikan ada AC-nya dan di luar juga lagi hujan deras dari tadi?"
Sudah jangan banyak bicara, sekarang tidurlah," perintah Vano sambil mengenakan pakaiannya.
Setelah menggunakan pakaian Vano merebahkan tubuhnya dengan posisi membelakangi Bintang.
"Kak!" panggil Bintang.
"Hemmm."
__ADS_1
"Apa malam ini tidak ingin memelukku?"
"Besok saja, sekarang tidurlah memeluk guling!" perintah Vano, masih membelakangi Bintang.
Bintang kecewa dengan perkataan Vano, kemudian ia memiringkan tubuhnya membelakangi suaminya itu dan menyelimuti seluruh tubuhnya.
Diam-diam Bintang meneteskan air matanya.
'Aku tidak boleh cengeng seperti ini, aku harus kuat. Aku yakin dia pasti bisa mencintaiku,' batin Bintang, kemudian ia menghapus air matanya. Meski ia menghapus air matanya tetap terjatuh.
Sejujurnya Vano tidak ingin menolak keinginan Bintang, namun ia takut akan terjadi apa-apa nanti. Apalagi saat ini ia masih saja merasakan dibawah sana menegang meski ia sudah mandi dan berendam.
'Maaf Bi, bukan aku menolak untuk memelukmu, tapi aku takut kebablasan,' batin Vano.
Cukup lama mereka terdiam dengan pikiran masing-masing. Vano membalikan badannya menghadap Bintang.
Sayup-sayup Vano mendengar isakan Bintang dan ia pun berfikir jika istrinya itu tengah menangis.
Dengan perlahan Vano membuka selimut yang menutupi tubuh Bintang dan benar saja apa yang dipikirkannya.
"Jangan menangis." Vano menghapus air mata Bintang, kemudian ia mendekapnya.
"Aku tidak ingin menangis, tapi air mata ini tidak ingin berhenti," lirih Bintang.
"Sudah, maafkan aku, sekarang tidurlah aku akan memelukmu," bisik Vano.
Bintang tidak menjawab dan langsung menelusupkan wajahnya di dada bidang Vano.
Kini tidak hanya di bawah sana saja yang berdenyut, tapi kepala Vano juga ikut berdenyut sakit menahan keinginannya yang tidak tersalurkan.
"Kak apa yang mengganjal keras ini?" tanya Bintang dengan polosnya, saat adik kecil Vano bersentuhan dengan pahanya.
"Diamlah, jangan bergerak, kepalaku sudah sakit menahan semua ini!" ucap Vano dengan suara yang serak.
"Maksud kakak apa?" Bintang benar-benar tidak mengerti dengan apa yang dimaksud oleh Vano.
Vano terdiam dan semakin lama ia tidak bisa menahan lagi keinginannya untuk tidak menyentuh Bintang.
"Maaf Bi, aku tidak bisa menahannya lagi, ini sangat sakit dan menyiksaku, semakin aku menahannya semakin memberontak."
Bintang melepaskan pelukannya dan menatap Vano.
"Kakak kenapa? Aku benar-benar tidak mengerti apa yang Kakak katakan? Apa kakak sakit?" tanya Bintang dengan cemas.
"Aku tidak bisa mengendalikan adik kecilku lagi Bi, maaf aku harus melakukannya padamu!"
"Perasaan kita cuma berdua dan tidak ada anak kecil disini?" ucap Bintang dengan memegang kedua pipi Vano.
___
Bersambung…
__ADS_1