
"Sabar Kak, ini sudah mau jadi!" jawab Bintang tersenyum menoleh ke arah Vano.
"Aku sudah lapar."
"Iya, tinggal taruh di piring, nih!"
Dengan cepat Bintang menyusun daging steak di atas piring beserta yang lain. Setelah itu ia menghampiri Vano.
"Ini, Kak, makanlah!" perintah Bintang dengan tersenyum.
"Waw … ini pasti enak!" seru Vano dengan mata yang berbinar dan ingin segera memakannya.
Dengan cepat Vano mengambil pisau dan garpu untuk memakan steak buatan Bintang.
Vano mulai memakan dengan lahap membuat Bintang menjadi penasaran dengan rasa steak yang ia buat.
"Apa itu enak?" tanya Bintang sambil duduk di samping Vano
"Enak banget, Bi. Apa kamu mau?"
"Mau!" jawab Bintang menganggukkan kepalanya.
Vano tersenyum dan segera menyuapi Bintang.
Bintang yang merasakan steak Buatanya sendiri langsung berlari ke wastafel dan memuntahkannya. Bagaimana ia tidak memuntahkannya jika masakanya itu terasa aneh dan tidak bisa dimakan oleh orang.
"Bi, kamu kenapa?" tanya Vano menghentikan makanya.
"Itu makananya tidak enak dan Kakak membohongiku!"
"Aku tidak bohong, steak buatanmu memang enak," ucap Vano dengan bersungguh-sungguh.
"Pokoknya, Kakak tidak boleh makan itu lagi! Nanti perutnya bisa sakit!"
Salma dan Harun yang dari tadi melihat mereka, akhirnya menghampirinya, untuk melerai perdebatan mereka.
"Kalian kenapa bertengkar?" tanya Salma.
"Kami tidak bertengkar, Bu!" jawab vanoy dan Bintang secara bersamaan.
"Lalu kenapa kalian berdebat?" tanya Harun dengan memandang keduanya bergantian.
"Itu karena Kak Vano tidak mau menyudahi makanannya, aku tidak mau dia sakit perut," jawab Bintang dengan mencebikkan bibirnya.
"Tapi itu rasanya enak dan aku sangat menginginkannya!" kata Vano.
"Ya sudah kamu makan dan habiskan saja masakan istrimu!" perintah Harun.
"Iya Ayah, aku memang mau memakannya lagi," jawab Vano dengan tersenyum.
"Ayah … kenapa malah disuruh menghabiskan? Nanti kalau Kak Vano sakit perut bagaimana?" tanya Bintang dengan cemas.
"Kamu tenang saja dia kebal makanan seperti itu!" jawab Harun dengan entengnya.
"Bi, kamu jangan khawatir, Vano seperti ini mungkin dia lagi ngidam!" bisik Salma.
"Oh, iya, aku lupa!" ucap Bintang tersenyum menepuk jidatnya, setelah ia mendengar bisikan dari Salma.
"Sudah deh kalian tidak usah ribet, aku akan makan!" ucap Vano yang kembali ke tempat duduknya.
"Kakak, mau aku suapin tidak?" Bintang mencoba untuk menawari Vano agar mau disuapi.
__ADS_1
"Boleh!"
Oke!"
"Ayah dan Ibu akan bersantai duluan jangan bertengkar!" pesan Harun.
"Iya, Ayah!" jawab Bintang, sedangkan Vano hanya diam saja.
Setelah Salma dan Harun meninggalkan ruang makan, Bintang segera menyuapi Vano.
Usai makan mereka berdua kembali ke kamar dan menghabiskan waktu bersama dalam kamar saling bercanda gurau. Membuat Bintang bahagia.
***
Sepuluh mengajar Bintang langsung membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur dengan, tanpa mengganti pakaian terlebih dahulu.
"Bi, kamu kenapa?" tanya Vano sambil melepas sepatunya.
"Aku nggak tau kak tiba-tiba saja badanku terasa lemas," jawab Bintang dengan memeluk guling.
"Apa kamu tidak enak badan?" tanya Vano menghampiri Bintang.
"Aku tidak tau! Tubuhku rasanya lemas dan tidak kuat lagi untuk berjalan!"
"Ya sudah, kamu istirahatlah, atau kamu mau ganti baju dulu?" tanya Vano.
"Nanti saja Kak!"
"Oke!"
Vano melangkah mengambil pakaiannya dan segera mengganti pakannya. Setelah itu ia menaruh pakan motornya di tempat yang sudah tersedia.
"Tidak, Kak, aku gak enak makan!" tolak Bintang.
"Tidurlah, aku akan peluk!"
"Ya," jawab Bintang, mengangguk.
Vano merebahkan tubuhnya kemudian ia memeluk Bintang.
Bintang memejamkan matanya dan tak lama kemudian ia tertidur pulas.
Pukul tiga sore Bintang baru terbangun dari tidurnya dan ia merasakan tubuhnya lebih kuat daripada tadi. Ia melihat Vano habis mandi dan sudah rapi seperti hendak pergi.
"Kakak mau kemana?"
"Aku mau ke tempat Ilyas!"
"Siapa Ilyas itu?" tanya Bintang yang tidak tau siapa Ilyas itu.
"Teman SD aku."
"Dimana rumahnya?"
"Di Dekat persawahan!"
"Ya sudah pergilah, tapi pulangnya jangan magrib-magrib," pesan Bintang sambil bangun dari tidurnya.
"Ya, aku sebentar saja kok!" jawab Viona tersenyum.
Vano mendekati Bintang, kemudian ia mengecup kening sang istri dengan lembut. Setelah itu ia keluar kamar meninggalkan bintang yang masih memegangi keningnya.
__ADS_1
"Ah, kak Vano, memang selalu bisa membuatku klepek-klepek," gumam Bintang dengan tersenyum.
Setelah lama terdiam Bintang segera turun dari tempat tidur, dan bergegas berganti pakan. Setelah itu ia akan mempersiapkan kado untuk Vano, karena besok usia pernikahannya genap dua bulan dan ia akan mengatakan jika dirinya saat ini tengah hamil.
Sai berganti pakaian, Bintang mengambil tespek miliknya dan membungkusnya tak lupa ia menulis surat untuk Vano kemudian ia letakan di dalam kotak kado tersebut.
"Aku harap, Kak Vano bahagia jika mengetahui aku hamil anaknya," harap Bintang, kemudian ia membayangkan bagaimana reaksi Vano yang bahagia mengetahui kehamilanya.
Cklek
Lamunan Bintang buyar ketika Salma membuka pintu kamarnya dan menghampirinya.
"Huh … Ibu ini mengejutkan aku aja," ucap Bintang tersenyum memandang Salma.
"Memangnya kamu buat apa sih sampa serius banget?" tanya Salma, duduk di samping Bintang sambil memangku nampan yang berisi sepiring makan siang lengkap dengan susu ibu hamil dan air putih.
"Aku lagi mau buat kejutan untuk Kak Vano besok, Bu!" jawab Bintang dengan sangat bahagia.
"Itu apa isinya?" tanya Salma dengan memicingkan matanya.
"Tespek yang kemarin, Bu."
"Jadi kamu belum memberitahu Vano soal kehamilan mu itu?" tanya Salma memastikan.
"Belum dan aku berencana besok untuk memberi tahu kak Vano tentang kehamilanku."
"Baiklah, kalau begitu kamu makan dulu biar cucuku ini sehat," ucap Salma mengusap lembut perut Bintang.
"Seharusnya Ibu tidak perlu repot-repot membawakan aku makanan seperti ini!"
"Jangan merasa sungkan sekarang ayo makanlah dulu!" perintah Salma.
"Baik, Bu. Aku simpan dulu kadonya nanti ketahuan Kak Vano malah tidak jadi kejutan!"
"Ya."
Bintang mengambil kadonya dan menyimpannya di laci, setelah itu barulah ia makan dan meminum susunya.
Setelah selesai makan Salma dan Bintang berbincang-bincang ringan sambil membicarakan rencana kejutan untuk kak Vano.
Disela-sela perbincangan mereka tiba-tiba saja Bintang menginginkan mangga muda.
"Ibu, aku pengen mangga muda dibuat rujak, kayaknya enak deh, Bu!" ucap Bintang dengan nyengir.
"Tapi jam segini siapa yang jual buah?"
"Aku mau minta tempat Bu Lia aja, nanti biar Kak Vano yang memanjat!"
"Tapi Vano kan tidak ada di rumah?"
"Aku akan menyusul Kak Vano di rumah Ilyas."
Yasudah susul saja dia, tapi kamu harus berhati-hati," pesan Salma.
"Iya, Ibu, aku pasti akan hati-hati dan menjaga cucu Ibu ini dengan baik," jawab Bintang tersenyum mengusap-usap perutnya.
___
Bersambung…
__ADS_1