
"Biarpun suamiku ini orang tidak punya, tapi aku tetap cinta! Tidak masalah jika harus naik pesawat kelas ekonomi ataupun naik bajaj, yang terpenting aku bisa terus bersamamu!" jawab Bintang tersenyum, kemudian ia memeluk Vano.
"Terima kasih sudah mengerti keadaanku, aku akan coba menjadi suami yang baik untukmu. Sekarang tidurlah," ucap Vano, membelai lembut kepala Bintang.
"Ya," jawab Bintang tersenyum.
Bintang memejamkan matanya dalam pelukan Vano yang begitu hangat.
Entah sejak kapan ini terjadi, tapi yang jelas Vano mulai merasakan jantungnya berdebar setiap kali Bintang memeluknya. Namun Vano masih belum sadar akan perasaannya pada Bintang.
Vano juga mulai memejamkan matanya tertidur pulas hingga akhirnya pesawat pun sudah mendarat sempurna di bandara internasional Bali.
Dengan perlahan Vano terbangun dari tidurnya, ketika para penumpang sudah mulai turun dari pesawat.
"Bi, bangun kita sudah sampai." Vano membangunkan Bintang sambil mengusap-usap pipi Bintang dengan lembut.
Bintang membuka matanya, "Apa kita sudah sampai?"
"Ya, kita sudah sampai! Ayo kita turun!" ajak Vano.
"Iya Kak!" Bintang melepaskan pelukannya, kemudian berdiri dari duduknya dan merapikan pakaiannya.
Sesampainya di luar bandara mereka sudah ada yang menjemput dan tentu itu atas perintah Ratih.
Satu jam kemudian Vano dan Bintang sudah sampai di hotel yang sebelumnya sudah disiapkan.
Sesampainya di dalam kamar hotel, Bintang langsung merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. Sedangkan Vano meletakkan kopernya di samping lemari, setelah itu barulah ia menghampiri Bintang.
"Capek ya?" tanya Vano, tersenyum.
"Sedikit!" jawab Bintang membalas senyuman Vano.
"Istirahatlah!"
"Ya, tapi boleh tidak nanti sore aku berkeliling menggunakan delman?"
"Boleh, tapi kamu tidak boleh sendirian?"
"Aku lebih senang jika yang menemaniku itu adalah Kakak," ucap Bintang, kemudian ia memeluk Vano.
"Tentu saja aku yang akan menemanimu berkeliling!"
"Ya sudah kita tidur dulu sebentar," ajak Bintang.
"Apa kamu tidak lapar?"
"Apa Kakak lapar?"
Bukan menjawab Bintang sustru bertanya balik pada Vano.
"Iya."
"Baiklah, kita akan cari makan dulu." Bintang bangun dari tidurnya.
"Ayo." Vano juga beranjak dari duduknya.
__ADS_1
Mereka berdua keluar dari hotel mencari makanan di restoran yang dekat dengan hotel.
Kakak, mau makan apa?" tanya Bintang dengan memandang Vano.
"Aku mau coba makanan khas Bali saja."
"Oke."
Bintang memanggil pelayan dan memesan apa yang diinginkan oleh Vano.
Setelah memesan makanan Bintang dan Vano berbincang-bincang dan bercanda sambil menunggu makanan disajikan.
Beberapa menit kemudian, makan yang mereka pesan sudah disajikan.
"Ayo kita makan, aku sudah sangat lapar," ajak Vano sambil mengambil sendoknya.
"Iya Kak, aku juga sudah lapar!" jawab Bintang tersenyum.
Kini keduanya makan dengan diam menikmati makanan khas Bali.
Usai makan Vano dan Bintang kembali ke kamar hotel.
Sesampainya di kamar hotel mereka berdua istirahat sebentar untuk melepas lelah setelah melakukan perjalanan jauh.
Bintang bukanya tidur tapi malah mengajak Vano bercanda, hingga Sore tiba.
"Kak ayo kita jalan-jalan," ajak Bintang bangun dari tidurnya.
"Memangnya kamu tidak mandi dulu?" tanya Vano, bangun dari tidurnya.
"Ya sudah ayo kita berangkat," ajak Vano mengandeng tangan Bintang.
Mereka berdua meninggalkan kamar hotel dan mencari delman untuk membawanya berkeliling.
Kini Vano dan Bintang sudah naik delman dan berkeliling di sekitar menikmati suasana sore hari.
"Pantas saja Sena sering liburan ke Bali, orang disini banyak turis asing," gumam Bintang, melihat para turis asing yang berlalu-lalang, entah itu sendirian maupun dengan pasangannya.
"Jaga matamu!" tegur Vano dengan nada cemburu.
Bintang tersenyum memandang Vano, kemudian ia memeluknya.
"Jangan cemburu, aku tidak tertarik pada mereka, Kakak harus ingat aku hanya tertarik pada satu pria dan itu hanya kau!" ucap Bintang, kemudian ia menyembunyikan wajahnya di dada bidang Vano.
"Aku tau itu!" jawab Vano tersenyum membelai lembut kepala Bintang.
Bintang turun dari delman dikuti oleh Vano dan masuk ke dalam kedai es krim, karena Bintang menginginkan es krim sebelum kembali ke hotel setelah berkeliling cukup jauh.
"Apa Kakak mau es krim?"
"Tidak, kamu saja yang makan," tolak Vano.
"Baiklah!"
Bintang memakan es krim kesukaannya dengan lahap. Selama tinggal dengan Ami dan Ahmad, memang Bintang jarang membeli es krim.
__ADS_1
"Pelan-pelan makanya nanti tersedak!" ucap Vano memperingatkannya sambil mengusap sudut bibir Bintang yang ada es krimnya.
"Iya Kak," jawab Bintang, tersenyum.
Hati Bintang begitu bahagia mendapatkan perhatian dari Vano apalagi tadi saat ia melihat turis asing dan Vano mulai sedikit cemburu. Kini ia semakin yakin jika suatu hari nanti Vano pasti bisa mencintainya.
Habis sudah es krim yang dimakan oleh Bintang dan sekarang mereka berdua naik delman lagi untuk kembali ke hotel, karena ini sudah mulai gelap.
Sesampainya di lobby hotel, Vano dan Bintang berjalan menuju kamarnya.
Dalam kamar Bintang mengambil kopernya untuk membongkar barang bawaannya. Namun setelah ia membuka kopernya ia tidak menemukan pakaian miliknya yang sudah dimasukkan dalam koper tersebut.
"Kak, apa tadi koper kita tertukar di pesawat dengan penumpang lain?" tanya Bintang, memandang Vano yang tengah duduk di sofa.
"Tidak? Memangnya kenapa?" Vano mengernyitkan keningnya memandang Bintang.
"Dimana bajuku? Kenapa pakaian yang aku masukkan di koper tidak ada?"
"Masa sih?" Vano berdiri dari duduknya menghampiri Bintang.
"Lihatlah!" perintah Bintang setelah Vano ada di sampingnya.
"Ini dress kamukan?"
"Iya, tapi cuma satu sama beberapa lingerie. Aneh sekali! Aku Kan tidak membawa lingerie, kenapa ada benda menjijikkan ini disini?"
"Jangan-jangan waktu kita sarapan tadi pagi, koper kita di bongkar sama mereka?" tebak Vano setelah ia berpikir sekian detik.
"Bisa jadi begitu," jawab Bintang dengan lemas.
"Sudah tidak papa, besok kita akan berbelanja membeli pakaian," ucap Vano mengengacak rambut Bintang.
"Tapi sekarang aku pake baju apa?" tanya Bintang dengan sedihnya.
"Diluar sudah petang dan hujan sangat deras jadi kita tidak mungkin membeli baju sekarang!"
"Masak aku pake lingerie?" Bintang memandang Vano dengan wajah memelas.
'Ah, kemarin saja dia hanya memakai handuk, adik kecilku sudah bangun. Bagaimana jadinya kalau sampai Bintang memakai lingerie transparan seperti ini? Bisa-bisa adik kecilku ini memberontak minta dipuaskan! Ya Tuhan … aku harus melakukan apa jika itu terjadi?' batin Vano dengan memandang lingerie yang ada di koper.
"Kak, kenapa diam?" tanya Bintang yang melihat Vano hanya terdiam.
"Oh tidak, kamu pakai dress ini saja!" perintah Vano menunjuk dress satu-satunya yang ada di koper tersebut.
"Kalau ini kupakai sekarang, besok aku pakai baju apa?"
"Kalau gitu malam ini kamu pakai kemeja dan celanaku saja."
"Aku tidak membawakan kemeja untuk Kakak dan aku juga tidak mungkin pakai celana milikmu!"
"Kenapa?" tanya Vano mengerutkan keningnya.
___
Bersambung...
__ADS_1