Cinta Bintang

Cinta Bintang
Keberangkatan Bintang Ke Desa


__ADS_3

"Aku tidak sabar untuk bertemu dengannya, semoga saja besok aku bisa melihatnya," gumam Bintang tersenyum sendiri sambil menghayal pertemuannya dengan Vano.


Tok, tok, tok.


Seketika itu hanyalah Bintang buyar ketika mendengar pintu kamarnya diketuk dari luar.


"Masuk!" perintah Bintang bangun dari tidurnya, kemudian ia menyandarkan tubuhnya di tempat tidur.


Cklek


Pintu terbuka dan muncullah Sena bersama dengan Rafa melangkah menghampirinya.


"Ada apa?" tanya Bintang setela kedua adiknya itu ada di dekatnya.


"Apa benar Kakak mau tinggal di desa?" tanya Sena sambil naik ke atas tempat tidur.


"Iya, memangnya kenapa?" tanya Bintang memandang Rafa dan Sena bergantian.


"Kakak disini aja kenapa, sih?" ucap Sena dengan bergelayut manja dengan Bintang.


"Iya, Kak Sena benar. Kakak disini saja sama kita," kata Rafa menimpali perkataan Sena.


"Ngapain aku harus disini aja?" tanya Bintang memandang Rafa.


"Karena kami masih merindukan Kak Bintang," lirih Sena.


"Jangan manja, belajar yang benar, Sena. Sebentar lagi kamu masuk SMA dan kamu juga Rafa, harus giat belajar karena kamu anak laki-laki Ayah satu-satunya yang harus meneruskan bisnis keluarga kita," ucap Bintang menasehati kedua adiknya.


"Iya, aku mengerti itu Kak, tapi aku ini masih kecil aku tidak mau bekerja sebelum selesai kuliah," ucap Rafa yang berbaring di samping Bintang. 


"Siapa yang menyuruhmu bekerja? Aku kan cuma menyuruhmu belajar yang giat," ucap Bintang tersenyum mengacak rambut Rafa.


"Tau ah, dia itu emang suka nggak nyambung, Kak!" ucap Sena menatap Rafa kemudian ia memutar bola matanya malas.


"Huh, Kakak ini nggak asik! Mending aku main kerumah Hafif!" Rafa bangun dari tidurnya dan keluar dari kamar Bintang.


Sena dan Bintang tertawa melihat Rafa keluar dari kamar.


***


Sesuai dengan yang direncanakan kemarin, jika hari ini Bintang akan berangkat ke rumah kakek Ahmad.


Cklek 


Tea membuka pintu kamar Bintang kemudian ia masuk dan menghampiri putrinya yang tengah memakai make-up di depan meja rias.


"Bintang, apa kamu belum siap?" tanya Tea yang berdiri di samping Bintang.


"Sudah, Bunda!" jawab Bintang tersenyum memandang Tea.


"Ya sudah, ayo keluar semuanya sudah menunggumu," ajak Tea.


"Iya, Bun," jawab Bintang berdiri dari duduknya dan membawa kopernya.

__ADS_1


Bintang keluar dari kamarnya bersama dengan Tea. Sesampainya di ruang tamu ia melihat semua anggota keluarga telah berkumpul.


"Ayah aku pergi dulu," pamit Bintang memeluk Kenzo.


"Jagalah diri baik-baik di tempat disana dan sampaikan salam Ayah pada mereka," pesan Kenzo mengusap-usap punggung Bintang.


"Iya, Ayah!"


Setelah memeluk Kenzo Bintang beralih memeluk Tea, "Bunda aku pamit."


"Iya, Sayang! Jangan merepotkan kakek dan nenekmu!" pesan Tea.


"Iya, Bun!"


Setelah Bintang berpamitan pada semuanya ia masuk ke dalam mobil.


Dengan perlahan mobil yang ditumpangi oleh Bintang meninggalkan kediaman keluarga Erlangga.


Bintang menikmati perjalananya dengan bahagia dan selalu mengulas senyum di bibirnya.


Bintang menyuruh supirnya berhenti sebentar di sebuah restoran, karena ia merasa perutnya keroncongan minta diisi.


Setelah mengisi perutnya, Bintang kembali masuk ke dalam mobil dan dengan segera supirnya melanjutkan perjalanan, karena antara Jakarta dan Surabaya membutuhkan perjalanan yang cukup panjang jika melewati jalur darat.


 Lama-lama Bintang mulai mengantuk dan akhirnya tertidur pulas. 


Beberapa jam kemudian Bintang sudah sampai di depan gang sempit tempat Ahmad dan Ami tinggal.


Bintang turun dari mobilnya sedangkan supirnya langsung kembali lagi ke Jakarta.


Bintang tersenyum, melihat semua masih sama seperti saat ia masih kecil dulu. Desa itu hanya mengalami sedikit perubaha dan tidak terlalu kelihatan.


Semua orang yang melihat Bintang datang hanya memandangnya dan begitu kagum dengan kecantikannya, namun mereka hanya diam tanpa menyapanya.


Tok, tok, tok.


Bintang mengetuk pintu rumah Ahmad setelah ia sampai.


Tidak lama kemudian pintu terbuka dan nampak lah Ami membukakan pintu.


"Bintang, kamu sudah datang, Nak!" ucap Ami tersenyum memeluk Bintang melepaskan kerinduannya.


"Iya Nek, aku sangat merindukan Nenek dan Kakek," lirih Bintang masih memeluk Ami.


Dari dalam keluar Ahmad dengan tersenyum bahagia melihat Bintang sudah datang dan berpelukan dengan Ami.


"Waw, cucu Kakek sudah datang."


Bintang melepaskan pelukannya dan langsung memeluk Ahmad.


"Aku sangat merindukanmu, Kek!" 


"Kakek juga merindukanmu, Sayang!" 

__ADS_1


"Sudah ayo kita masuk," ajak Ami.


Bintang dan Ahmad melepaskan pelukannya kemudian mereka semua masuk ke dalam.


Mereka bertiga berbincang-bincang melepaskan rindu. 


"Bintang, istirahatlah dulu, kamu pasti capek setela melakukan perjalanan jauh!" perintah Ami.


"Baik, Nek!" jawab Bintang tersenyum menganggukkan kepalanya.


Kini Bintang masuk ke dalam kamar yang dulu menjadi kamar Tea, namun sekarang sudah sedikit direnovasi.


Bintang merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur.


"Ah, akhirnya aku bisa tiduran juga, setelah berjam-jam hanya duduk di dalam mobil. Tapi tidak papa, demi cinta aku rela," gumam Bintang tersenyum kemudian ia memejamkan matanya.


Hingga pukul lima sore bintang baru bangun dan membongkar kopernya kemudian menyusul barang-barangnya pada tempatnya.


Setelah semuanya selesai Bintang masuk ke dalam kamar mandi membersihkan badannya.


Hanya sepuluh menit Bintang membersihkan badannya dan sekarang ini ia sudah rapi dan keluar kamar menghampiri Ami yang sibuk memasak di dapur.


"Nenek, masak apa?" tanya Bintang memeluk tubuh Ami dari belakang.


"Nenek, masak tumis kacang dan membuat ayam goreng kesukaanmu," jawab Ami tersenyum.


"Maaf ya, Nek. Aku tidak membantu Nenek, karena Bintang tidak bisa memasak," ucap Bintang tersenyum melepaskan pelukan.


"Kamu harus belajar memasak, Nak. Supaya kalau menikah nanti suamimu senang."


"Iya, Nek! Aku akan belajar memasak dengan Nenek!"


"Baiklah mulai besok kamu bisa belajar dengan Nenek."


"Tapi besok pagi aku akan ke sekolah mengantar berkas lamaran kerja sebagai guru."


"Apa kamu yakin ingin menjadi guru?" tanya Ami memandang Bintang seakan-akan tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Bintang.


"Iya, Nek! Aku ingin menjadi guru seperti, kakek!" jawab Bintang meyakinkan Ami.


"Itu berarti kamu akan tinggal selamanya disini?" tanya Ami dengan begitu senangnya.


"Iya, dong! Apa Nenek tidak diberitahu ayah, kalau aku akan tinggal disini dalam jangka panjang?" tanya Bintang.


"Kemaren yang berbicara itu kakek kamu jadi Nenek tidak tau dan jika kamu akan disini lama," jelas Ami.


"Ya sudah Nenek jangan marah sama kakek, sekarang Bintang akan menyusun piring dan makanan lainnya di meja makan."


Bintang menyusun makanan yang sudah selesai di masak oleh Ami di meja makan. Setelah itu ia pamit keluar.


Bintang melangkahkan kakinya menuju teras rumahnya dan duduk disana memandang sekitar rumah. Ia tersenyum setiap kali mengingangat dirinya masa-masa bersama dengan Vano saat masih anak-anak.


___

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2