
"Oke, aku akan mengambilkan sup untuk Kak Vano!" Bintang bergegas mengambil mangkuk dan menuangkan sup ke dalam mangkuk tersebut. Setelah itu ia memberikannya pada Vano.
Bintang duduk di samping Vano, ia tersenyum melihat orang yang dicintai memakan sup dengan lahan. Hari ini ia bahagia bisa menghabiskan waktu bersamanya.
'Semoga Tuhan segera membukakan pintu hati Kak Vano untuk,' harap Bintang dalam hati.
"Sup buatanmu seger banget," puji Vano setelah sup dalam mangkuknya habis.
"Itu bukan aku saja yang buat, tapi Kak Vano juga."
"Aku hanya mengarahkan saja!"
"Baiklah, sekarang apa Kakak mau tambah lagi?" tanya Bintang.
"Tidak, aku sudah kenyang!" tolak Vano.
Bintang menganggukkan kepalanya kemudian ia membereskan bekas makanannya.
"Bi, aku pulang dulu ya?" pamit Vano berdiri dari duduknya.
"Iya Kak, terima kasih sudah membantuku membereskan rumah dan masak."
"Tidak perlu berterima kasih, aku senang membantumu," ucap Vano tersenyum.
"Baiklah, ayo aku antar ke depan," ajak Bintang.
Mereka berdua keluar dari ruang makan. Bintang berdiri dari depan terasa memandang kepergian Vano.
Setelah Vano tidak lagi nampak dari pandangannya barulah Bintang masuk ke dalam rumahnya, namun baru saja ia hendak menutup pintunya Ahmad dan yang lainnya sudah datang.
"Nenek!" Bintang bergegas memeluk Ami dengan begitu gembira.
"Sudah lepaskan Nenek, biarkan dia istirahat," tegur Kenzo.
"Baik, Ayah," jawab Bintang, melepaskan pelukannya.
Mereka masuk ke dalam rumah, sedangkan Ahmad segera membawa Ami ke kamar agar istrinya itu bisa segera beristirahat.
Kini Bintang dan kedua orang tuanya sedang asik berbincang-bincang di ruang tamu.
"Ayah, Bunda, tadi aku sudah memasak dan cobalah cicipi masakanku," ucap Bintang tersenyum.
"Apa sekarang kau sudah bisa memasak?" tanya Tea hampir saja tidak percaya.
"Iya, Bun, aku belajar masak dengan Nenek!" jawab Bintang.
"Waw … mau dong mencicipi masakanya!" ucap Tea dengan begitu bersemangat, ia senang Bintang tidak lagi manja seperti dulu.
"Ayah juga mau dong mencicipinya," ucap Kenzo ikut menimpali pembicaraan Bintang dan Tea.
"Ya sudah, ayo kita ke ruang makan," ajak Bintang.
"Oke!" jawab Tea dan Kenzo secara bersamaan.
Bintang dan kedua orang tuanya melangkah meninggalkan ruang tamu menuju ruang makan.
__ADS_1
Sesampainya di sana Kenzo duduk di meja makan bersama dengan Tea.
"Sayang, kamu masak apa saja?" tanya Tea pada Bintang.
"Aku memasak sup iga, tumis kacang panjang dan ayam goreng," jawab Bintang sambil membuka tutup makanan yang ada di meja makan.
"Wah!" seru Tea dan Kenzo setelah mereka melihat Bintang membuka tutup makananya.
"Ayo Ayah, Bunda, cicipilah!" perintah Bintang.
"Siap!" Jawab mereka berdua dengan tersenyum.
Tea dan Kenzo mulai menuangkan nasi ke dalam piring masing-masing sedangkan Bintang menyiapkan makan untuk Ami.
"Uh, ini enak sekali!" seru Tea setelah ia mencicipi masakan Bintang.
"Terima kasih, Bunda! Sekarang aku akan mengantarkan makanan untuk Nenek, Ayah dan Bunda makanlah di sini!"
Iya," jawab Kenzo masih dengan mengunyah makanannya.
Bintang keluar dari ruang makan sambil membawa nampan menuju kamar Ami.
Tok, tok, tok.
Bintang mengetuk pintu kamar Ahmad dan tidak lama kemudian pintu dibuka oleh Ahmad dari dalam.
"Kakek, makanlah bersama dengan Ayah dan Bunda di meja makan! Biar aku yang menyuapi nenek di sini," perintah Bintang.
"Apa kamu sudah makan?" tanya Ahmad pada Bintang.
"Baiklah aku akan makan dulu dan temanilah nenekmu ini."
"Beres, Kek," jawab Bintang dengan mengacungkan ibu jarinya.
Ahmad keluar dari kamar menuju dapur, kini hanya ada Bintang dan Ami yang ada di kamar itu.
Dengan telaten Bintang menyuapi Ami hingga habis tidak tersisa.
Setelah selesai makan bintang menyuruh Ami untuk kembali beristirahat agar segera pulih kembali.
***
Satu Minggu sudah kedua orang tua Bintang berada di rumah Ahmad dan sekarang mereka akan kembali ke Jakarta karena pekerjaan Kenzo tidak bisa ditinggal terlalu lama.
Sore ini Bintang ikut mengantar kedua orang tuanya sampai ke bandara.
"Ayah, hati-hati di jalan," pesan Bintang dengan memeluk Kenzo. Ketika mereka akan naik kedalam pesawat pribadinya.
"Iya, Bi, kamu jaga diri baik-baik dan jangan merepotkan Nenek dan Kakek!" jawab Kenzo sambil mengusap-usap punggung Bintang.
"Iya, Ayah!" Bintang melepaskan pelukannya dan beralih memeluk Tea.
"Bunda aku pasti akan merindukanmu," lirih Bintang.
"Bunda juga Sayang, dan Bunda titip Nenek dan Kakek, tolong jaga mereka berdua. Jika ada apa-apa segera hubungi Bunda atau ayah," pesan Tea membelai lembut kepala Bintang.
__ADS_1
"Iya, Bunda dan sampaikan salam rinduku pada Sena dan Rafa," ucap Bintang yang enggan melepaskan pelukannya.
"Sudah sekarang lepaskan, Bunda!" ucap Kenzo setela Bintang memeluk Tea dengan cukup lama.
Dengan berat hati, Bintang melepaskan pelukannya.
"Apa kau tidak ingin memeluk, Om?" tanya Bayu yang entah sejak kapan ia akan berada disana.
"Om Bayu ada disini?" tanya Bintang dengan sedikit kaget dengan keberadaan Bayu.
"Tentu saja Om ada disini," jawab Bayu tersenyum.
"Ngapain?" tanya Bintang tak mengerti.
"Menjemput mereka berdua," jawab Bayu menunjuk Tea dan Kenzo.
"Oh," Bintang menganggukkan kepalanya kemudian ia memeluk Bayu.
Setelah Kenzo dan Tea pergi bersama dengan Bayu, kini Bintang meninggalkan bandara dengan menaiki taksi. Namum di jalan ia turun dari taksi, ketika melihat toko kue. Kali ini ia akan membelikan rainbow cake untuk Ami dan Ahmad. Tidak lupa ia juga memberikannya untuk keluarga Vano.
Usai membeli kue Bintang bergegas kembali naik ke dalam taksi. Setelah ia masuk dengan perlahan taksi yang ditumpangi berjalan meninggalkan toko kue.
Hanya butuh dua puluh menit untuk Bintang sampai rumah dan sekarang ia sudah ada di depan pintu.
Bintang membuka pintu rumah yang tidak terkunci, kemudian ia masuk ke dalam. Ia menghampiri Ahmad dan Ami saat melihat mereka berdua tengah duduk santai di depan TV.
"Sore Kakek, Nenek," sapa Bintang.
"Sore, Bi," jawab Ahmad dan Ami secara bersamaan dengan memandang Bintang.
"Kakek, Nenek, ini aku belikan rainbow cake." Bintang memberikan satu paper bag pada Ami.
"Terima kasih, Bi! Ayo kita makan bersama sama!" ajak Ami sambil menerima paper bag yang diberikan padanya.
"Baik Nek, tapi sebentar, aku akan ambil piring dan pisau dulu."
"Oke, ambilah, Nak!"
Bintang meletakan satu paper bag yang ia beli untuk keluarga Vano di atas meja, kemudian ia pergi ke dapur.
Tidak lama kemudian ia sudah kembali lagi dengan membawa piring kecil, pisau kue dan sendok.
"Nah, sekarang Nenek yang potong kuenya." Bintang memberikan pisau pada Ami.
Dengan pelan Ami memotong kuenya dan menaruhnya di piring Ahmad dan juga Bintang setelah itu barulah ia mengambil untung diri sendiri.
Usai memakan kue Bintang berpamitan pada Ami dan Ahmad untuk mengantar kue ke rumah Vano.
"Bi, kalau ke rumah Vano jangan lama-lama ya, ini sudah mau gelap," pesan Ahmad.
___
Bersambung…
__ADS_1