Cinta Bintang

Cinta Bintang
Are You Oke?


__ADS_3

"Baiklah, Ayah akan mengaktifkan kembali ATM dan black card milikmu, tapi ingat, itu hanya untuk keperluan Nenek."


"Iya Ayah, Bintang mengerti, tapi cepatlah sedikit," pinta Bintang.


"Iya, tunggulah lima menit lagi, semuanya bisa kamu gunakan dan nanti Ayah bersama Bunda akan kesana."


"Baik, Ayah! Aku tunggu."


"Ya sudah, Ayah tutup dulu teleponnya."


"Iya, Ayah!" 


Tut, tut, tut.


Panggilan telepon antara Bintang dan Kenzo terputus.


"Bagaimana, Bi? Apa orang tuamu membantumu?" tanya Vano setela Bintang mengakhiri panggilannya.


"Iya Kak, sebentar lagi kartu black card dan ATM aku akan diaktifkan kembali."


"Syukurlah," ucap Vano tersenyum.


Sesuai yang dikatakan Kenzo maka lima menit kemudian Bintang mendapatkan pesan dari sang ayah jika ia sudah bisa menggunakan kembali fasilitas yang dibekukan.


"Kak, ayo kita bayar," ajak Bintang.


"Ya," jawab Vano menganggukkan kepalanya.


Mereka berdua menyelesaikan administrasi di kasir. Setelah semuanya selesai Vano dan Bintang kembali ke ruang IGD namun disana sudah tidak ada siapa-siapa.


"Kak, kemana Kakek?" tanya Bintang memandang Vano dengan khawatir.


"Iya, Ayah juga tidak ada? Sebentar aku tanya suster yang berjaga dulu!" 


"Ya!" 


Vano menanyakan keberadaan Ami dan Ahmad pada suster dan mereka mengatakan kalau pasien atas nama Ami sudah dipindahkan di ruang ICU karena keadaannya memburuk.


"Bi, kita ke ruang ICU," ajak Vano.


"Apa Nenek ada disana?" tanya Bintang dengan cemas.


"Iya." 


"Baik Kak, ayo!" 


Vano dan Bintang melangkah meninggalkan IGD menuju ruang ICU.


Sesampainya disana ia melihat Ahmad dan Harun duduk di depan ruang ICU.


"Kakek, bagaimana keadaan Nenek?" tanya Bintang sambil duduk di samping Ahmad sedangkan Vano duduk bersama dengan Harun.


"Nenekmu kritis dan sekarang tengah ditangani oleh dokter," jawab Ahmad dengan sedih.


"Kakek jangan sedih, Nenek pasti akan sembuh," ucap Bintang dengan memeluk Ahmad.


"Iya, Nak, tapi bagaimana dengan urusan pembayarannya?" 

__ADS_1


"Kakek tidak perlu memikirkan biaya untuk Nenek, karena Bintang sudah melunasinya!" 


"Kamu dapat uang dari mana, Nak?" tanya Ahmad dengan mengerutkan keningnya, karena setahunya semua fasilitas yang dimiliki oleh Bintang dibekukan Kenzo.


"Aku tadi telepon Ayah agar aku bisa menggunakan kembali ATM juga black card milikku, selain itu mereka akan segera kemari," jelas Bintang.


"Jadi mereka akan kesini?" 


"Ya, Kek! Mungkin sekarang mereka sudah bersiap-siap!" 


Mereka saling terdiam tanpa ada yang berbicara. Hingga akhirnya dokter laki-laki yang menangani Ami keluar dari ruang ICU diikuti oleh suster dan asistennya.


Melihat dokter keluar Bintang dan Ahmad menghampirinya.


"Dok, bagaimana keadaan istri saya?" tanya Ahmad dengan cemas.


"Nyonya Ami sudah mulai stabil, Tuan! Nanti besok jika perkembangannya semakin membaik kami akan memindahkannya di ruang perawatan," jelas dokter.


"Baik, Dok! Terima kasih!" jawab Ahmad sedikit lega karena keadaan Ami sudah mulai stabil.


"Sama-sama, Tuan. Kalau begitu kami permisi dulu!" 


"Silahkan, Dok!" jawab Ahmad menganggukkan kepalanya.


Setelah kepergian dokter Bintang dan Ahmad kembali duduk di kursi tunggu karena Ami belum boleh dijenguk.


"Pak Ahmad, bagaimana keadaan Bu Ami?" tanya Harun setelah Ahmad duduk.


"Alhamdulillah, Ami sudah mulai stabil, Har!" 


"Syukurlah, saya lega mendengarnya, Pak! Jadi kapan dipindahkan ke ruang perawatan?" tanya Harun memandang Ahmad.


Harun menganggukkan kepalanya ia lega karena Ami sudah mulai stabil.


"Kakek, aku akan cari makanan dulu untukmu dikantin, karena dari tadi siang Kakek belum makan," pamit Bintang, saat ia mengingat jika Ahmad belum makan.


"Tidak usah, Bi, Kakek masih kenyang!" tolak Ahmad.


"Kakek jangan seperti itu, nanti Kakek sakit dan Bintang tidak mau itu terjadi," bujuk Bintang.


"Bintang benar, Pak. Kasihan istri Bapak nanti kalau lihat suaminya juga sakit!" ucap Harun ikut membujuk Ahmad supaya ia mau makan.


"Baiklah, aku akan makan," jawab Ahmad akhirnya mengikuti apa yang mereka katakan.


"Sekarang Bintang akan carikan Kakek makan!"


"Ya."


"Vano kau temani Bintang cari makan untuk Kakek!" perintah Harun pada Vano.


"Baik, Ayah! Apa Ayah mau aku belikan kopi juga?" 


"Boleh!"


"Oke."


 Bintang dan Vano meninggalkan mereka menuju kantin rumah sakit.

__ADS_1


Dikantin Bintang segera memesan empat porsi nasi beserta dengan sayur dan lauk pauknya. Sedangkan Raka memesan tiga kopi.


Kini mereka duduk di bangku kantin, menunggu pesanan mereka siap dikemas.


"Kak, terima kasih sudah membantu aku dan Kakek mengurus Nenek di rumah sakit," ucap Bintang dengan memandang Vano penuh dengan cinta.


"Kamu tidak perlu berterima kasih Bi, kita ini sahabat dan sebagai seorang sahabat tentu aku akan membantumu saat kamu tengah kesulitan." 


'Kapan aku bisa menjadi kekasihnya dan bukan sekedar menjadi seorang sahabat? Kapan harapanku ini bisa terwujud?'  batin Bintang dengan sedih.


"Bi, are you okay?" tanya Vano, yang melihat Bintang terdiam menundukkan kepalanya.


"Yes, I am doing okay!" jawab Bintang tersenyum tipis.


Setelah lama menunggu akhirnya makanan dan kopi yang mereka pesan sudah siap.


"Bi, biar aku saja yang bayar semuanya," ucap Vano sebelum Bintang membayarnya.


"Tidak usah, Kak!" tolak Bintang.


"Tidak apa-apa, Bi, jangan merasa sungkan sungkan seperti itu!" ucap Vano tersenyum mengacak rambut Bintang, kemudian ia segera membayarnya.


Bintang dan Vano meninggalkan kantin menuju ICU tempat Ahmad bersama dengan Harun menunggui Ami.


Sesampainya di sana, Bintang memberikan kotak makanan Ahmad dan Harun, tak lupa juga ia memberi Vano.


"Ayo kita makan," ajak Bintang pada mereka semu.


Mereka mengangguk, kemudian mulai memakan makanannya masing-masing.


Usai makan Ahmad dan Harun melihat Ami melalui jendela kaca. Kini hanya Bintang bersama dengan Vano yang duduk di bangku tunggu ICU.


"Kak, apa bisa sehari saja aku tidak berangkat mengajar?" tanya Bintang pada Vano yang duduk disampingnya.


"Jika memang keadaannya tidak memungkinkan bisa saja. Jika kamu mau besok aku akan bicara pada pak kepsek kalau kamu tidak bisa mengajar, karena menemani Nenek di rumah sakit!" 


"Terima kasih, Kak!" 


"Sudah aku bilang jangan berterima kasih terus!" ucap Vano memencet hidung Bintang dengan gemas.


"Aduh, Kak! Sakit tau!" keluh Bintang mencebikkan bibirnya sambil mengusap-usap hidungnya.


"Mangkanya jangan terima kasih terus!" 


"Terus aku harus bilang apa?" tanya Bintang memandang Vano.


"Ya, biasa saja tidak perlu berterima kasih!" 


"Itu namanya tidak sopan!" 


"Namanya juga dengan sahabat, ya tidak papa dong," jawab Vano tersenyum.


'Ya Tuhan … melihat senyumannya saja, sudah membuatku bahagia. Bagaimana jika aku bisa memilikinya, pasti aku akan menjadi wanita yang paling bahagia dan beruntung di dunia ini. Tuhan ... tolong buat Kak Vano mencintai aku, karena aku benar-benar menginginkan dia menjadi jodohku!' batin Bintang dengan memandang Vano tak berkedip.


Vano tersenyum melihat Bintang diam dan memandangnya tanpa mengedipkan mata.


___

__ADS_1


Bersambung….


__ADS_2