
"Baik, Sus," jawab Ahmad menganggukkan kepalanya.
Ahmad dan Ami melangkahkan kakinya mengikuti suster yang mendorong tempat tidur Bintang menuju ruang perawatan VVIP.
Sesampainya di ruang perawatan, suster dengan cepat menata kembali infus Bintang dan merapikan apa yang semua.
Setelah kepergian suster Ami duduk di samping tempat tidur Bintang dengan hati yang sedih.
"Selama ini kami tidak tau apa yang membuatmu tertekan dan jika kamu mencintai seseorang siapa pria itu? Kenapa kamu tidak pernah bercerita dengan kami?" gumam Ami, membelai lembut kepala Bintang yang tengah tertidur.
Ahmad yang duduk di sofa, berdiri menghampiri Ami yang tengah bersedih.
"Jangan bersedih, Bu. Semua akan baik-baik saja! ucap Ahmad, yang berdiri di belakang Ami sambil mengusap lembut pundak Ami.
"Ibu hanya bingung, yah. Sebenarnya Bintang menyukai siap? Sehingga membuatnya depresi seperti ini!" lirih Ami.
"Ayah juga tidak tau, Bu. Selama dia tinggal bersama kita Bintang hanya dekat dengan Vano dan Aldo saja!"
"Apa Bintang menyukai salah satu diantara mereka?" tanya Ami, dengan mendongakkan kepalanya menatap wajah Ahmad.
"Entahlah," jawab Ahmad dengan ragu.
Perbincangan mereka terhenti dikala Bintang mulai membuka matanya.
"Sayang, kamu sudah bangun? Apa kamu merasakan pusing atau sakit?" tanya Ami dengan rasa khawatir.
"Jangan khawatirkan aku, Nek," lirih Bintang, menatap Ami dengan pandangan sayu.
"Bagaimana Nenek tidak khawatir jika tiba-tiba Nenek mendapat kabar jika kamu pingsan di sekolah." Ami menggenggam tangan Bintang kemudian ia mengecupnya dengan lembut.
"Aku tidak papa Nek, cuma sedikit lelah," ucap Bintang agar Ami tidak lagi mencemaskannya.
"Yaudah, sekarang kamu harus istirahat lagi supaya cepat sembuh dan jangan terlalu memikirkan hal yang tidak perlu dipikirkan."
Bintang menganggukkan kepalanya kemudian ia kembali memejamkan matanya berusaha menghilangkan bayangan Vano dari pikirannya.
Pukul tiga sore, pintu ruang perawatan dibuka dari luar.
Cklek
Pintu terbuka dan munculah Tea dan Kenzo dari balik pintu.
Mendengar pintu dibuka Ami dan Ahmad yang sedang duduk di sofa menoleh ke arah pintu. Mereka tersenyum, melihat anak dan menantunya sudah datang. Sedangkan Bintang masih terlelap dalam tidurnya, setelah ia meminum obat.
Ami berdiri dari duduknya dan segera memeluk Tea.
"Kamu apa kabar, Nak?" tanya Ami dengan mengusap punggung Tea.
__ADS_1
"Kabar baik, Bu! Bagaimana dengan Ibu? Apa Ibu sehat?"
"Ibu dan Ayah baik-baik saja, Nak!" jawab Ami sambil melepaskan pelukannya.
Kini mereka semua duduk di sofa yang ada di ruangan tersebut.
"Ayah, sebenarnya Bintang sakit apa?" tanya Kenzo dengan begitu penasaran.
"Ayah akan menceritakan semuanya tapi jangan disini nanti Bintang terganggu dan bangun dari tidurnya."
"Baiklah, Ayah. Ayo kita keluar," ajak Kenzo.
"Ayo." Ahmad berdiri dari duduknya dan melangkah keluar meninggalkan ruang perawatan diikuti oleh Tea dan Kenzo. Sedangkan Ami menjaga Bintang di dalam
Kini mereka bertiga duduk di bangku koridor rumah sakit.
"Ayah, sekarang ceritakan lah kata kami apa yang terjadi," pinta Kenzo pada Ahmad.
Baiklah," jawab Ahmad kemudian ia menarik nafasnya dan menghembuskannya dengan pelan.
Ahmad mulai menceritakan apa yang dikatakan oleh dokter, jika Bintang mengalami depresi karena tertekan memikirkan hal yang tidak bisa didapatkannya. Sehingga sekarang ia mengalami depresi berat dan butuh pendamping dari pihak keluarga agar ia kembali pulih seperti dulu.
"Jadi Bintang depresi karena patah hati, begitu maksudnya?" tanya Kenzo, memastikan apa yang dikatakan Ahmad itu benar.
"Ya, kira-kira seperti itu, tapi aku tidak tau siapa orang yang disukai oleh Bintang."
"Apa kamu tau semuanya, Sayang?" tanya Kenzo dengan mengernyitkan keningnya.
Dengan cepat Tea menggelengkan kepalanya tanpa mengatakan apapun.
"Jangan berbohong denganku! Katakanlah siapa yang dicintai Bintang dan apa saja yang kamu ketahui!" ucap Kenzo memanjat Tea dengan sedikit menajamkan matanya.
"Tapi…"
"Tidak ada tapi-tapian! Ayo katakanlah!" pinta Kenzo.
"Baiklah, waktu itu Bintang pernah mengatakan jika dia sangat mencintai Vano dan berusaha meraih cinta Vano."
Tea mengatakan apa yang diketahui tanpa ada yang ditutupi.
"Jadi dia menyukai Vano anak pak RT itu?" tanya Kenzo.
"Iya dan hanya sebatas itu yang aku tau karena bintang tidak pernah curhat melalui telepon."
"Ya Tuhan ... pantas saja Bintang tertekan, karena Vano tidak mungkin mencintainya," ucap Ahmad dengan.
"Kenapa tidak mungkin?" tanya Tea dengan mengerutkan keningnya.
__ADS_1
"Karena Vano sudah memiliki tunangan dan dia baru saja menyelesaikan pendidikannya di luar negeri," jelas Ahmad.
"Astaga, jadi Bintang tertekan karena tidak memiliki kesempatan hidup bersama orang yang dicintainya?" ucap Kenzo dengan mengusap wajahnya kasar.
"Ya sudah, sekarang yang harus kita lakukan, memberi semangat Bintang agar dia secepatnya melupakan Vano," ucap Tea dengan menepuk pundak Kenzo.
"Ya," jawab Kenzo mengangguk.
"Sekarang ayo kita masuk," ajak Tea.
Mereka bertiga masuk ke dalam ruang perawatan. Disana Tea duduk di samping tempat tidur Bintang sedangkan Ahmad dan Kenzo berada di sofa.
Ayah, Ibu, kalian beristirahatlah dulu di rumah. Biar kami yang akan menjaga Bintang jangan sampai ayah dan ibu sakit," ucap Kenzo, agar Ami dan Ahmad pulang karena mereka terlihat sangat lelah.
"Baiklah, kami akan pulang, tapi jika ada apa-apa jangan lupa menghubungi kami," pesan Ahmad pada Kenzo.
"Iya, Ayah," jawab Kenzo tersenyum.
Setelah Ami dan Ahmad pulang Kenzo keluar dari ruang perawatan menuju kantin, mencari makan untuk makan malam.
Sekarang hanya tinggal Tea dan Bintang yang ada di dalam ruang perawatan. Bintang mulai membuka matanya dan melihat Tea sudah ada di dekatnya.
"Bunda," lirih Bintang dengan mata berkaca-kaca menahan kesedihannya.
"Iya, Sayang. Bunda ada disini," ucap Tea dengan menggenggam tangan Bintang.
"Peluk," pinta Bintang dengan lirih.
"Baiklah, Bunda akan memelukmu."
Tea naik ke atas tempat tidur Bintang dan merebahkan tubuhnya, kemudian ia memeluk.
Dalam pelukan Tea, ia menangis dengan terisak menumpahkan semua kesedihannya.
"Bunda, dia sudah mempunyai tunangan dan aku tidak lagi memiliki kesempatan untuk bisa bersamanya," ucap Bintang dengan berlinangan air mata.
"Kamu harus melupakan dia, Sayang. Mungkin dia bukan jodohmu. Percayalah, suatu hari nanti kamu akan mendapatkan orang yang sangat mencintaimu dan itu bukan Vano," ucap Tea dengan mengusap lembut kepala Bintang.
"Aku tidak bisa melupakanya, Bun! Aku sangat mencintainya, dia itu cinta pertamaku dan aku menginginkannya," ucap Bintang masih dengan menangis.
"Jangan seperti ini Sayang, kamu tidak boleh menyukai orang yang sudah menjadi milik orang lain," ucap Tea menasehati Bintang.
"Aku tidak akan merebutnya Bunda! Aku akan tetap menjadikannya orang yang aku cintai dan aku tidak akan mencintai yang lain!"
____
Bersambung….
__ADS_1