Cinta Bintang

Cinta Bintang
Bibirnya Lebih Manis


__ADS_3

"Tau, ah … sebel!" Bintang berlalu dari hadapan Vano dan duduk di meja rias.


Usai memakai make-up, Bintang berniat membersihkan tempat tidurnya yang sudah kotor, karena pertempuran yang ia lakukan bersama Vano tadi malam.


"Loh, kasurnya kok sudah bersih? Siapa yang membersihkan?" gumam Bintang dengan mengatur kepalanya yang tidak gatal saat ia melihat tempat tidurnya sudah rapi dan seprainya juga sudah diganti.


"Bi, ada apa?" tanya Vano yang melihat Bintang seperti orang yang bingung.


"Ini Kak, siapa yang membersihkan tempat tidur kita? Apa Kakak yang melakukannya?" tanya Bintang memandang Vano.


"Bukan, tapi tadi petugas kebersihan yang membereskan semuanya!" jelas Vano, berjalan menghampiri Bintang.


"Kenapa Kakak tidak mencegahnya? Tadi kan sprainya ada noda darahnya, malu banget dilihat mereka!" ucap Bintang sambil duduk di tempat tidur.


"Tidak perlu malu, Bi, ini kan hotel milik keluargamu, mereka semua pasti sudah tau jika kita kemari itu untuk berbulan madu!" 


"Ah, iya, aku lupa, kalau ini hotel milik Ayah!" ucap Bintang dengan nyengir memandang Vano.


"Huh, dasar pelupa!" Vano mengacak rambut Bintang dengan gemas.


"Ini berarti kita beneran bulan madu tidak cuma sekedar jalan-jalan?" 


"Ya mau bagaimana lagi, orang sudah terlanjur terjadi tadi malam?" 


Bintang tersenyum bahagia mendengar perkataan Vano, kalau mereka kemari tidak sekedar jalan-jalan tetapi juga berbulan madu.


"Apa Kakak menyesal?" 


"Tidak!" jawab Vano menggeleng.


"Aku mencintaimu!" 


"Aku tau itu, sekarang ayo kita keluar cari sarapan," ajak Vano.


"Aku malas keluar, kita pesan saja makanan dari hotel ini."


"Kamu masih capek ya?" 


Bintang mengangguk tanpa menjawab pertanyaan Vano.


"Ya sudah kita pesan sarapan saja kamu istirahatlah dulu nanti sore kita baru keluar cari baju untukmu." 


"Ya," jawab Bintang tersenyum.


Vano menghubungi room service agar memesankan makanan untuknya dan Bintang. Setelah itu ia merebahkan tubuhnya di samping Bintang sambil bertukar pesan dengan Aldo.


"Kak, kenapa dari tadi senyum-senyum sendiri?" tanya Bintang yang melihat Vano berkirim pesan sambil senyum-senyum sendiri.


"Ini Bi, Aldo lucu banget!" 


"Memang kenapa Aldo, Kak?" 


"Nih, baca sendiri!" Vano memberikan ponselnya pada Bintang.


Bintang tertawa terbahak-bahak setelah membaca pesan dari Aldo. 


"Aduh kasian banget Aldo masak di kejar-kejar sama si Neneng sampai dia kecebur sungai!" ucap Bintang masih dengan tertawa.

__ADS_1


"Sudah, jangan tertawa seperti itu." 


"Habis lucu banget, Kak!" 


Disaat mereka saling bercanda tiba-tiba saja pintu kamarnya diketuk dari luar.


Dengan cepat Vano membuka pintu kamarnya dan menyuruh petugas room service masuk.


Setelah menyajikan makanan, mereka kembali keluar. Sedangkan Vano menghampiri Bintang ditempat tidur.


"Ayo Bi, kita sarapan!" ajak Vano.


"Ayo," jawab Bintang, tersenyum turun dari tempat tidur.


Kini keduanya duduk di kursi meja makan menikmati sarapannya dengan diam.


Usai sarapan Vano dan Bintang menghabiskan waktu di kamar, karena nanti sore mereka berdua berencana pergi ke pusat perbelanjaan untuk membeli beberapa pakaian.


Bintang memejamkan matanya tertidur pulas dalam pelukan hangat Vano. 


Vano melepaskan pelukannya setelah dirasa Bintang sudah terlelap. Ia memandang wajah istrinya dengan lekat.


"Kalau tertidur seperti ini dia makin terlihat imut, apalagi bibirnya ini rasanya manis sekali. Aku pernah menyentuh bibir Havivah, tapi entah kenapa bibirnya Bintang lebih manis dari milik Havivah dan setelah merasakan membuat aku ketagihan," gumam Vano dengan mengusap lembut bibir Bintang yang berwarna pink.


Semakin lama Vano memandang bibir Bintang ia semakin tak tahan dan ingin segera melahap bibirnya itu.


"Tahan Van dia masih tidur tidak enak kalau menyatukan bibir sendirian," gumam Vano kemudian ia tidur terlentang dengan menutup wajahnya memakai bantal.


***


Sore harinya, Bintang bangun dari tidurnya melihat Vano masih terlelap dengan menyembunyikan wajahnya di ceruk lehernya.


Setelah puas memandangi wajah Vano, Bintang pun membangunkannya.


"Kak, bangun," bisik Bintang.


Vano membuka matanya, ia tersenyum menatap wajah Bintang yang tidak ada satu jengkal dari wajahnya. Mereka saling menatap dengan cepat Vano memalingkan wajahnya dan bangun dari tidurnya saat ia mulai sadar jika ia akan pergi berbelanja bersamanya.


"Bi, kamu mandi tidak?" 


"Nanti saja Kak, lagian aku tidak punya baju ganti lagi." 


"Ya sudah, aku akan mandi sebentar."


"Ya."


Vano turun dari tempat tidur, melangkah masuk ke dalam kamar mandi.


Dalam kamar mandi Vano dengan cepat membersihkan badannya, setelah selesai ia keluar dari kamar mandi dan menggunakan pakaiannya yang sudah disiapkan oleh Bintang.


"Ayo Bi, kita berangkat," ajak Vano, yang sudah rapi dengan penampilannya.


"Iya, Kak!" 


Bintang memeluk lengan Vano dengan keluar dari hotel, menuju pusat perbelanjaan.


Sesampainya di sana mereka berdua mengelilingi pusat perbelanjaan sambil melihat-lihat.

__ADS_1


"Bi, sepertinya itu bagus untukmu!" Vano menunjuk sebuah dress pendek berwarna marun yang sangat bagus dan juga mahal.


"Kita cari yang lain aja, Kak. Itu mahal banget!" 


"Tidak apa-apa, Bi, uangku masih ada kok," ucap Vano tersenyum.


"Daripada untuk beli baju mahal, lebih baik ditabung untuk masa depan kita nanti."


"Untuk masalah itu kamu jangan khawatir, aku sudah mempersiapkan semuanya," jelas Vano.


"Tapi…." 


Belum sempat Bintang melanjutkan perkataannya, Vano sudah menariknya dan mengajak masuk kedalam toko baju tersebut.


Akhirnya Bintang menuruti keinginan Vano dan membeli baju tersebut.


Setelah itu barulah ia memilih beberapa piyama dan baju lainnya untuk digunakan selama ia berada disini.


"Apa semuanya sudah lengkap dan cukup?" tanya Bintang yang sudah mengakhiri belanjanya.


"Sudah, Kak!" 


"Ya sudah sekarang ayo kita cari makan dulu sebelum kita pulang," ajak Vano.


"Oke!" 


Kini keduanya pun mencari makanan sesuai dengan apa yang diinginkan.


Bintang dan Vano masuk ke dalam restoran, kemudian ia segera memesan makanan kesukaan masing-masing.


Setelah memesan makanan mereka berdua berbincang-bincang dengan begitu asik.


Setelah makanannya disajikan Vano dan Bintang segera memakannya dengan diam. 


Usai makan dan membayar, Vano mengajak Bintang kembali ke hotel.


Sesampainya di hotel Vano bergegas menghempaskan tubuhnya ke atas tempat tidur sedangkan Bintang meletakan barang belanjaannya dimeja.


"Capek ya, Kak?" tanya Bintang yang duduk di samping Vano.


"Sedikit," jawab Vano tersenyum.


"Apa mau aku pijat?" Bintang menawarkan diri untuk memijat Vano.


"Apa kamu bisa memijat?" tanya Vano dengan ragu.


"Bisa, karena di rumah  aku sering memijit Nenek!" Jelas Bintang.


"Baiklah, kau pijat aku dulu, nanti gantian aku yang pijitin kamu." 


"Sekarang buka bajunya, aku akan mengambil pelembab dulu!" 


"Untuk apa pelembab?" tanya Vano mengerutkan keningnya.


"Karena kita tidak punya minyak urut jadi kita bisa mengunakan pelembab untuk memijat."


"Siapa yang mengajarimu seperti itu?" tanya Vano dengan heran.

__ADS_1


___


Bersambung...


__ADS_2