Cinta Bintang

Cinta Bintang
Kepanikan Bintang


__ADS_3

"Semenjak aku memutuskan untuk menjadi guru dan tinggal di sini, semua fasilitas yang aku punya dibekukan, kecuali jika aku mau meneruskan bisnis keluarga."


"Aku salut denganmu, Bi! Demi meraih cita-cita kamu rela meninggalkan fasilitas mewah yang diberi oleh orang tuamu! Semoga kamu sukses dan bisa meraih apa yang kamu inginkan!"


"Aamiin!"


Bintang hanya mengamini apa yang dikatakan oleh Vano.


'Andaikan kamu tau Kak, aku meninggalkan semuanya bukan semata-mata untuk menjadi seorang guru. Aku merelakan semuanya demi ingin meraih cintamu, namun kamu hanya menjadikanku seorang teman, tidak lebih dari itu. Aku tidak menyerah dan akan terus berusaha agar kamu bisa mencintaiku!' batin Bintang.


"Bi, kenapa melamun?" tanya Vano, yang melihat Bintang melaman.


"Oh, tidak! Ayo kita makan! Sebentar lagi jam istirahat selesai dan kita harus kembali mengajar!"


"Ya."


Mereka berdua mulai makan bersama, meskipun bekal yang Bintang bawa terasa hambar, namun Vano tetap memakannya hingga habis tidak tersisa. Ia tidak ingin membuatnya kecewa dengan tidak memakan bekal yang diberikan padanya.


Bintang kembali memasukan kotak bekal ke dalam tas, kemudian ia menyiapkan buku pelajaran.


"Kak, ayo kita masuk kelas," ajak Bintang.


"Kamu duluan saja," jawab Vano sambil melihat ponselnya yang dari tadi berdering dan tertera nama Havivah di dalam ponselnya.


"Baiklah, Kak!" jawab Bintang tersenyum.


Setelah kepergian Bintang barulah Vano menerima panggilan dari Havivah dan berbicara dengannya.


Hanya lima menit Vano berbicara dengan Havivah dan sekarang ia sudah menutup panggilannya, kemudian bergegas pergi mengajar.


Usai mengajar, Bintang langsung pulang, karena tadi Ahmad pulang duluan setelah mendapatkan kabar jika Ami sakit.


Dengan cepat Bintang melangkahkan kakinya agar segera sampai rumah.


Dari arah belakang Vano menghentikan motornya tepat di samping Bintang.


"Bi, kok sendirian? Mana Kakek?" tanya Vano.


"Kakek pulang duluan, Kak!"


"Tumben, Kakek tidak menunggumu?" heran Vano.


"Nenek sakit, jadi Kakek pulang duluan!" jelas Bintang.


"Ya sudah, ayo aku bonceng," ajak Vano.


Tanpa banyak bicara lagi, Bintang segera naik ke atas motor dan melingkarkan tangannya di pinggang Vano.


Setelah Bintang naik, Vano segera menjalankan motornya menuju rumah Ahmad.


Sesampainya di depan rumah, Bintang langsung turun.

__ADS_1


"Terima kasih, Kak. Sudah mau mengantarkanku pulang! Aku masuk dulu!"


Belum sempat Vano menjawab, Bintang sudah berlari masuk ke dalam rumahnya.


"Ah, Bintang pasti cemas mangkanya dia langsung berlari," gumam Vano, kemudian ia kembali menjalankan motornya pulang ke rumah.


Bintang yang baru saja masuk langsung menghampiri Ami yang ada di kamar bersama dengan Ahmad.


"Kakek, bagaimana keadaan Nenek?" tanya Bintang dengan cemas.


"Nenek kamu tadi pingsan dan dokter menyarankan untuk membawanya ke rumah sakit agar mendapatkan perawatan yang intensif," jelas Ahmad.


"Kalau begitu, ayo kita bawa ke rumah sakit," ajak Bintang.


"Kakek belum gajian Bi, jadi kita tidak bisa membawanya ke rumah sakit," ucap Ahmad dengan sedih.


"Masalah biaya Kakek tidak perlu khawatir, nanti biar Bintang yang mengurusnya. Sekarang Kakek bersiaplah aku akan mencari bantuan agar nenek bisa di gendong sampai dijalan raya."


"Baiklah, Kakek akan bersiap dan kamu cepatlah kembali," pesan Ahmad.


"Iya, Kek!"


Bintang keluar dari kamar, kemudian ia berlari menuju rumah Vano yang tidak jauh dari rumahnya.


Sesampainya di sana, Bintang langsung menghampiri Harun dan Vano yang kebetulan ada di teras.


"Pak RT, Kak Vano, tolong Nenek!" ucap Bintang dengan nafas yang ngos-ngosan.


"Tenang Nak, sekarang katakanlah, ada apa?" tanya Harun yang berdiri dari duduknya.


"Baiklah, ayo kita berangkat," ajak Harun setelah ia mendengarkan penjelasan Bintang.


"Bapak dan Kak Vano, bantu saja Kakek. Aku akan mencari taksi di jalan raya."


"Biar Vano saja yang cari taksi kita ke rumah kakekmu saja," usul Harun, ia kasihan jika Bintang harus berlari kesana-kemari.


"Baik, Pak!" jawab Bintang menganggukkan kepalanya.


Setelah Harun berpamitan dengan Salma istrinya, ia segera berangkat.


Kini Bintang berjalan bersama Harun menuju rumah Ahmad sedangkan Vano menaiki motornya mencari taksi di jalan raya.


Sesampainya di rumah Bintang segera menyuruh Harun masuk ke dalam kamar Ahmad, disana Ami sudah mulai susah bernafas.


"Pak, biar saya yang menggendong."


"Terima kasih."


"Sama-sama, Pak!" jawab Harun sambil membopong tubuh Ami.


Harun membawa Ami ke jalan raya diikuti oleh Bintang dan Ahmad dari belalang.

__ADS_1


Sesampainya di jalan raya Vano sudah mendapatkan taksi. Dengan cepat Harun membawa Ami masuk ke dalam taksi begitu pula dengan Ahmad.


"Bi, kamu naik motor saja denganku, biar Kakek sama Ayah yang naik taksi," ajak Vano, karena taksi yang mereka tumpangi tidak muat untuk berempat apalagi jika Ami dibaringkan di kursi.


"Baik, Kak!"


Setelah taksi berjalan barulah Bintang naik ke atas motor Vano.


Dengan segera Vano menjalankan motornya mengikuti taksi yang ditumpangi Ahmad dari belakang.


Sesampainya di rumah sakit Ami segera dimasukan ke ruang IGD, selagi Ami ditangani oleh dokter. Suster menyuruh Bintang untuk segera menyelesaikan administrasi.


Bintang ditemani oleh Vano kekasih untuk mengurus semuanya.


Namun sebelum mereka sampai di kasir Bintang membuka map yang sudah ada total biaya yang harus dibayar.


"Ya Tuhan ... tiga juta lima ratus ribu!" pekik Bintang kemudian ia menutup mulutnya.


"Kenapa Bi? Apa uangmu kurang?" tanya Vano yang melihat Bintang kaget saat melihat total biaya yang harus dibayar.


"Iya, Kak," jawab Bintang menganggukkan kepalanya.


"Kamu bisa memakai uangku dulu."


"Tidak perlu Kak," tolak Bintang.


"Kenapa?"


"Aku akan menelpon Ayah, supaya kartu kredit aku bisa diaktifkan kembali."


"Ya, kabarilah orang tuamu, siapa tau mereka juga akan kemari setelah mendengar kabar darimu."


Bintang mengambil ponselnya dari tas selempangnya dan menghubungi Kenzo, namun sudah tiga kali panggilan, ayahnya itu tidak juga mengangkat panggilannya.


"Aduh, ayah kemana sih! nggak diangkat-angkat!" kesal Bintang bercampur dengan rasa panik.


"Sabar Bi, mungkin beliau sedang meeting atau sibuk jadi tidak bisa mengangkatnya," ucap Vano mencoba menenangkan Bintang.


"Aku akan telpon Bunda saja, Kak! Siapa tau diangkat."


Ya, cobalah."


Baru saja Bintang hendak menekan nomor telepon Tea, tapi ponselnya sudah terlebih dulu berdering.


Bintang segera mengangkat ponselnya setelah mengetahui jika yang menelponnya Kenzo.


"Halo, Ayah," ucap Bintang setelah ia berhasil mengangkat panggilan dari Kenzo.


"Halo Bi. Ada apa?" tanya Kenzo dari seberang telepon sana.


"Nenek sakit dan kakek tidak punya uang untuk membayar biaya rumah sakit, sedangkan uangku tidak cukup. Tolong Bintang, Ayah, kasihan nenek."

__ADS_1


"Sekarang kamu ada di mana?" tanya Kenzo dengan nada cemas.


"Aku ada di rumah sakit, Ayah!"


__ADS_2